Friday, August 5, 2011

Proton VS Neutron

Gue selalu menyempatkan diri ke goa Maria apabila gue ke gereja. Begitu pun pagi ini, pagi di mana gue mengikuti misa suci seperti biasanya di minggu pagi. Gue berdoa dengan kushuk, bersyukur untuk segala yang telah diberikan oleh Dia, dan berdoa juga untuk melalui minggu depan yang kita nggak akan pernah tau seperti apa jelasnya. Oh ya, lupa ngasih tau kalau gue ini nasrani, Katolik lebih tepatnya. Gue sebenarnya bukan tipe rohaniwati sejati. Bukan juga yang selalu mengikuti misa. Tapi gue selalu berusaha berdoa di goa Maria yang mana menjadi tempat gue mencurahkan semuanya, berkomunikasi sama Tuhan dan Bunda Maria tanpa ada aturan ribet yang melekat. Antara gue dan Tuhan. That’s it! 

Dan pagi ini yang seharusnya menjadi pagi-pagi seperti sebelumnya, sedikit berbeda. Setelah gue ‘berkomunikasi’ dengan Tuhan, pandangan gue menangkap sosok kecil yang berdoa dengan serius. Gue mengamati dengan seksama, punggungnya naik turun tak beraturan, ah… dia menangis? Sosok kecil itu gue perkirakan umur 8 tahun-an, sepertinya. Sedikit bergeser ke arah anak itu untuk dapat membenarkan kesimpulan kasar gue semata.

Ternyata bener, bocah ini menangis. Gue cuma menatap patung Bunda Maria sambil berdoa dalam hati, ‘apapun hal yang membuat sedih anak ini semoga Engkau mendengarkan dan membantunya ya, Bunda dan Tuhan’, pinta gue saat itu. Anak itu membentuk tanda salib dikening, dada, bahu kiri lalu kanan, dan bibirnya melafalkan ‘Amin’.

Pelan, gue merapat ke anak itu, berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengajaknya ngobrol. Gue tersenyum, “Hai… kok nangis? Bunda Maria juga sedih lho kalo ada anaknya yang bersedih.” Seupaya gue untuk menghibur anak itu, yang ternyata emang nggak mudah untuk memulainya. Ia hanya menatap gue. Deg! Tatapan matanya sedih dengan air mata yang terus turun, anak sekecil ini punya beban apaan sampe sedalam itu?, pikir gue. Anak ini lucu yah mukanya. Tembem, putih. Jadi pengen punya adik deh. Gue lalu inisiatif menggenggam tangannya dan mengusap pelan, serta mengulurkan tangan kanan gue. “Hai, namaku Elnie. Nama kamu siapa?” Sebisa mungkin gue berusaha menggambarkan keceriaan di wajah karena ingin anak itu merasakannya. Ragu dia menyambut uluran tangan gue, “Namaku Gita.” jawabnya masih dengan sesegukan. Gue mengusap pelan air matanya, “Gita kok nangis sih? Kan Gita udah berdoa sama Tuhan dan Bunda Maria, seharusnya Gita percaya dong Tuhan akan menyelesaikan masalah Gita,” kata gue. Tatapannya kosong memandang ke bawah. Dia menangis pelan, gue hanya bisa mengusap-usap pelan punggungnya. Jujur, sebenarnya gue bingung, gimana pula nenangin anak ini dan anak orang juga. Takut gue dikira bikin nangis anak orang. Untung sepi. 

Gita menatap gue, “Gita cuma pengen papa pulang, kak…” katanya tiba-tiba. Saat itu gue kaget, seneng.., ya intinya perasaan gue campur aduk. Akhirnya nih anak ngoceh juga. “Lho… emang papa-nya Gita ke mana?” gue beraniin diri untuk bertanya lebih lanjut. “Kata Mama, papa Gita pergi jalan-jalan sama Tuhan.” Deg! Oh em ji… maksudnya? Maksudnya, bokapnya udah nggak ada, gitu? Meninggal?? “Maksudnya gimana, Git?” tanya gue. Matanya mulai berbayang, “Gita cuma pengen papa pulang. Papa pergi dari bulan lalu tapi nggak pernah balik. Nggak ada kabar. Mama juga sedih karena papa nggak pulang-pulang, kak. Pas Gita tanya sama Mama di mana Papa, Mama bilangnya Papa lagi jalan-jalan sama Tuhan.” Air matanya bergulir.

Terenyuh hati gue, gue peluk tuh anak. Kasian banget sih! Masih kecil udah keilangan bapaknya. “Gita, jagain Mama yah. Papa mungkin dapet tugas penting dari Tuhan, jadi jalan-jalannya lama deh.” Cuma itu yang kepikiran dan bisa gue omongin ke tuh anak. Speechless. Dia melepas pelukan gue, “Tapi Gita kangen banget sama Papa, kak. Biasanya Papa selalu anter jemput Gita, ajarin PR kalo Gita nggak bisa. Marahin Gita kalo salah.” Gue menelan ludah, I never feel it. I have no chance to feel father’s love. Gue bingung banget saat itu. Gimana gue mau menghibur orang dengan masalah kayak gitu, kenyataannya aja gue nggak pernah tau kayak apa kasih sayang bokap. Walau sempat terlintas keinginan, coba gue ngerasain kasih sayang seorang ayah. 

