Pages

Showing posts with label Curhat colongan. Show all posts
Showing posts with label Curhat colongan. Show all posts
Friday, December 28, 2018

Bye 2018, WELCOME 2019!

Fresh-Make-Up-Look-Nona-Hitam-Pahit

New Year 2019 is around the corner. Berasa ngggak sih waktu semakin cepat berlalunya? Kalau kayak gitu jadi bikin mikir, what I’ve done so far? Banyak hal terjadi dalam beberapa bulan belakangan ini. Dari mulai dapat projek di akhir tahun, dipercaya untuk jadi beauty training program consultant of international brand, melahirkan produk skincare, keep going somewhere I’ve never been before, dan kehilangan.

Wednesday, November 6, 2013

Cintanya mengalir…





Note: tulisan ini telah dibuat tahun lalu. Tapi belum sempat diposting...



Sebelum membaca lanjut tulisan ini, harap menonton video dibawah ini ya ^_^






Sunday, January 20, 2013

Christina Perri ft. Steve Kazee- A Thousand Year


At the end of the day, when it comes down to it, all we really want is to be close to somebody. So we pick and choose who we want to remain close to, and once we've chosen those people, we tend to stick close by. The people that are still with you at the end of the day, those are the ones worth keeping. And sure, sometimes close can be too close.



Monday, December 31, 2012

New Year Eve 2013


picture taken from http://bit.ly/VrRmIW

Entah kenapa ketika menyebutkan kalimat tersebut saya langsung merasa seperti Carrie dalam film Sex and The City part.1. Ya memang, kehidupan saya tidak se-extravagan si Carrie. Tapi saya merasakan kesendirian Carrie. Entahlah. Hanya sebuah rasa yang akan menguap seiring pergantian tahun.


Tuesday, June 12, 2012

Ceritaku...


Hai, apa kabar? Sudah lama sekali saya tidak menulis. Kangen banget! Kerjaan terakhir saya sungguh amat menyita waktu. Karena memang saya pun masih belajar untuk pekerjaan saya sekarang. Seperti bayi yang belajar merangkak perlahan, mengenali sekeliling, bagaimana menentukan pilihan yang terbaik. Seperti itulah pekerjaan saya sekarang.

pict. taken from http://bit.ly/dydBsi

Pekerjaan saya ini tentunya jauh dari comfort zone, tapi saya menyukainya.
Tuesday, April 24, 2012

Menulis itu SUSAH!

picture taken from http://bit.ly/Jz5mGO
 Saya mulai menulis lagi. Kali ini saya sudah membulatkan tekad untuk menyelesaikan cerita yang sudah dimulai. Bertahun-tahun saya biarkan hingga kehilangan momen untuk melanjutkan. Rasa malas begitu menggelayut manja acap kali saya beradu pandang dengan laptop. Sembari menyesap teh dari cangkir keramik dengan kepulan asap yang menari diatasnya,
Thursday, March 15, 2012

Hidup itu indah, bro!


picture taken from http://bit.ly/btJep4
Dalam pembukaan ini gue ingin berterima kasih atas karunia Tuhan yang nggak henti-hentinya mengalir ke hidup gue. Dan terima kasih atas pembelajaran berharga dan proses pendewasaan yang hadir tiap saatnya. Tuhan, makasih banget!

Bahwa dari segala kejadian ataupun musibah ada pelajaran berarti yang terselip. Dan sangat berterima kasih karena itu semua sekarang aku telah menjadi pribadi yang lebih kuat, tegar, mandiri. Terima kasih karena Tuhan nggak pernah ninggalin disaat baik hingga terburuk sekali pun. Terima kasih, karena Engkau memberikan kekuatan yang luar biasa hingga aku bisa bertahan ya, Tuhan. Dan terima kasih selalu diterangi jalan dan langkah. Bahwa didalam kebenaran-Mu dan keyakinan aku terus melangkah, pasti. Terima kasih di saat aku kehilangan semuanya, Engkau tidak sedikit pun meninggalkanku, atau pun lupa. Tapi Engkau memperlihatkan kebenaran, ketulusan, dan arti dari kasih.


Terima kasih Engkau memberikan penglihatan untuk melihat kebaikan-kebaikan yang terjadi di sekelilingku. Tidak, kejadian tidak enak bukan untuk disesali. Tapi untuk pembelajaran ke depan agar tidak diulangi dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, serta bijak. Dan terima kasih bahwa Engkau selalu mengetuk dan menyadarkanku bahwa kita hidup tak sendirian. Bahwa hati nuraniku belum mati. Masih tertegun melihat miris kehidupan orang-orang yang jauh tidak beruntung dariku. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Engkau selalu memberi warna. Terima kasih juga selalu mengingatkanku ketika aku silap atau lupa. Engkau di sana, menuntun dan membimbingku. Biarkan aku bersandar pada-Mu, mengandalkan-Mu.

Dan Engkau membuatku selalu bersyukur walau keadaan itu tidak sesuai harapan. Engkau mengajarkanku menerima dan menikmati semua yang terjadi di dalam kehidupan ini dengan hikmat dan kesabaran. Karena kehidupan ini akan indah pada waktunya.
Thursday, August 18, 2011

Lovely Love!


