Brave with your heart!

by - July 08, 2012


Akhirnya saya menulis lagi.... Beberapa lama saya biarkan blog ini menganggur seperti tak bertuan. Anyway, setelah sekian lama saya tidak menginjakkan kaki ke bioskop... Saatnya hari itu tiba! Ya, hari ini. Tepatnya Sabtu, 7 Juli 2012 pkl. 19.00, tiket pertama saya setelah beberapa bulan lamanya saya tidak singgah ke bioskop untuk nonton film terbaru. Hal ini disebabkan karena jadwal kerja yang tidak bersahabat membuat saya lebih memilih menghabiskan waktu untuk istirahat ketimbang keluyuran sekedar nonton film.


Dan film pertama saya adalah BRAVE. Film animasi. Dari jaman baheula, bagi saya itu nista banget nonton film animasi di bioskop! Menurut saya yah, capek-capek bayar mahal cuma buat nonton animasi itu sama aja buang duit. Mending nonton film seru, tokohnya manusia, dan ketauan ceritanya menarik. Tentunya berdasarkan beberapa review ya. Dan ini terjadi akibat paksaan sahabat baik saya. Kalau bukan sahabat saya, nggak akan mau saya nonton. Seriusan! Apalagi saya sempat membuat mood dia berantakan sebelumnya. Semakin menjadilah rasa sungkan saya.

 Di sore yang menenangkan, kami pun pergi ke FX. Sebelumnya saya sempat hadir ke seminar Akademi Berbagi dengan pembicara dari Coca Cola. Dan terpaksa buru-buru pergi karena ternyata teman saya memang tidak ingin menemani ke seminar tersebut. Wajahnya pun ditekuk nggak keru-keruan. Selama perjalan yang mana kami menggunakan jasa angkutan umum trans Jakarta, saya terus menggerutu. Kenapa kita nggak nonton Spiderman atau film lainnya? Dan teman saya, Barbie, tetap ngotot pada pendiriannya bahwa film kartun BRAVE itu bagus. Nggak akan nyesal saya menontonnya. Walau masih setengah hati dan mangkel, saya pun rela mengantri beli tiket. Wajah Barbie begitu sumringah, antusias. Berbanding terbalik dengan air muka saya. Tapi mau gimana, saya pasrah saja dengan pilihan sahabat saya. Nggak ada salahnya mengikuti seleranya. Barangkali memang tak seburuk pikiran saya, ujar saya membatin.

Dan sembari menunggu detik berlalu ke menit dan ke jam, kami berkeliling mal. Hingga waktu menunjukkan kesamaan dengan jam tayang yang tertera ditiket kami. Bergegas kami mempercepat langkah menuju lantai bioskop berada.


Tada... dan kami pun duduk manis menyimak. Film baru akan dimulai. Pada saat opening film, saya masih menggerutu sembari mencibir karena tidak jelasnya film tersebut. Digambarkan 2 orang dewasa dengan 1 anak kecil. Semuanya berjenis kelamin pria. Adegan memperlihatkan mereka sedang menangkar bulan dan di sana terdapat banyak bintang. Yang membuat saya menggurutu adalah penggunaan bahasa yang absurd. Bukan percakapan seperti biasa layaknya manusia. Malah lebih seperti bahasa tarzan, hu...haa...he...hija...’. Sempat saya utarakan keraguan yang menggelayut dengan nada berbisik, “Lo yakin film ini bagus? Apa dari awal sampai akhir kita cuma dengar bahasa hu ha hu ha tanpa subtitle?” tanya saya. Teman saya hanya menggubris dengan menyuruh untuk konsen nonton. Baiklah, kita lihat saja! Sempat teringat diawal film bahwa produksi Pixar. Saya harap dengan nama besar itu tidak mengecewakan saya.


Pertanyaan-pertanyaan saya pun akhirnya terjawab. Brave menceritakan sebuah keluarga kerajaan dengan seorang putri bernama Merida (Kelly MacDonald), yaitu gadis cantik yang mempunyai kelakuan dan sifat layaknya seorang pria. Seorang putri dari Suku DunBroch dengan rambut keritingnya yang menggemaskan, dan tingkah tomboy nya yang lucu. Ia berjuang menegakkan kebebasan seorang anak dalam menentukan jalan hidup dan menentukan masa depannya sendiri. Setelah dengan setengah hati mengikuti ajaran-ajaran ibunya, Ratu Elinor (Emma Thompson), yang ingin anaknya menjadi layaknya seorang putri. Macam lady like patuh akan aturan tradisi.

Konflik dimulai ketika Merida menghadapi lamaran putra sulung dari 3 suku yang bersekutu di bawah kekuasaan ayahnya. Tradisi mereka selalu mengatakan bahwa Putra Sulung ketiga suku tersebut harus berkompetisi, dan kompetisi ditentukan oleh Sang Putri. Dengan lantang, Merida menginginkan kompetisi memanah sebagai penentunya. Karena dengan begitu ia dapat mengikut sertakan diri untuk menentukan hasil sayembara tersebut. Alhasil, tidak ada seorang pun dari ketiga calon suami dipilih oleh Putri Merida.

