Pages

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Sunday, August 27, 2017

ANNUAL LEAVE THAT NEVER HAPPENS

Annual leave that never happens…

Repetisi

I know

 
picture taken from https://www.oxford-royale.co.uk/

This is gonna be my first blog post after couple months. Untuk memulai menulis ini sebenarnya berat banget. Sudah beberapa kali saya mencoba menulis atau pun review produk. Tapi hasilnya selalu nihil. Jari ini seperti kaku, dingin, dan segala ide dalam otak lenyap seketika. I feel numb inside. Jadi kalau ada yang tanya, are you okay? I’m health, but still not okay enough. Kepergian mami dalam hidup saya merupakan pukulan terbesar dalam sejarah kehidupan saya. Nggak pernah terpikirkan bahwa beliau akan secepat ini meninggalkan saya. Masih terbayang jelas semuanya. Senyum, tawa, marah, perhatian, kasih sayang dan masih banyak hal yang nggak bisa saya jelaskan satu-satu. Terlalu banyak memori indah yang terekam dalam benak ini. 

Banyak yang bilang,

‘Yang sabar ya El. lo jgn mendam kesedihan kelamaan juga...yakini bahwa ini yg terbaik buat nyokap...gw yakin nyokap lo udah senyum disana...ayo lah el...start new day new life...nyokap lo sudah mulai itu bersama Tuhan-nya’

Friday, August 8, 2014

Are you beautiful?

PS: Please watch the video first before you read whole post ^ ^



Let’s talk about the video. I can tell that I’m falling in love the way DOVE delivers a message to audience. Honestly, the creative team behind these campaign are totally amazing! Brilliant! It’s kinda different way to promote beauty product. Mostly, beauty brands always use actress, models who reflected with their ‘own beauty’. Which is must white, tall, skinny, and have perfect shape on any angle. But the creative team of DOVE have own way to tell what beauty is. They touch emotion by captivating story. It’s bite sized! Well delivered!


dove real beauty sketches, women
picture taken from http://bit.ly/1sFsKN7

Only 4% of women around the world consider themselves beautiful. Are you?

Tuesday, December 3, 2013

Orangutan! What is that?!




orang utan, kalimantan, indonesia
Peek - a -boo!

Hi! How are y’all? Hope everything has been good so far. These week I’m gonna share to you about my trip to Center of Kalimantan. It was happened last year, yeah… last year! Lol


Wednesday, November 6, 2013

Cintanya mengalir…





Note: tulisan ini telah dibuat tahun lalu. Tapi belum sempat diposting...



Sebelum membaca lanjut tulisan ini, harap menonton video dibawah ini ya ^_^






Thursday, March 15, 2012

Buta nggak hati gue (?)

Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya gue ke kantor. Ya, kantor gue terletak di bilangan Karet yang lagi super duper macetnya itu lho! Dan gue yang naik bus AC kayak hari-hari lainnyalah. Tumbennya hari itu, gue berangkat pagian. Jam 6 kurang sudah siap siaga berjibaku dengan para penumpang bus lainnya. Hingga nongol si bus patas AC yang ternyata fansnya nggak kalah banyak dengan Adele ‘Chasing Pavement’.

Untungnya karena masih pagi, bus dalam keadaan sepi. Otomatis gue dapat tempat duduk. Karena sistem pagi hari jam kerja tuh, '5 menit itu menentukan nasibmu'. Ya, nasib lo bakal dapet tempat duduk atau berdiri sambil pegangan bak bergelayut layak onyet. Belum lagi jempet-jempetannya. Thanx God banget deh!

Seringnya kalau gue dapet duduk di bus patas AC, sembari menunggu perjalanan panjang sampai ke tempat tujuan, gue… tidur. Iye, tidur. Lumayan 1 jam buat tidur kan tuh. Makanya senang banget gue berangkat pagi-pagi. Selain efek ontime-nya, tapi lebih ke quality sleeping beauty-nya itu lho! MOMENTUM! Dan lucunya, pada saat bus yang gue naiki ini hampir sampai tempat tujuan, Benhil, alarm biologic gue pasti ON. Langsung melek seketika. Dan itu terjadi, selalu. Ya, pernah siiih bablas sampai Thamrin. -_- agak konyol memang. 