-->
Beberapa pekan lalu gue ketemu mantan gue. Mantan pertama gue, kebetulan dia muslim. Hampir setahun kita putus kontak. Dan sehabis lebaran kemarin gue sempet berusaha menjaga silaturahmi dengan dia dengan mengucapkan selamat. Dan mantan gue, kita sebut dia A aja yah biar gampang. Waktu kita pacaran itu kisaran 6 bulan.

Umurnya dia itu 26 tahun. Dan dia siap lahir batin untuk mencari isteri. Itu di mana jadi pertimbangan gue akan kelangsungan hubungan kita. Nggak gue doang sih, dia juga. Secara gue masih muda, masih umur 19 tahun saat itu. Nggak mungkin juga gue nikah muda. Gila sih itu! Hubungan kita kandas gitu aja karena komunikasi yang buruk pada akhirnya, akibat pembicaraan beda agama dan keluarga, dll. Setelah putus sempet gue yang sedih, ngambek juga sih. Hehehe… anak-anak banget deh. Ok, stop it!
Kita lanjut di mana akhirnya gue ketemuan sama dia. Gue lupa persisnya kapan, pas lagi di kantor sih intinya. Tiba-tiba dia ngontak gue via YM. Dia nanya kabar gue, dan ngabarin kalau sekarang dia udah pindah kerja. Di perusahaan IT di bilangan Kuningan. Tepatnya di Setiabudi One, itu tempat kali pertama kita bertemu. And you know what? He still remember all our memories!

Setelah ngalor ngidul ngomongin masalah kabar, kerjaan, aktivitas, dia bahas dong itu! Dia bahas apakah gue masih inget awal ketemuan kita? Gue waktu itu jawab sekenanya aja, agak males sebenernya mengingat walau sebenarnya masih jelas banget itu semua. Dan dia bilang, aku nggak pernah lupa awal kita ketemu. Kamu yang bawain aku makanan, masakin sendiri buat aku. Oh damn! Just too sweet. Gue terharu dengan kata-kata dia yang emang manis, menurut gue yah. Hahaha…. Pengakuan dia nggak akan pernah lupa membuat gue ngerasa at least waktu itu, emang gue berarti buat dia. Those relation real happened for him, and for me.
Dan dia cerita sejak dia putus dari gue belum nemuin pengganti sampai sekarang. Goodness! I’m sorry I already had another person to replace you and its end up too. Gue ngerasa dosa yah waktu dia bilang gitu sama gue. Gue ngerasa iblis banget dalam 6 bulan setelah kita putus gue udah nemuin pengganti dia. Dan sekarang setelah ngobrol sama dia, gue kasih tau gue udah pacaran lagi dan putus. Itu rasanya ngeneees banget! Tapi ya udahlah, udah lewat.

Sampai akhirnya dia minta ngajak ketemuan. Dia bilang pengen ngobrol sama gue. And we made it. Janjianlah kita ketemu di Plaza Semanggi. He still the same one that I ever knew. Nggak ada perubahan berarti kecuali melihat dia dalam setelan kantor. Karena dulu dia bekerja di tempat yang nggak mesti pakai baju kantoran, cuma jeans sama atasan seragam.

Aaargh, he is someone ever be my history, part of my life. Still my lovely Javanese man. Hahaha…norak deh gue. Tapi cara pandang gue waktu itu nggak seperti gadis remaja kegirangan ketemu pangeran berkuda putih. Malah saat gue akhirnya ngeliat dia setelah setahun lamanya kita nggak pernah ketemu, I knew it. Gue benar-benar menganggapnya teman, malah mungkin kategori teman dekat. Nggak lebih. Dan gue amat sangat senang dengan perasaan itu. Gue berbinar, tersenyum hangat. Karena gue seneng banget bisa bersahabat dengan mantan gue. Asli, perasaan itu sangat gue nikmati.

