Pages

Monday, November 12, 2018

Life in New Zealand Part. 1




Life is a journey


Setahun lebih sudah aku hidup tanpa mama. Well, living alone not that bad. I’m quite enjoy it tho. Kaget kan? Apalagi aku anaknya nggak bisa lepas dari mamiku. I mean, mom was the center of my life. Tapi tenang, kali ini aku nggak mau posting sedih-sedih. Aku mau sharing pengalamanku traveling waktu di New Zealand. Sebenarnya ada beberapa trip yang aku lakuin di 2018. Hanya saja aku tuh suka males nulis travel writes gitu. 






Ok. Kalau kamu baca post aku yang MenstruasiPakai Tisu Di Dalam Pesawat Menuju New Zealand. Hari pertama masih beradaptasi. Cukup takjub dengan biological time-ku yang ternyata nggak ada masalah berarti. Hari berikutnya, aku bisa bangun pagi mengikuti jam sana yang 5 jam lebih cepat dari Jakarta. Nah, aku mulai keliling-keliling menikmati pemandangan sekitar tempat aku tinggal. Ada rasa hangat yang merambat dalam tubuhku. Pandanganku berusaha selama dan sebanyak mungkin menangkap serta merekam keindahan yang diciptakan Maha Kuasa. New Zealand is like magic country. Masih nggak nyangka sih bisa menginjakkan kaki di negeri domba ini. Negara yang populasinya 5 juta ini lebih banyak dihuni oleh domba dan hamparan hijau perkebunan sejauh mata memandang. Bahkan kamu bisa guling-guling di atas aspalnya saking jarangnya kendaraan yang lewat. Belum lagi yang bikin shock waktu beli pembalut di sini harganya hampir 100ribu rupiah. Iya, SE-RA-TUS RI-BU. Pembalut termahal yang pernah aku punya, sih. Dan pas setelah aku selidiki setiba di Indonesia. Merk pembalut itu adalah kotex -_-“ Yawla, kotex dimarih 100ribu dapet serenceng, kisanak!

 

Senangnya rumah temanku terletak di north island of New Zealand. Jadi summer-nya pas banget untuk orang Asia yang nggak kuat dingin macam aku. Di sini aku bisa hampir tiap minggu dateng ke farmer market. Karena aku tinggal di daerah Matakana, Whangateau (baca: Fongatiau), terkenal dengan perkebunannya yang luas serta camp site, plus wine vineyard everywhere. Makanya Sunday market di sini disebutnya farmer market, walau di New Zealand orang tahunya Matakana Market. Matakana market ini sangat amat terkenal. Dan nyewa stall spot di sini murah banget. Cuma NZD 20 udah dapet tenda. Paling senang tiap aku kemari pasti selalu membeli beef sausage roll atau sering disingkat beef roll. Ini tuh makanan khas sana. Tersedia lamb, chicken, dan beef. Tinggal pilih aja. Cuma favoritku ya si beef ini buat breakfast dan segelas smoothies strawberry with berries fresh from local farmer.


Ada kebiasaan lucu yang menurutku masih agak aneh tapi bener juga, gumamku dihati. Jadi, mereka suka buang sampah sembarangan as long as itu sampah organik. Semisal biji dari buah-buahan nggak apa buang di pinggir jalan, atau lempar ke kebun. Sedangkan untuk tulang-tulang ikan, clamp shell, shrimp shells mereka akan buang ke laut. They call it as, giving back to Moana. Tahu kan kalian animasi Moana yang diadaptasi dari suku Pacific Island which part of New Zealand?















Hidup 3 bulan di New Zealand membuat aku belajar banyak hal. Terutama, HEMAT AIR. Di sana kita nggak bisa cuci piring seenaknya layak di Indo. Penggunaan air keran a.k.a tap water benar-benar harus diperhatikan. Karena air bersih di rumah merupakan hasil penyaringan dari air hujan. Jadi cara nyuci piring di sana dan sini sungguh berbeda. Di New Zealand, sebagian menggunakan dish washer dan sebagian nggak. Nah, kebetulan rumahku ini adalah rumah kayu dan kuno. Kuno di sini maksudnya cuci piring masih manual. Cara mereka mencuci piring adalah dengan menyumbat bak cuci piring, isi air keran seperempat dan tuang setengah air panas ke dalamnya. Lalu, mulai merendam piring kotor dan gunakan sabun secukupnya dan gosok asal. Mereka nggak terlalu peduli kalau masih ada kerak makanan yang nempel. Yang kayak gini bikin bulu kuduk aku bergidik. Secara mama ngajarin aku masalah higienis. Aku suka berebutan cuci piring sama temanku. Pernah juga dimarahi karena aku cuci piring ala orang Indonesia. Langsung tuh, Elnie are you crazy? You cannot wash the dishes like that way!