Nah, pas sampai Benhil gue siap-siap berdiri dong mau turun. Sikut-sikutan deh sama penumpang yang berdiri kagak kedapatan tempat duduk. Pas gue berdiri itu, selang 2 bangku di depan gue ada ibu-ibu ngoceh kenceng banget. “Timoti…hati-hati ya. Shalom, Timoti!”

Wah, nasrani tuh ibu. Mata gue yang kepo langsung mencari-cari sosok yang dipanggil timoti-timoti tersebut. Tau sendiri manusia itu kepo-isme. Kalau nggak kepo bukan manusia namanya. 

Mungkin anak si  ibu apa? Tapi sepertinya bukan. Ah, sudahlah.
 
Dan mata gue pun mengunci sosok agak tambun, kemeja biru lengan panjang digulung sesiku, dengan celana hitam panjang. Gayanya seperti orang kantoran kebanyakan. Hooo… bapak-bapak toh, kata gue membatin.

Oh iya, lupa bilang. Bus patas AC itu kalau pagi-pagi pasti nurunin penumpang tuh di jalur cepat. Jadi nggak mungkin jalur lambat. Walhasil harus nyebrang. Pas akhirnya kaki gue menjejakkan tanah pagar pembatas, bersiap untuk menyeberang ke bahu jalan jalur lambat. Nah… saat itu nggak hanya gue sendiri, kebetulan banyak penumpang bus yang turun di situ juga. Gue berencana nyebrang bareng.  
picture taken from http://bit.ly/JCXtDE

Dan saat gue mau nyebrang, mata gue tertumbuk pada sosok bapak-bapak agak tambun yang bisa gue tarik kesimpulan si Timoti itu. Yang menarik perhatian bukan badannya yang agak tambun, tapi dia mengeluarkan tongkat dan memanjangkannya. O… ow… ternyata beliau tuna netra. Saat itu gue sempet bengong. Gue liat orang-orang yang berdiri di sampingnya malah cuek nyebrang sendiri, malah ada yang menghindar dan menyingkir ke sisi kanan gue buat nyeberang bareng sama orang-orang lain. Akhirnya pada nyeberang tuh rame-rame. 

Tinggal gue masih tergugu, bengong. Gue mikir, ini orang kok yah pada tega bener nggak ada yang bantu? Emang dia bisa nyeberang sendiri apa? Tau sendiri di jalan protokol Sudirman gitu, pengguna jalannya suka nyetir seenak jidat. Ya salah kita juga sih turun di tengah jalan. Tapi nggak salah kita juga 100%. Salah abang busnye kenapa kita diturunin di tengah jalan?! 

Oke, balik lagi ke si bapak. Tiba-tiba aja gue melihat si bapak mengambil gerakan untuk bergegas nyebrang. Tanpa habis pikir gue langsung gandeng tangannya. Awalnya sih akward moment ya. Gue genggam tangan orang asing, di jalanan pula. Udah kayak ditipi-tipi. “Bapak mau kemana? Sini saya bantu. Kita nyeberang bareng-bareng ya, pak,” ujar gue. Saat itu, entah dapat keberanian dari mana gue bertindak seperti itu. Emrejing!!!

“Oh, makasih ya, de’. Nggak usah repot-repot. Yang penting saya diseberangkan ke seberang saja. Nanti saya bisa sendiri kok,” jawabnya dengan nada penuh semangat seraya memberikan senyuman.

Dan dengan gaya bak wanita perkasa *benerin poni* gue seberangin tuh bapak sampai di tempat yang aman. “Bapak kantornya di mana? Mari saya antar, pak.”

Dan modal nekat dengkul mengkilat, gue menanyakan di mana kantor atau alamat yang dituju tuh bapak. Karena gue nggak tega banget! Asli! Ngeliat bapak-bapak tuna netra sendirian, mana orang tega-tega bener kagak peduli.

“Nggak usah repot-repot, de’. Kamu kerja?” Dan begonya gue mengangguk-angguk dengan semangat. Padahal jelas-jelas si bapak nggak bisa liat gue, “Iya, pak.”