Oh iya, kita menuju restoran dan duduk berhadapan. Pesan makan, seperti biasalah kalo orang ke restoran. Dan selama itu, kita ngobrol banyak. Dia cerita dia deket sama perempuan, gadis Semarang. Dia juga nunjukin fotonya, nggak cantik. Kayak bisa baca pikiran orang, dia nyeletuk ‘Emang nggak cantik. Kamu tahu sendirikan, aku kalo cari pacar nggak berdasarkan fisik.’ Gue malu sendiri. Antara berasa kepergok mikir begitu, sama berasa kalau gue berarti termasuk yang jelek dong yah? Tapi seneng juga sih. Berarti dia menilai gue termasuk perempuan yang baik. Ahiy!
Mari lanjut, dia bilang bahwa perempuan itu pernah disakitin sama mantannya dan masih membekas. Dia belum bisa membuka diri ke mantan gue ini. Gue simpati dengan ceritanya. Secara gue tau rasanya gimana karena mantan gue yang terakhir itu cukup membuat gue sedih banget. Ok, jangan ditanya gimana endingnya gue berhasil bangkit. Kapan-kapan aja yah.
Setelah dia menceritakan kehidupan dia selama setahun kebelakang dan terakhir dia  deket sama siapa. Si A bertanya sama gue, beralih ke gue. Dia nanya gimana gue sama mantan gue terakhir ceritanya. Jleb! Diotak gue kayak ada bayangan hitam putih yang berseliweran. Butuh waktu untuk mencerna pertanyaan dia dan menjawabnya. Ya, gue curhat sama mantan gue ini. Setelah kelar cerita, dia nanya, rasanya sakit banget pasti ya? Gue bingung. Dan gue jawab, ya gitu deh. Dia timpali sekali lagi, 'pasti sakit banget yah. Secara perempuan yang aku deketin ini aja disakitin begitu sama mantannya, sampai susah buka hati. Kalau nggak sakit banget pasti kan nggak mungkin yah.'
Mungkin saat itu dia jadi berkaca, mendengar cerita gue. Dan ngebayangin kejadian itu ke perempuan yang dia lagi deketin ini. Jujur gue bilang sama dia, sakit itu ada. Trauma itu ada. Apalagi nggak mungkin banget dilupain. Dan gue cuma belajar untuk mengikhlaskan dan memaafkan dirinya dan diri gue sendiri. Lalu tiba-tiba aja dia yang minta maaf ke gue, maaf kalau hubungan kita harus berakhir. Dan maaf kalau dia udah nyakitin gue. Gue kontan bengong yah, bo! Secara kalau direview, dia itu mantan gue yang baik. Nggak ada cela deh. Paling cuma cuek dan sibuk. Udah, manusiawi. Sisanya dia baik. Malah gue mikir-mikir, kayaknya dulu gue sering banget bertindak kekanak-kanakan ke dia. Dan gue berterima kasih banget dia bisa nerima gue apa adanya, dengan segala buruk baiknya gue. Well, then I said thanx to him for all happened. Gue bersyukur atas kebaikan dia, kesabaran dia. Gue minta maaf kalau gue melakukan banyak kesalahan dan too childish. Hehehe…. I said it to him from bottom of my heart. Nggak tahu dapet keberanian darimana gue memuntahkan semua kata-kata itu. Gue juga akhirnya curhat masalah kerjaan gue, kehidupan gue yang kurang lebih selama setahun kebelakang ini cukup porak poranda dan struggle.
Setelah obrolan panjang malam itu, kita say good bye tapi tetep keep in touch. Tapi ada lagi yang membuat gue tersentuh dan terenyuh. Dia berkata, kamu itu orangnya baik. Kamu baik banget. Hmm… bukannya lebay atau apa. Gue terharu! Asli! Twice he did and said nice things. Gue sampe merasa tersanjung dan malu. Masa sih? Selama ini gue merasa gue jauh dari baik. Dan, pantes nggak sih gue dibilang gitu? Atau dia aja yang lebay? Ok, intinya gue sangat terharu dan merasa hangat. Gue ngerasain tulus ketika dia mengatakan itu semua. Gue tersenyum. Gue bahagia banget ngeliat mantan gue sekarang bahagia.
Sejak itu gue jadi berpikir. Flash back. Belajar. Bahwa perasaan yang nggak bisa gue jabarin dengan kata-kata apalagi rumus matematika ini kalau gue bahagia. Gue ngerasa damai, tenang. Dan nyaman! Lo nggak ngerti rasanya gimana sampai lo ngerasain sendiri. Kebahagiaan tersendiri yang nggak bisa gue jelasin deh. Gue jadi mikir banget, nggak seharusnya gue benci sama mantan gue terakhir, apalagi sampe dendam. Sakit pasti, itu udah berulang kali gue ucap. Tapi gue harus belajar dan liat sisi positifnya.
You know what, I got it. Banyak sisi positifnya lho! Gue jadi belajar nggak ngandelin, atau ngarepin orang. Gue jadi bisa melihat bahwa banyak peluang bagus menanti gue. Masa depan gue. Terlalu dini hanya diem kayak orang bego di kotak hitam yang lo buat sendiri, bersedih. Kenapa juga gue nggak berusaha untuk bersahabat dengan mantan gue yang terakhir? Kita ini hidup untuk menebar kasih kan? Bukan munafik, tapi lebih mudah nyari musuh ketimbang temen! Believe me. He ever be apart of my life, dan pastinya atas seijin Tuhan. Nggak ada yang namanya kebetulan. Dengan ini mungkin Tuhan ingin mengajarkan gue untuk menjadi sosok yang lebih kuat, dan mengenal kepribadian orang yang macem-macem jenisnya. Mungkin juga maksud Tuhan untuk mempertemukan gue dulu dengan wrong person before let me meet up the right one at the right time? Sebenernya balik lagi ke diri kita, ikhlas nggak kita untuk melepas semua masa lalu menjadi bagian kita dibelakang? Bukan untuk dilupain lho, tapi bersahabat dengan rasa sakit itu sendiri.

NB: Last time I heard about him, he already in relationship with that girl. And preparing all his future with her!

August 18th, 2011
Sunday, March 29, 2009

(lanjutan) Coretan hati.... Ah, lebay!