Karena kelancangan Sang Putri inilah akhirnya Ratu Elinor murka dan berujung pada pertengkaran sengit, sehingga juga membawa Sang Putri melakukan tindakan bodoh. Sang Putri merajuk dan berlari ke hutan, kemudian ia mengikuti Whisps, api roh, yang menuntunnya pada penyihir tua yang juga berprofesi sebagai pemahat kayu. Dalam keadaan sedih, marah, dan kecewa, Putri Merida memohon satu permintaan untuk mengubah ibunya. Sayangnya, Ia tak pernah berharap kalau Ibunya akan berubah menjadi seekor beruang.

Di sinilah emosi kita sebagai penonton dibawa naik turun. Saya takjub dengan orang-orang kreatif dibalik film ini. Sungguh mata ini dimanjakan dengan animasi yang begitu apik dan teduh. Tiap porsinya begitu detil. Hingga tampak seperti bukan animasi, melainkan sungguhan! Belum lagi alur ceritanya yang kocak peradegan. Yang bikin lucu itu saat adegan dimana ibunya tetap bergaya bak sang ratu walau wujudnya beruang! Serta ketiga adik Merida yang nakal-nakal. Dan satu bioskop pun tertawa terbahak-bahak. Benar-benar mengocok perut saking gelinya! Ceritanya yang segar dan lain dari pada yang lain. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena kisah ini belum pernah ada walau dalam Disney ataupun cerita lain. Ditambah pesan moral yang sarat mengena.

Pesan moral yang mengingatkan kita akan hubungan anak dan ibu yang terpecah karena keegoisan masing-masing tanpa mentolerir kesediaan individunya. Adegan dimana Merida menyadari kesalahannya dan berusaha setengah mati mencerna pesan sang penyihir untuk dapat mengembalikan ibunya seperti semula, membuahkan bulir air mata. Saya sedih. Saya kecewa. Dan saya pun langsung kilas balik dengan adegan dimana saya dan ibu saya memiliki konflik seperti itu. Saya terenyuh karena Merida tak henti-hentinya mengutuk diri sendiri karena khilafnya sesaat. Belum lagi kepanikannya karena sang Ayah yang dendam dengan beruang akibat sebelah kakinya hilang dimakan beruang ketika Merida masih kecil. Dan sekarang, beruang yang akan dibunuh ayahnya adalah ibunya. Ibunya yang berubah karena kesalahannya. Emosi saya pun langsung naik turun ketika sang ibu walau dengan wujud yang berbeda, tetap melindungi putri semata wayangnya yang diserang beruang jahat hasil jelmaan seorang raja.

Saya langsung merenung sejalan film diputar. Sejahat, segalak, dan sebawel apapun ibu saya. Dia adalah orang yang melahirkan saya. Beliau orang yang paling peduli dan perhatian pada saya. Dan seburuk apapun beliau, ia selalu ingin menjadi perisai bagi saya. Melindungi saya dari jahat dan niat buruk orang-orang. Dan walaupun saya sering berbuat salah, membuatnya kecewa, marah, dan bertingkah sungguh menyebalkan. Kasihnya begitu luas. Saya disambut dengan seulas senyum dan tangan terbuka. Saya yakin tidak hanya saya saja yang merasakan, tapi 1 bioskop. Tentunya sahabat saya pun terisak sedu berbarengan dengan saya ketika itu. Dan saya harap nggak hanya saya, sahabat saya, dan orang yang satu bioskop dengan saya saat itu saja yang mendapatkan teguran kecil untuk hati nurani. Tapi anda, kalian, kamu, yang akan berencana untuk nonton sebuah film. BRAVE adalah jawabannya.




Dan tadi, setiba di rumah, saya menghambur memeluk ibu saya. Saya mengucap syukur bahwa saya masih memiliki beliau. Saya bangga dan bahagia. Orang tua ada kalanya pun silap, lupa. Tapi pada dasarnya mereka hanya ingin yang terbaik untuk kita. Dan saya rasa begitu pun dengan ibu saya. Terkadang kita bertengkar dengan hebatnya, intonasi suara yang meninggi, dan menutup suara hati nurani. Saat itulah kita lupa bahwa mereka adalah orang tua kita. Dan saat itu juga alam sadar kita lenyap tertutupi emosi hingga sesuatu yang buruk terjadi. Baru penyesalan itu akan terbit dan sayangnya, itu terlambat. Terima kasih karena BRAVE mengingatkan saya agar semua tidak menjadi terlambat dalam setiap perbuatan yang akan saya lakukan. Bahwa semua permasalahan akan lebih baik dikomunikasikan sejalan pengertian dan mau mendengar suara orang lain sebelum mengambil keputusan.

Dalam tulisan, kesalahan adegan mungkin bisa anda revisi. Tapi bagaimana dengan adegan kehidupan? Mungkinkah direvisi ketika nasi sudah menjadi bubur?

“Some say fate is beyond our command, but I know better. Our destiny is within us. You just have to be brave enough to see it.”

You May Also Like

3 comments

  1. tadinya aku ga tertarikkk, pas baca postingan kamu jadi pengen liat tuch pilem , hehehehee

    ReplyDelete
  2. i love the movie! :)
    do you want to follow each other (on bloglovin' and gfc)?
    i do love do the same if you love too :)

    http://noraliaayu.blogspot.com/

    ReplyDelete

Today a reader, tomorrow a leader. A good readers live a comment here ^ ^
I always try to reply your comment and visit back to your blog/website. So, keep coming back and we can be a friend xoxo