Gue dan si bapak berjalan beriringan.

“Kantornya di mana?” tanyanya, pelan.

Gue yang lagi nimbang-nimbang nganterin si bapak apa tinggalin aja di situ menjawab sekenanya, “Kantor saya di karet, pak. Tinggal nyeberang naik angkot.” Nggak penting juga kan gue bilang kerja di perusahaan apa.

“Ya udah. Saya di sini aja nggak apa-apa. Kamu berangkat ke kantor saja.”

Nggak, tekad gue udah bulat seperti bola ping pong. Gue pun memutuskan akan mengantar si bapak hingga ke tempat tujuan. Bodo’ amat deh telat-telat, kan bisa alesan apa gitu sama HRD *big grin*.

 “Udah pak, nggak apa-apa. Saya antarkan. Letak kantor bapak di mana?”

Lalu dia menunjukkan jalan, bahwa gue harus menyebrangi dia sekali lagi yang mana itu depan ANZ tower situ. Setelah gue sebrangin, dia pun menolak lagi niat gue untuk nganterin dia dengan selamat ke tempat yang dia tuju. Si bapak bilang nanti akan ada orang yang menjemput dia. Berkali-kali gue meyakinkan beliau dan puji Tuhan, selang beberapa menit ada bapak-bapak berkumis menghampiri kami. Dan si bapak pun tampak mengenali suara si bapak kumis tersebut. Karena setelah bapak kumis itu menyapanya, lagi-lagi senyum menghiasi wajah si bapak. Kedua bapak itu pun akhirnya berjalan menjauh, berlawanan arah dengan rute yang gue tuju. 

Tapi gue nggak beranjak, gue terdiam. Gue mengamati punggung bapak Timoti itu hingga tertelan dikerumunan orang lalu lalang. Gue tertegun, gue terharu. 

Gue sedih. Gue malu. Gue bersyukur. Terima kasih Tuhan. Dalam rencana-Nya, Tuhan mempertemukan gue dengan bapak ini. Terima kasih bahwa hati nurani gue belum mati. Positifnya, Tuhan baik. Masih mengingatkan gue untuk peduli. Bahwa gue bukan masyarakat kebanyakan yang terlalu cuek dengan sekeliling. Dan gue mengucap syukur dengan memiliki panca indera yang tak kurang satu pun dengan kelengkapannya. Bahwa gue masih diberi kesempatan untuk menolong orang. 

Dan gue disadarkan untuk malu karena orang yang disabilitas seperti itu pun masih memiliki semangat kerja yang tinggi. Dan nggak selayaknya gue bermalas-malasan, apalagi gue masih muda. Jadi, mari kita peka terhadap sekeliling untuk lebih peduli sesama. Melek. Jangan membutakan kejujuran yang muncul dari hati lo. Karena pada dasarnya manusia itu individu yang tidak bisa hidup sendirian.
Monday, February 27, 2012

Cinta itu nggak bisa dipaksakan…

picture taken from http://bit.ly/I9rawJ
Ada yang bilang cinta itu bisa mengalir sendirinya seiring waktu berjalan atau ada lagi yang bilang asal duit ada, cinta mah jalan sendiri nantinya.

Perbedaan itu indah. Diciptakan Tuhan untuk memberikan warna kehidupan dalam tiap individu.Untuk saling melengkapi dan memberi arti. Tapi bilamana dengan individu yang tepat, jodoh.Tuhan akan menghadirkan orang yang tepat diwaktu yang tepat. Bila tidak, jadikanlah bagian hidupmu penuh warna sebagaimana warna sahabat.
Sunday, February 19, 2012

Secercah Harapan!