Dosa para cewek-cewek juga yang terlalu picky. Inget, dengan lo ngasih patokan standar GANTENG setinggi itu, ngebuat lo secara langsung nggak langsung jadi orang yang PEMILIH. Mau bela diri lo? ‘Ya kan, hari gini pantes dong kita milih. Kita kan nggak mau dapet lelaki brengsek. Emangnya lo mau?’ Gue nggak mau. Siapa juga yang mau. Orang gila! Tapi tolong lo liat definisi GANTENG lo itu, terlalu tinggi. Terlalu ngimpi, malah. Tuhan udah mempersiapkan manusia itu berpasangan. Lo tinggal tunggu aja lawan jenis yang emang udah jadi takdir lo. Nyokap gue selalu berpesan, “Nak, kamu jangan matok tinggi-tinggi kalo suka sama orang. Karena pada dasarnya tiap manusia itu dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan. Siapa pun dia, kamu harus bisa menerima dengan ikhlas. Jangan menuntut lebih dari yang bukan padanya. Kamu nggak berhak atas manusia. Oleh karena itu juga kamu nggak berhak mengkotak-kotakkan orang. Sebab Tuhanlah yang berhak akan semua yang ada. Yang penting dia itu baik, rajin, dan mau nerima kamu apa adanya.” Itu adalah petuah nyokap gue yang selalu gue ingat.
Dosanya para lelaki adalah terlalu mengangan-angankan wanita CANTIK. Padahal semua wanita diciptakan nggak kayak gitu. Lagian, ngaca dululah, mas! Lo juga manusia biasa. Lihat dengan mata kepala lo. Banyak wanita kurus, tapi kulit hitam, muka berjerawat, pendek. Ada juga wanita cebol, putih, gendut, mulus. Atau wanita tinggi, jerawatan, geek, rambut gimbal. Dan masih banyak contoh-contoh yang nggak bisa gue sebutin semuanya karena terlalu banyak jenis cowok cewek di dunia ini. Tapi satu yang mereka punya; hati, otak, dan kepribadian. Eh, itu lebih dari satu, ya? 3 malahan.
Wanita yang terkenal lebih main perasaan dibanding logika inilah yang banyak goyahnya. Mereka jadi agak tertarik untuk mengubah diri menjadi definisi cantik itu dengan penuh perjuangan. Jalan sesulit apapun mereka korbankan. Makanya terkenal dah tuh istilah-istilah bulimia atau anorexia nervousa. Kenapa kalian –lelaki—nggak pernah berusaha untuk melihat bahwa mereka juga wanita. Lebih wanita dari pada wanita-wanita jalang yang memamerkan keseksian tubuh. Mereka hidup dan ada di dunia ini. Tuhan menciptakan mereka. Begitu pula sebaliknya, kaum kalian juga nggak sesempurna itu. Ada yang bopengan, tampang mas-mas tengil, pendek. Atau putih, tinggi, idung pesek. Dosa perempuan yang terlalu di’buta’kan media yang memaparkan definisi ‘GANTENG’ itu. Liat ya, liat. Liat ampe mata lo semua melotot. Lo hidup nggak sendiri. Manusia beragam. Dengan berbagai wujud dan sifat. Terima diri lo apa adanya dan mulai menerima orang lain sebagaimana lo menghargai diri lo sendiri.
Mereka kaum yang nggak sesuai definisi ‘CANTIK’ dan ‘GANTENG’ itu punya perasaan lho. Mereka bisa juga sakit hati. Emangnya lo pikir di dunia ini elo doang yang punya hati? Yang bisa sakit hati? Mereka merasa terpojok dan nggak dianggep. Dan mereka diolok-olok karena mereka tidak sesuai dengan definisi ‘CANTIK’ atau ‘GANTENG’ tersebut. “AA pendek... AA pendek....” Itu contohnya. Itu nyata dan terjadi nggak hanya dikalangan dewasa tapi sudah sejak dini, anak kecil. Ngaku aja, sering kan lo denger hinaan itu sejak lo masih pake baju putih merah? Apa jangan-jangan, lo adalah salah satu orang yang ikut ngatain? Paarraaahh!! Atau, “BB item... BB item....” Nah, emang salah kalo dia dilahirin kulit item? Emang salah kalo dia dilahirin pendek? Dan salah juga, kalo dia dilahirin sipit? Itu Tuhan yang ngasih lho. Kenapa lo nggak pernah salahin Tuhan karena ngasih si AA ama BB dengan wujud kayak gitu? Kenapa harus dia-dia itu yang lo ejekin? Inget, apa yang dikasih Tuhan tuh anugerah. Bagus lo dikasih panca indera lengkap. Bersyukur tuh! Bagus juga dikasih idup sama Tuhan.
Itu semua yang terkadang melatarbelakangi seseorang menjadi psikopat, pembunuh, dsb. Karena gunjingan orang yang datang dari berbagai arah. Mungkin lo akan berpendapat, Itu salah orangnya kenapa nggak berusaha tahan diri atau cuek aja? Itu bukti kalo lo itu makhluk egois! Individualistis tanpa mikirin perasaan orang lain. Jawaban gue adalah, mereka berusaha. Sangat berusaha. Tapi apa lo semua bisa menutup mulut kotor lo untuk tetap tidak mencela kaum minoritas itu? Karena emang begitu kenyataan yang gue liat. Walaupun sekuat apa mereka membuktikan keeksistensian diri mereka dengan prestasi, de... es... be.... Tapi teteeeep... aja mereka semua lo anggap kecil dan hanya bagai kuman dipelupuk mata. Itu salah besar. Malah mereka lebih worth ketimbang lo semua. Bukan berarti gembel itu gembel, kan? Malah gembel bisa jadi pengusaha. Mereka berusaha setengah idup setengah mati tapi tuh mereka kayak lagi teriak kenceng-kenceng di gurun Sahara. Gue cukup banyak ketemu orang yang dianggap kaum terasing itu. Sungguh mereka itu adalah pribadi yang ngebuat gue takjub. Gue bisa ngeliat dengan mata telanjang gue (hehehe... emang selama ini mata gue pake baju, ya?) bahwa mereka memiliki keindahan tersendiri yang nggak bisa ditandingi dengan kecantikan atau ketampanan fisik semata. Di saat itu gue makin merasakan kebesaran Tuhan hadir. Sungguh nyata! Eh, kok kata-kata gue udah kayak buku rohani aja, dah!?