Sistem pengairan di New Zealand ini terbilang cukup unik karena menampung air hujan. Mereka tidak mengebor tanah untuk mendapatkan air bersih karena biaya yang tinggi. Terlebih tempat penampungan air di sini gede-nya wallahualam dan tidak terbuat dari plastik atau alumunium melainkan batu. Iya, batu. Ditiap-tiap rumah memiliki 2 torrent, 1 ukuran jin besar dan 1 ukuran medium. Mediumnya itu ukuran besar torrent di Indonesia. Aku sempat bertanya gimana kalau kehabisan air karena tidak musim penghujan? Mereka harus memanggil water tank dan untuk sekali pengisian bisa memakan more than NZD 100. Shock ya? Air mahal, kisanak. Makanya mereka hemat-hemat.


Kalau main ke New Zealand jangan lupa singgah ke Parnell Rose Garden. Hamparan 5.000 spesies mawar unik tersebar dalam taman yang diberi nama Dove-Myer Robinson Park, the longest serving mayor of Auckland, who served for 18 years. Taman ini buka tiap hari dan tidak dikenakan biaya. Wajib dateng kemari saat musim panas atau semi karena semua bunga bermekaran dengan sempurna. Kalau kamu beruntung dan datang saat bulan November, tiap tahunnya mereka selalu mengadakan Parnell Festival. Tempat ini juga populer digunakan sebagai wedding venue. Ya… siapa juga yang nggak mau wedding di sini? Cakep gila! Saat di sini aja aku yang nggak habis-habisnya mengagumi vibrant warna bunga-bunganya dan foto-foto perbunga.


Selain beef sausage roll, kamu juga wajib coba white bait! Sejenis ikan kecil tipis yang ada di perairan Indonesia. Kayaknya aku pernah makan mirip-mirip gini di Medan. Jadi white bait ini khas atau native fish sana. Mirip-mirip ikan teri nggak asin versi jumbo lah ya. Rasanya enak dan fresh. Biasa disajikan ala omelette dengan sepotong toast bread yang sudah dilumuri butter.

For me, the paradise is drug store and cosmetic shops here. Murah-murah dan bagus-bagus banget. Di saat itu lah kartu CC mulai menjerit-jerit over limit. Tau sendiri namanya perempuan, ketemu make up dan skincare pasti bawaannya mau diraup semua. Untuk skincare dan make up mungkin aku akan bahas di post terpisah karena a lot of stuff that I bought and would love to review one by one. Dan banyak produk yang nggak dijual di Indonesia. Tapi memang habit aku tiap jalan-jalan ke mana pasti ada aja yang dibeli.

Satu hal yang aku suka dari kultur di sini adalah mereka nggak addictive sama telepon genggam. Ketika mereka akan hadir suatu acara atau berkumpul sama teman/keluarga, yang namanya HP benar-benar digeletakkan gitu aja di atas meja atau sama sekali nggak dibawa pergi. Karena mereka suka berinteraksi satu sama lain dan fokus. Beda banget dengan orang kita yang sometimes main HP untuk menghindar ngobrol satu sama lain. Pas pertama kali aku kumpul, terasa awkward banget. Memaksakan diri untuk berkomunikasi dengan orang baru such a very hard time for me. Karena aku anaknya suka parno kalau nggak nyambung atau takut kehabisan topik. Dan ketika pulang ke Indonesia gantian aku berasa awkward ketika orang ketemu sama kita dan fokus main HP ketimbang ngomong.

At this moment kayaknya cukup segini dulu post-ku tentang New Zealand. Nanti aku bahas juga mengenai camp site dan wine yard visit di sini. Buat yang penasaran, terus ikuti blog aku ya. Karena bakal banyak hal baru yang akan aku bagikan di sini. Kalau nggak mau ketinggalan, boleh lho untuk follow salah satu akun media sosialku dengan link dibawah ini. ^ 3 ^


Mind to follow me? Let me know and I would follow you back ^O^



Reactions:

2 comments:

  1. Elni,,, duh, aku suka sama postmu yang ini. Aku ikut ngebayangin. Tapi kamu kurang ngasi photo taman bunganya :(

    ReplyDelete
  2. wah ada pohon pisang juga disanaa wkwkwk...noraknya aku :D

    tapi ngeliat dari foto sekelibet diatas, suasana disana adem tentram banget, penasaran kizah-kizah part berikutnya :D

    ReplyDelete

Today a reader, tomorrow a leader. A good readers live a comment here ^ ^
I always try to reply your comment and visit back to your blog/website. So, keep coming back and we can be a friend xoxo