Angkie Yudistia, Pita Biru, Cosmopolitan Fun Fearless Female, Thisable Enterprise
picture taken from http://bit.ly/JER8tt


Kehidupan itu sebuah pilihan… Hari ini, Selasa 20 Desember 2011 pkl. 16.19 WIB. Hati gue terketuk, terhenyak barang beberapa detik. Tadi siang, sekitar jam duaan, di kantor gue sedang ada launching buku Perempuan Tuna Tungu Menembus Batas oleh AngkieYudistia. Gue yang iseng mampir ke lobby di mana acara tersebut dilangsungkan, dan sudah berakhir.
Sengaja gue datang pas acara sudah selesai, males liat keramaian. Gue yang iseng-iseng nongol itu beranjak ke arah meja resepsionis menanyakan gratisan :D seperti biasa kalau di kantor ada event pasti kecipratan gratisan. Entah itu dalam bentuk makanan, cinderamata, atau souvenir. Nah, ternyata bener! Mereka, anak-anak GRO dan resepsionis, dapat gratisan buku. Gue pun nggak mau ketinggalan dong. Gue langsung heboh nanyain ada kesisaan yang nganggur nggak buat gue. Ternyata nihil.
Walau ada 1 tapi itu milik GM Marketing. Nggak mungkin gue ambil. L Tapi setelah anak-anak pada bilang bahwa si GM nggak mau bukunya, gue jadi berharap. Dan kebetulan penulisnya belum pulang. Gue mikir, minta ijin aja kali ya bukunya untuk gue? Langsung aja gue bbm si GM,
Gue: Pak…buku yang untuk bpk dr acara launching tadi boleh untuk sy nggak?
GM: Ambil saja
-->

Gue terlonjak senang. Salah satu anak GRO, Fenny, langsung antusias bantuin gue untuk manggilin si penulisnya. Dia juga bantu bukain bung kus plastiknya :D

Fenny melambai-lambaikan tangannya ke arah kanan gue. Pandangan gue pun berjalan menuju ke arah lambaiannya. Mata gue menangkap sosok gadis cantik dengan tinggi semampai bak model. Parasnya yang ayu layaknya gadis Indonesia asli benar-benar menghipnotis orang-orang yang menatapnya, menurut gue ya. Dan sebingkai senyum merekah tak pernah lepas dari wajahnya. Hmm… mukanya seperti Agni Pratistha yah? Mirip, sekilas. 

Setelah pandangan kami bertemu, ia tersenyum ke arah gue. Refleks gue ikutan senyum. Kemudian Fenny mengacung-ngacungkan buku tersebut sambil ditunjuk. Penulis itu mengarahkan telunjuknya secara bergantian ke arah gue dan Fenny. Fenny kontan menunjuk ke arah gue. Lalu penulis itu pun, Mbak Angkie, menunjuk ke arah gue. Gue bingung. Dia menunjuk gue lagi sembari menatap lurus manik mata gue. Gue tersadar, “Elnie, mbak. Untuk Elnie.”

Gue senyum kegirangan karena Mbak Angkie akan menanda tangani buku tersebut. Lalu dia tampak kebingungan, terdiam sesaat. Gue yang melihat gelagatnya ikutan bingung. Tersadar mungkin dia nggak tau jelas pengejaan nama gue, “ Echo Lima November India Echo… Elnie, mbak.” Gue tersenyum riang. Tapi tampang si mbak masih terlihat bingung walau gue udah mengeja nama gue dengan jelas. Gue jadi kebingungan sendiri.


Angkie Yudistia, Pita Biru, Cosmopolitan Fun Fearless Female, Thisable Enterprise


Oh! Bolpen! Akhirnya gue dan Fenny sibuk mencari-cari bolpen. Abis dikasih bolpen sama Fenny, mbak Angkie masih terdiam. Menatap ke arah gue, wajahnya menyiratkan kebingungan. Gue yang liat dia diem begitu jadi ikutan bingung. Udah gitu dari tadi dia nggak mau bersuara lagi. Ngomong kek apa yang bikin dia bingung. Pusing kan gue. Mbak Angkie masih memandang ke arah gue. Gue cuma bisa menampilkan muka pongo. Apalagi yang dia mau sih? Nama udah gue ejain, bolpen udah disediain. Akhirnya gue ejain lagi nama gue, “E L N I E, mbak. Echo Lima November India Echo!” Agak gereget ye gue ngejelasin hal yang sebenarnya bisa dikategorikan sepele.  

Ternyata dia masih bengong memandangi gue, sorot matanya seperti menunggu. Nah lho? Apa lagi sih yang salah?!