Dan gilanya adalah manusia kadang nggak pernah puas, ya? Mata sipit gitu pake dioperasi segala biar ada lipetan. Apa namanya lo bersyukur sama Tuhan? Buka mata lo, masih banyak di luar sana yang punya lipetan mata, tapi matanya buta. Mau lo ngegantiin posisi dia? Orang mah punya duit lebih buat bantu yang buta itu supaya kali-kali aja bisa ngeliat lagi. Kan bagus banget itu. Jadi lo bisa bersama-sama menikmati keindahan dunia. Eeh... malah sibuk sendiri buat supaya keliatan canntttiiikkk... mulu. Itu baru satu. Yang lainnya lagi nih. Kulit item. Orang bule bilang kalo kulit item tuh ekostis! Sexy... gitulah katanya. Tapi orang Indonesia yang notabene-nya berkulit sawo matang atau item, mbok ya eling toh. Malah dengan bodohnya pake ngeluarin duit jutaan buat sekali suntik cairan yang nggak jelas kimianya aman apa kagak buat badan jangka panjangnya, supaya kulit jadi putih kinclong! Nah... nggak syukur kan lo? Gaya-gayaan aja rajin ke tempat ibadah. Tapi sih kelakuan nggak sesuai. Malu lo! Gue selalu menekankan, apa yang terjadi dalam hidup lo tuh adil seadil-adilnya. Itu terjadi karena kehendak-Nya. Dan pasti ada maksud dibalik semua itu. Kenapa sih lo selalu ngerasa kecil ati, “Duh, gue nggak secantik si A deh.” or “Hehm... kayaknya gue kurang cakepan nih.”
Atau, mari sekarang kita mengandai-andai untuk cewek ya. Buat laki, tinggal ganti aja subjeknya sesuai jenis kelamin lo-lah. Awalan proyeksi pita film menggambarkan ketika lo lagi duduk bengong sendirian kayak orang bego di pinggir jalan, terus nggak sengaja lo ngliat ada cewek cantik bener tampangnya. Lo langsung ngiri. Pengen kayak dia. Terus dia ngelewatin lo sambil tersenyum, lo ngebales sambil mata tetep mantengin dia. Eh, lo liat kakinya cacat. Apa yang lo pikir? Lo langsung liat kaki lo dua-duanya masih lengkap, utuh tanpa cela sedikit pun! Abis itu lo bediri, jalan-jalan buat ngliat-ngliat sekitar. Nggak sengaja lo tabrakan ama laki ganteng. Waduh... cakep bener nih cowok. Abis itu lo mikir, coba gue punya pacar kayak dia.... Iya, kan? Nah, elo pasti basa-basi minta maaf sama dia, begitu pun sebaliknya. Terus dia bilang bukan elo yang salah, dia yang salah. Dia bilang elo orang baik, dia seneng ketemu lo. Karena elo orang yang rendah hati yang mau maapin ditabrak orang buta kayak dia. Apa yang lo pikir pas tau dia buta? Terus elo jalan lagi nih, sampai akhirnya elo tiba di sebuah taman. Di salah satu bangku yang ada di taman itu, elo liat anak kecil duduk sendirian sambil ngeliatin anak-anak yang lain lagi pada sibuk maen bola. Elo tertarik kan pastinya buat nanya, Kenapa kamu nggak gabung ikut main sama mereka? Dia cuma bisa diem natapin lo. Karena apa? Dia budek. Nggak bisa denger. Bahasa alusnya, tuli. Intinya gue cuma mau bilang sayanginlah badan lo itu. Lo punya sepasang kaki yang bisa membawa lo pergi ke mana pun, ke tempat-tempat yang bagus. Punya mata untuk melihat yang indah-indah bukan kerjaannya ngeliatin bokep mulu, punya kuping untuk mendengar yang merdu-merdu, yang baik-baik, dan yang emang pantes lo denger. Punya kedua tangan untuk melakukan kebaikan, menolong orang, bukannya ngejerumusin diri buat nolongin orang! Malah, jadi tangan ‘nakal’.
Itu tadi baru beberapa orang cacat yang gue jabarin. Intinya nih, walau mereka cacat, tapi hati dan otak mereka nggak cacat. Mereka malah bangga dengan cacatnya mereka. Cacat bukan penghalang untuk berkarya. Dan cacat nggak ngebuat mereka jadi orang yang egois, minta dikasihani. Dan perbuatan mereka NGGAK cacat. Gue malu lho kalah sama mereka. Lo sendiri gimana? Apa emang udah nggak punya urat malu, ya? Apa urat malu lo udah dijadiiin tali kolor? HA~HA~HA. Orang-orang cacat kayak gitu malah lebih tahan banting dan jago dari lo. Buktinya... mereka bisa nyari duit walau badannya nggak selengkap lo. Nah elo? Bisanya ngelel sama orang tua. Nyusaaahhhiinnn... mulu kerjaannya. Sedikit cerita kalo emang lo tau atau sudah tau. Ada perkumpulan orang cacat. Cacat di sini itu kagak punya kaki atau tangan. Tapi mereka itu lebih unggul dari lo! Mereka bisa ngehasilin lukisan yang keren abis! Dan itu bisa dijadiin penghasilan buat mereka. Itu salah satu kelebihannya. Belom lagi mereka itu tahan ati dihina orang atau direndahin. Gue yakin 100% nggak semua orang bersikap amat welcome atau nerima mereka apa adanya. Mungkin adalah dari lo-lo pada yang kagak milih-milih. Tapi... as i say, nggak semua. Walau kata mereka digituin, tetep mereka lapang dada dan sabar. Beda banget ya sama lo pada, dihina dikit aja... penghuni kebon binatang atau nggak kelamin orang lo sebut-sebut. Sebenernya lo itu orang berpendidikan nggak sih? Atau sebenernya play group kagak tamat? Atau... kagak sama sekali? Waduh! Pantess...! bahasa Indonesia kagak lulus. Mesti belajar tuh dari awal.
Kita dikasih otak buat mikir, bukan buat nyusahin diri sendiri apalagi orang lain. Makanya gue nyengir kuda ngeliat orang normal, tapi perbuatannya cacat. Kayak lo lo itu. Yang hanya bisa ngeliat orang dari penampilan luar. Kagak mau ke’dalem’nya. Puas lo udah banting tulang jungkir balik buat diri lo keliatan ‘CANTIK’ dan ‘GANTENG’? Pada akhirnya lo capek sendiri. Bahwa kenyataannya elo udah jadi orang lain. Bukan diri lo sendiri lagi. Sedikit gue minta isi otak lo dari kapasitas yang segitu gedenya buat mikir sebentar. Sebentar... aja. Apakah lo pada pernah mikir kelakuan lo secara nggak langsung telah mematikan karakter orang tersebut? Atau, potensi orang tersebut? Pasti nggak! Gue jamin! Garansi berjuta persen!! Jangan melakukan semuanya serba spontanitas tanpa mikir. Kalo lo mikir, nggak mungkin dengan mudahnya lo ngomong kotor di mana aja, ke siapa aja, dan kapan aja. Kalo lo mikir, nggak mungkin lo melakukan tindakan-tindakan gila. Pengen gue cuci deh mulut lo pada pake air sabun biar bisa berhenti ngomong jorok atau ngehina orang. Itulah mengapa gue capek ketemu dengan orang-orang yang malah ngebuat dirinya tampak ‘standart’. Lebih milih gue nemuin orang cacat yang masih punya hati dan otak, serta kreasi. Dibanding orang lengkap sempurna kayak lo, tapi sayang... huh... ha... ha... perpaduan hati, otak, kelakuan, terdiagnosis CACAT!
Friday, March 6, 2009