“Kak, kalo Papa kakak kayak gimana? Kalo Papa Gita tuh tinggi, cakep, sayaaang banget sama Gita.” Wajahnya tampak sedikit bersemangat, dengan manik berbinar ketika mendeskripsikan ayahnya. Gue yang dikasih pertanyaan itu malah bengong. Jawab apaan yah? “Kalo Papa kakak…” gue memutar otak, “Papa kakak tuh ganteng! Tinggi, idungnya mancung. Serasi deh sama Mama-nya kakak.” Jawab gue sambil menerawang, mengingat-ingat wajah bapak gue sendiri difoto. Gita antusias, “Beneran kak?” Gue mengangguk pelan. Walau gue nggak tau aslinya, at least sekarang gue udah bisa bikin nih anak mengalihkan kesedihannya, “Pokoknya yah, Papanya kakak tuh ganteeeng banget!” I wish I could say it when I see him in real life, in front of his face.

Dari jauh sayup-sayup seorang ibu-ibu memanggil nama Gita. “Kak, itu Mama Gita. Gita  mau pulang dulu yah. Makasih ya, kak. Besok-besok kita ketemu lagi, ok?” diulurkan kelingkingnya yang mungil kehadapan gue. Gue tersenyum kecil. Ah, anak ini… bikin gue kangen deh sama masa kecil. Gue pun menyambut kelingkingnya sambil tertawa kecil. “Kita ketemu lagi yah. Tapi Gita harus janji sama kakak untuk jagain Mama dan selalu yakin Papa aman sama Tuhan.” Gita mengangguk mantap.

“Gitaa….” Dari jauh terdengar ibu-ibu terus meneriakan namanya.

Dia berdiri, mencium pipi kanan gue kilat, dan berbalik lari sembari melambaikan tangannya, “Janji yah kaaak… Gita juga janji sama kakak.” Teriaknya hingga hilang menjauh. Gue tersenyum sambil melambai.
‘Kalo emang Tuhan punya rencana pasti kita ketemu lagi ya, Git.’ ujar gue dalam hati. Saat itu yang terlintas dalam otak gue adalah pulang. Tanpa pikir panjang, setelah berdoa sebentar untuk Gita, gue beranjak dari situ. Di perjalanan gue berpikir, flash back. Kayak apa yah bokap gue? Apa masih kecil gue pernah nanyain ke nyokap gue kemana bokap gue? Apa gue pernah ngerasa kesepian tanpa bokap? Seberapa kuatnya nyokap gue tanpa bokap? Banyak pertanyaan yang mencuat dalam pikiran gue. Nggak adanya bokap sejak gue 5 bulan dikandungan emak gue, membuat gue nggak merasa aneh dan kehilangan, mungkin. Karena gue merasa gue punya nyokap, dan gue bahagia untuk itu.

Sesampainya di rumah, gue penasaran. Gue tanya ke nyokap, “Mah… dulu masih kecil aku pernah tanya nggak papaku kemana?” Mama tersenyum, teduhnya senyuman beliau sampai gue berasa nyaman banget! “Ada apa kamu nanya hal ini? Tumben-tumbenan anak Mama nanya hal kayak gini. Pulang dari gereja bukannya laporan dulu tadi misa gimana, ini malah langsung nanya yang aneh-aneh.” Gue geregetan, “Aah… Mama, jawab aja. Aku pengen tahu. Apa aku kayak anak-anak lain yang nanyain papanya kemana.” Mama membelai rambut gue, “Nggak. Kamu penurut dan pengertian. Mama cuma bilang sebelum kamu akan bertanya, ‘Eca jangan tanya dulu yah masalah papa. Nanti pasti Mama jelasin masalah Papa kemana.’ Dan kamu manggut, mengerti.” Gue memeluk nyokap gue, “Mah, aku sayang Mama.”

Gue kilas balik kejadian hari ini. Buat gue nyokap segalanya. Perihal bokap gue, baik buruknya beliau sama nyokap gue, itu masa lalu. Sekarang adalah gue dan nyokap gue, kehidupan kita. Sejeleknya bokap gue, dia tetap bokap gue. Emang mungkin bokap gue udah bertindak nggak menyenangkan, menorehkan luka, terutama ke nyokap gue. Tapi gue nggak bisa nggak mengakui dia bokap gue. Karena itu kenyataan yang nggak bisa gue pungkiri, apalagi diganti. Gue yakin bokap gue punya sisi positifnya. Hidup itu kan seimbang, antara positif dan negatif. Proton dan neutron. 

Yang bisa gue lakukan adalah, mengambil sisi positif dari bokap gue. Atau bisa dibilang, nggak mengaplikasikan sifat negatifnya dalam diri gue. Well, I ever blamed him about all happened in our lives. Gue malah bangga banget dengan nyokap gue. Nyokap bisa bertindak seperti bokap, sahabat, guru,… pokoknya segalanya deh! She’s the best and the one! Masalah gue nggak pernah ngerasain kayak apa kasih sayang bokap? Yah, terpikir sih dibenak gue kayak apa. Tapi itu nggak membuat gue jadi menyalahkan keadaan. Karena gue yakin, Tuhan ingin gue belajar dan menjadi kuat seperti nyokap gue. 

Dan untuk Gita, semoga Papa Gita tenang di sisi-Nya. Kakak harap Gita bisa mengenang Papa Gita dan menjadi kekuatan Mama Gita ya, sayang. Tuhan pasti akan selalu menyertai langkah kamu. Asal kamu percaya dan berserah pada-Nya. Ia akan mengatur keindahan dalam hidup Gita. I miss you, Git.

Post a Comment

Today a reader, tomorrow a leader. A good readers live a comment here ^ ^
I always try to reply your comment and visit back to your blog/website. So, keep coming back and we can be a friend xoxo

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search