Pak Sandi, salah satu security kantor, menghampiri kami. Raut wajahnya sedikit sewot. Aneh! Dan tiba-tiba aja dia ngoceh sembari cari-cari, “Kertas… mana kertas?” Fenny dan gue akhirnya ikut-ikutan nyari yang diminta Pak Sandi. “Nih… nih pak.” Fenny menyodorkan selembar kertas reused yang hanya sebesar telapak tangan. “Buat apa sih pak?” tanya gue yang kebingungan. Pak Sandi mengeluarkan bolpen, lalu menatap gue, “Nama lo gimana, Nie?” Dan akhirnya pun gue mengeja ulang dari nama gue.

Setelah Pak Sandi selesai menuliskan nama gue, ia menyerahkan kertas itu untuk dibaca mbak Angkie. Secercah senyum merekah diwajah ayu mbak Angkie dan ia mulai membubuhkan tanda tangan dibuku karangannya yang akan segera beralih menjadi milik gue. Kemudian ia tersenyum dan menyerahkan buku tersebut. Gue langsung senyum kegirangan dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Ia pun pamit pergi.
Fenny nyeletuk, “Oh… pantees!” ia menggaruk-garuk pelan kepalanya yang gue rasa nggak gatel.
“Kenapa sih, Fen?”
Dengan tampang kebelet napsu Fenny menjelaskan bahwa si penulis itu juga disabilitas dalam mendengar. Gue cuma bengong, pongo. Ya Tuhan, she is so beautiful. Gorgeous. Dan dia memiliki kekurangan. “Serius-lo?” lidah gue kelu. Terbata-bata gue nanya si Fenny.
“Lo liat dong tadi ditelinganya ada alat.” Jawab Fenny sambil ngelus-ngelus telinganya sendiri.
Gue pun menyadari. Oh iya ya, tadi emang gue sempat melihat alat bantu pendengaran ada dikupingnya, tapi gue nggak yakin. Masa iya?
Saat itu gue tersadar. Orang nggak ada yang sempurna. Mbak Angkie cantik secara fisik, tapi hatinya pun nggak kalah cantik dengan fisiknya. Dia punya kekurangan, ya, tidak bisa mendengar. Tetapi itu bukan menjadikan batu penghalang untuk berbagi dan mengejar mimpi. 

Buktinya ia bisa membuktikan pada orang-orang dia bisa mengecap kehidupan seperti orang banyak. Berkuliah disalah satu universitas bonafit di Jakarta dengan menyabet gelar S2 dalam bidang komunikasi. Serta dapat bekerja di perusahaan yang juga nggak kalah keren. Lalu menjadi the most fun fearless female Cosmopolitan. Belum lagi prestasinya yang merupakan salah 1 pemudi yang terus menggerakan kesetaraan bagi kaum disabilitas. Lihat, betapa besar kontribusi yang diberikan oleh seorang Angkie Yudistia.

Gue langsung malu. Malu karena gue sempet sewot karena beliau nggak ngerti apa yang gue maksud sedari tadi. Dan malu karena gue yang sempurna secara fisik ini. Apa kontribusi gue bagi diri gue? Negara gue? Orang-orang di sekeliling gue? Apa sumbangsih gue? Nurani gue terketuk untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, terutama bagi yang membutuhkan. Satu hal yang gue percaya, ada tekad dan kemauan maka kita bisa menggapai mimpi kita. Dan, terima kasih untuk Mbak Angkie yang membuat gue tersadar serta mengguyurkan minyak ke api kecil nurani gue.

 
Monday, November 14, 2011

I'm blessed every second... every breath that i take...

Add caption

Dear God,
Thanx for Ur blessing everyday, every time. I’m blessed. Nggak terkira aku berterima kasih pada-Mu. Tak terhitung kasih dan perlindungan yang selalu Kau limpahkan dalam hidupku. Terima kasih selalu didekatkan dengan orang baik. Selalu dibimbing. Dijauhi dari mara bahaya. 

Terima kasih karena  Engkau menghadirkan Mama, sosok yang selalu menjadi panutan dan pengingatku. Terima kasih karena beliau aku terus menghargai tiap detik yang ada. Terima kasih karena beliau juga tiap aku akan bertindak semua terproses untuk memikirkan ulang apakah itu baik atau tidak, apakah itu akan melukainya di kemudian hari. 