CINTAKU KEPENTOK HOMO....

He... He... He.... Judul di atas tidak bermaksud menimbulkan kontroversi lho. Tapi memang kenyataan cinta gue kepentok homo!

photo taken from google.com


Arrrgghhh... kisah berawal waktu SMA gue naksir berat ngeliat muka guru les Inggris gue yang native Portugal. Kita panggil dia si T. Wuiiihhh... ngeliat dia udah kayak ngeliat dewa Yunani. Matanya bagusss... banget! Biru keabu-abuan. Tiap gue ngeliatin matanya, rasa-rasanya hati gue damai dan tentram banget. Belom lagi hidungnya yang mancungnya tuh pas banget sama wajah latinnya. Tinggi badannya proporsional layaknya orang bule pada umumnya. Makanya gue rajin banget dateng les. Malah dateng setengah jam lebih awal dari jamnya. Temen gue suka kaget karena rajinnya gue dateng di mana kelas masih sepi. Gue cuma bisa senyum aja. Pada nggak tau sih dibalik kerajinan gue. He... he... he....

Hari-hari les gue begitu menyenangkan. Walau sebenarnya guru gue itu galaknya setengah mati. Tapi teteepp... itu nggak buat senengnya gue ngeliat muka dia jadi ciut. Kadang malah gue pikir, maksud dia baik untuk mendisiplinkan kita-kita biar nggak telat masuk kelas, biar nggak ngobrol sendiri-sendiri, dll. Beberapa bulan telah gue lewatin. Dan senengnya, walau naik level tapi gurunya nggak ganti, tetep dia!

Hingga suatu hari gue terpaksa mesti berhenti dari tempat les yang merupakan gudangnya native teachers yang mantep-mantep. Hiks.... Sedih sih pasti. Itu tandanya gue udah nggak bisa mantengin wajah cakepnya tiap Senin-Rabu-Jumat. Pindah rumah, alasan yang nggak bisa buat gue menolak. Mau nggak mau, ya haruslah. Sebagai tanda perpisahan dan wujud rasa terima kasih gue sama dia, gue kasih dia wayang golek. Gue lupa wayang Arjuna apa Rama. Antara dua itulah yang pasti. Gue bela-belain tuh ngibrit ke Sarinah. Tadinya gue mau beliin dia batik. Gue tanya nyokap yang bagus batik apa ya? Katanya hasil cantingan batik Solo atau Jogja, halus banget. Halus sih halus... harganya yang kasar! Duit gue kagak cukup dah buat beli baju batik yang angka nolnya sampe enam digit. Wayang aja udah cukup mahal, buat gue. Apalagi dengan kantong gue yang lagi merepet, kantong anak SMA.

photo taken from google.com

Setelah gue beli, gue minta sopir buat langsung melajukan mobil ke tempat les gue yang terletak di Kuningan. Sampai di sana dengan seragam olahraga SMA yang bener-bener gedombrongan karena abis UAS praktek, gue langsung menuju lift yang membawa gue ke lantai di mana ruang les gue berada. Saat itu gue mengutuk diri gue yang udah kecil liliput, makin culun dan anak-anak banget, mana dekil lagi. Perpisahaan yaaaannnggg sempurna dengan menampilkan gue si dekil kecil tak berkembang.

Gue tanya bagian student advisor ke mana gerangan guru gue tercinta. Ternyata lagi ngajar di ruang yang sama dia ngajar kelas gue. Gue liat dari jendela, kelasnya lagi asyik kayak piknik kecil-kecilan gitu. Soalnya, ada yang bawa rantang plastik gede isi spaghetti. Baru tau gue ada acara beginian. Gue cuma bisa mematung dalam jarak beberapa meter dari pintu kelas dan mengamatinya dari kaca jendela deket pintu. Emang sih, pintunya agak kebuka. Tapi gue kagak nekat buat langsung masuk dan manggil dia. Hingga akhirnya dia berasa ada yang liatin kali ya? Dia nengok tepat ke arah gue. Dia kaget akan kedatengan gue. Dia senyum ke gue. Gue gelagapan yang ketauan lagi mandangin dia. Malu gue! Gue cuma bisa senyam-senyum salting. Dia keluar dari kelas sambil bawa piring. Gue jalan ke arah dia. Gue sama dia basa-basi saling menanyakan kabar, terus masalah kepindahan gue, bla... bla... bla.... Sampai akhirnya gue ngasih tuh wayang buat dia. Dia surprised banget. Awalnya dia nolak ampe speechless. Ada juga gue kali yang speechless ngomong sama dia diluar konteks lesson. Dia sampe terima kasih bekali-kali pas ngebuka hadiah gue. Dia tersanjung banget. Dan tiba-tiba dia cium pipi kiri and kanan gue! GILA! Hoooaaaa.... senengnya. Jangan tanya jantung gue berdetak dengan kecepatan berapa. Gue sampe bengong, diem, dan kayaknya jiwa gue pisah dari raga beberapa detik saat itu. Sadar juga gara-gara dia ngoceh buat minta nomer hp gue, yang lagi-lagi buat gue kaget sekagetnya. Ngimpi apa gue semalem dapet kesenengan bertubi-tubi? Gue catet nomernya dan dia minta gue missed call dia. Terus dia bilang supaya kita tetep keep contact-an. Gue cuma bisa manggut-manggut dengan senyum yang terus mengembang nggak pernah surut. Gue pamitan sama dia dan langsung pergi karena sopir cuma nunggu sebentar. Abis nyokap gue mau make mobil entar buat pergi.

Langkah gue terasa enteng banget. Melayang. Dan muka gue terus sumringah. Gue sampe takut sendiri. Takut orang ngirain gue orang gila. Tadinya gue sempet sedih karena gue nggak bakal bisa les dan ketemu dengan mbak-mbak yang udah akrab banget sama gue, serta guru-gurunya. Tapi setelah apa yang barusan terjadi sama gue. Gue yakin gue nggak bakal nyesel ninggalin tempat ini, yaa... sedikit sih.


PRESENT…

photo taken from google.com

Kembali ke masa sekarang. Sejalan waktu hingga akhirnya gue menyesap dunia kuliah. Gue tetep keep contact-an sama dia. Emang nggak sering-sering sih. Just drop to say hello. Oh iya, kebetulan ada ex-teacher yang masih keep contact-an sama gue. And fortunately, he’s really fluently speaks bahasa Indonesia. Tapi kasarnya. Yang bahasa baku dia kagak ngerti. Dia ini tempat gue berdiskusi gila-gilaan. Sebut aja dia si L. Iseng-iseng ngobrol sama si L, gue tanya apa dia kenal sama si T. And you know what he said? Owh... a gay who’s always shows his porn video

WHAT!? 

Gue sampe mangap. HEH!? Apa lo bilang barusan? Geelaa... rasanya dunia gue berhenti berputar. Shoot! Masa sih??? Emang gue pernah denger gosip itu dari sesama murid. Tapi gue nggak yakin akan hal itu dan gue malah menyangkalnya di depan temen-temen gue. Gue bilang sama mereka itu nggak mungkin. Karena gue diajar sama dia udah lamaan dan gue taulah sedikit tentang dia. Temen-temen gue kan banyak yang baru dan beberapa yang lama, karena di tempat les gue kadang nggak semuanya lanjut next level. Ok... gue sampe nanya bekali-kali ke si L (mungkin!) salah jawab atau just gossip. Tapi kata dia emang bener. Malah gue disuruh ngeliat tanda-tandanya. Kyaa..... si L bilang gue kepolosan. Dia ketawain gue yang sampe nggak bisa menyadari hal itu. “Lo naksir ya sama dia?” tembak si L langsung ke gue. Gue cuma bilang, “Kagak... kagak. Sapa yang naksir juga. Nggak nyangka aja dia homo. Kok bisa ya?” Eh... ketawanya makin kenceng aja! Sial kan!?