Terima kasih Tuhan, kasih-Mu tak berkesudahaan untukku. Hidupku sempurna karena Engkau. Kesedihan di masa lalu mampu membuatku belajar untuk lebih berhati-hati ke depannya. Tapi jangan biarkan aku takut melangkah karena aku yakin Engkau selalu beserta dalam langkahku, Ya Tuhan. 

Ketika aku dalam keputus asaan, Engkau, melalui teman-temanku hadir untuk mendukungku. Kasih-Mu sempurna, Tuhan. Lindungilah orang-orang yang begitu baik padaku. Bukan karena hanya mereka baik padaku, tapi lindungilah hati mereka untuk selalu menebar kebaikan, tak hanya aku, tapi juga pada yang lain. 

Jamahlah ya Tuhan, hati orang-orang yang jauh dari-Mu. Rangkulah, dekatilah, seperti Engkau melakukan itu padaku. Sadarkan mereka bahwa itu semua berasal dari Engkau. Sadarkan kami untuk tidak saling membenci. Sentuhlah hati kami agar tidak dingin. Jadikanlah kami garam dan terang dunia. Amin                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
Friday, August 5, 2011

Proton VS Neutron

Gue selalu menyempatkan diri ke goa Maria apabila gue ke gereja. Begitu pun pagi ini, pagi di mana gue mengikuti misa suci seperti biasanya di minggu pagi. Gue berdoa dengan kushuk, bersyukur untuk segala yang telah diberikan oleh Dia, dan berdoa juga untuk melalui minggu depan yang kita nggak akan pernah tau seperti apa jelasnya. Oh ya, lupa ngasih tau kalau gue ini nasrani, Katolik lebih tepatnya. Gue sebenarnya bukan tipe rohaniwati sejati. Bukan juga yang selalu mengikuti misa. Tapi gue selalu berusaha berdoa di goa Maria yang mana menjadi tempat gue mencurahkan semuanya, berkomunikasi sama Tuhan dan Bunda Maria tanpa ada aturan ribet yang melekat. Antara gue dan Tuhan. That’s it! 

Dan pagi ini yang seharusnya menjadi pagi-pagi seperti sebelumnya, sedikit berbeda. Setelah gue ‘berkomunikasi’ dengan Tuhan, pandangan gue menangkap sosok kecil yang berdoa dengan serius. Gue mengamati dengan seksama, punggungnya naik turun tak beraturan, ah… dia menangis? Sosok kecil itu gue perkirakan umur 8 tahun-an, sepertinya. Sedikit bergeser ke arah anak itu untuk dapat membenarkan kesimpulan kasar gue semata.

Ternyata bener, bocah ini menangis. Gue cuma menatap patung Bunda Maria sambil berdoa dalam hati, ‘apapun hal yang membuat sedih anak ini semoga Engkau mendengarkan dan membantunya ya, Bunda dan Tuhan’, pinta gue saat itu. Anak itu membentuk tanda salib dikening, dada, bahu kiri lalu kanan, dan bibirnya melafalkan ‘Amin’.

Pelan, gue merapat ke anak itu, berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengajaknya ngobrol. Gue tersenyum, “Hai… kok nangis? Bunda Maria juga sedih lho kalo ada anaknya yang bersedih.” Seupaya gue untuk menghibur anak itu, yang ternyata emang nggak mudah untuk memulainya. Ia hanya menatap gue. Deg! Tatapan matanya sedih dengan air mata yang terus turun, anak sekecil ini punya beban apaan sampe sedalam itu?, pikir gue. Anak ini lucu yah mukanya. Tembem, putih. Jadi pengen punya adik deh. Gue lalu inisiatif menggenggam tangannya dan mengusap pelan, serta mengulurkan tangan kanan gue. “Hai, namaku Elnie. Nama kamu siapa?” Sebisa mungkin gue berusaha menggambarkan keceriaan di wajah karena ingin anak itu merasakannya. Ragu dia menyambut uluran tangan gue, “Namaku Gita.” jawabnya masih dengan sesegukan. Gue mengusap pelan air matanya, “Gita kok nangis sih? Kan Gita udah berdoa sama Tuhan dan Bunda Maria, seharusnya Gita percaya dong Tuhan akan menyelesaikan masalah Gita,” kata gue. Tatapannya kosong memandang ke bawah. Dia menangis pelan, gue hanya bisa mengusap-usap pelan punggungnya. Jujur, sebenarnya gue bingung, gimana pula nenangin anak ini dan anak orang juga. Takut gue dikira bikin nangis anak orang. Untung sepi. 