Dan berhubung karena relation gue dengan ex teachers sangat baik, berkenalanlah gue dengan salah satu ex teacher lain. Tapi dia belom pernah ngajar gue sih. Gue kasih nama dia si J. Hubungan gue baik dengan J. Dan saat itu gue sempet had feeling with him. Yeeeaa... karena dia emang laki idaman gue. Hehehe... abisnya emang personalitinya ok. Attitude-nya, serta how’s he treating me as a woman. Dia fun banget orangnya. Dan paling gue nggak tahan adalah saat ngeliat matanya. Ya Tuhan! Bagusnya tuh mata. Enough, gue menceritakan si J. Setelah ngalor ngidul cukup lama. Gue iseng tanya, “Do you know T?” And he said, yes. Terus sambil ngomong pelan dan nggak sekasar si L, dia bilang juga kalo si T homo! Kyaaa... gue mesti gimana dong!? Udah dua orang yang kompeten memaparkan fakta yang ngebuat gue kaget bin shock! Take a breath. Hoaaa... kenapa mesti dia sih?! Gue nggak mempermasalahkan homo-nya. Tapi yang gue permasalahin adalah kenapa mesti dia? Kenapa juga gue nggak sadar? Dan, kenapa juga gue bisa naksir dia???

Damn!

Sampai suatu hari si T ngajak gue buat lunch bareng sama dia. Gue happy kegirangan. Gue telpon temen gue buat nemenin gue makan bareng dia. Temen gue sempet nolak. Nggak mau, katanya dia kagak mau jadi orang ketiga. HEH? Emang gue lagi nge-date sama dia? Toh, ternyata dia ngajak koleganya juga. Dan lagian dengan fakta yang telah gue dapet. Gue sempet memperingatkan diri gue agar nggak terlalu larut dan merasa dia atas awan.

Sebenernya hari kita ketemuan yang nentuin gue, karena dia bilang biar gue yang arrange. Gue minta hari sabtu. Karena emang lowong nggak ada acara dan sekalian rencana gue mau makan sushi bareng temen gue di Plaza Indonesia. Jadi setelah gue ketemu dia, langsung cabut ngemil sushi deh. Tapi kata si T hari itu dia pulang agak sorean, jam 2-an gitu baru bisa ketemu. Dan ada koleganya, juga dia nggak bisa lama-lama ketemu gue karena lanjut jam 4 ke gereja. Dia sempet nggak mau. Karena nggak enaklah sama rekan kerjanya plus padetnya jadwal dia hari itu. Tapi akhirnya dia mau sih. Gue tampil semanis mungkin buat dia. Temen gue juga kagak mau kalah. Sampe gue bingung, yang demen sama dia, gue apa temen gue? Kenapa dia jadi dress gila-gilaan? Whatever!

photo taken from google.com

Duduklah kita berempat hadap-hadapan di meja suatu restoran bilangan Menteng. Suasana kaku banget. Gue ngerasa waktu setengah jam serasa satu jam! Mana gue dateng telat satu jam dengan janji diawal ketemu jam 2. AHA! Bagus banget bikin ilfeel-nya. Nice impression. Kita ngomong basa-basi dengan inggris yang formal banget! Nggak betah gue. Tiba waktunya kita saling pamit. Then, say good bye.

photo taken from google.com

Hari itu gue makan sushi gila-gilaan buat pelampiasan dan meratapi nasib kenapa bisa demen sama dia (?) Gue tanya temen gue bekali-kali, apakah menurut dia si T itu homo? Apakah homo bisa sembuh? Dan temen gue bilang emang ada indikasi ke arah sana sih, dan homo itu susah sembuh. Karena bisa dianggap gaya hidup dan itu udah kayak bagian jiwanya. Gue makin nggak terima. Kenapa gue kagak bisa ngeliat tanda-tandanya sih? Pada akhirnya gue berusaha mengubur perasaan terhadap si T dan nggak niat menghubunginya lagi.

Nggak berapa lama minggu kemaren dia SMS gue nanyain kabar, as usual. Gue cuma bisa mengutuk, Kenapa sih lo masih sms gue walaupun just say hello? Ya gue bales deh. Dan dia malah cerita kalo dia lagi nyari kerjaan baru. Dia udah nggak betah kerja di tempat les itu. Gaji kecil tapi kerjanya seabrek. Akhirnya gue malah bantuin dia nyari tapi nihil. Hingga minggu ini tiba-tiba dia sms nanyain kabar lagi. Dia juga ngasih tau dia bakal holiday ke Venezuela, Portugal, dan Malaysia in April to May. Lucky you! Now... i just try to realize his condition not as straight but... gay. And may be we could be friend. Yeah... friend. Hiiyaaa... hard to accept it!