Gita menatap gue, “Gita cuma pengen papa pulang, kak…” katanya tiba-tiba. Saat itu gue kaget, seneng.., ya intinya perasaan gue campur aduk. Akhirnya nih anak ngoceh juga. “Lho… emang papa-nya Gita ke mana?” gue beraniin diri untuk bertanya lebih lanjut. “Kata Mama, papa Gita pergi jalan-jalan sama Tuhan.” Deg! Oh em ji… maksudnya? Maksudnya, bokapnya udah nggak ada, gitu? Meninggal?? “Maksudnya gimana, Git?” tanya gue. Matanya mulai berbayang, “Gita cuma pengen papa pulang. Papa pergi dari bulan lalu tapi nggak pernah balik. Nggak ada kabar. Mama juga sedih karena papa nggak pulang-pulang, kak. Pas Gita tanya sama Mama di mana Papa, Mama bilangnya Papa lagi jalan-jalan sama Tuhan.” Air matanya bergulir.

Terenyuh hati gue, gue peluk tuh anak. Kasian banget sih! Masih kecil udah keilangan bapaknya. “Gita, jagain Mama yah. Papa mungkin dapet tugas penting dari Tuhan, jadi jalan-jalannya lama deh.” Cuma itu yang kepikiran dan bisa gue omongin ke tuh anak. Speechless. Dia melepas pelukan gue, “Tapi Gita kangen banget sama Papa, kak. Biasanya Papa selalu anter jemput Gita, ajarin PR kalo Gita nggak bisa. Marahin Gita kalo salah.” Gue menelan ludah, I never feel it. I have no chance to feel father’s love. Gue bingung banget saat itu. Gimana gue mau menghibur orang dengan masalah kayak gitu, kenyataannya aja gue nggak pernah tau kayak apa kasih sayang bokap. Walau sempat terlintas keinginan, coba gue ngerasain kasih sayang seorang ayah. 

“Kak, kalo Papa kakak kayak gimana? Kalo Papa Gita tuh tinggi, cakep, sayaaang banget sama Gita.” Wajahnya tampak sedikit bersemangat, dengan manik berbinar ketika mendeskripsikan ayahnya. Gue yang dikasih pertanyaan itu malah bengong. Jawab apaan yah? “Kalo Papa kakak…” gue memutar otak, “Papa kakak tuh ganteng! Tinggi, idungnya mancung. Serasi deh sama Mama-nya kakak.” Jawab gue sambil menerawang, mengingat-ingat wajah bapak gue sendiri difoto. Gita antusias, “Beneran kak?” Gue mengangguk pelan. Walau gue nggak tau aslinya, at least sekarang gue udah bisa bikin nih anak mengalihkan kesedihannya, “Pokoknya yah, Papanya kakak tuh ganteeeng banget!” I wish I could say it when I see him in real life, in front of his face.

Dari jauh sayup-sayup seorang ibu-ibu memanggil nama Gita. “Kak, itu Mama Gita. Gita  mau pulang dulu yah. Makasih ya, kak. Besok-besok kita ketemu lagi, ok?” diulurkan kelingkingnya yang mungil kehadapan gue. Gue tersenyum kecil. Ah, anak ini… bikin gue kangen deh sama masa kecil. Gue pun menyambut kelingkingnya sambil tertawa kecil. “Kita ketemu lagi yah. Tapi Gita harus janji sama kakak untuk jagain Mama dan selalu yakin Papa aman sama Tuhan.” Gita mengangguk mantap.

“Gitaa….” Dari jauh terdengar ibu-ibu terus meneriakan namanya.

Dia berdiri, mencium pipi kanan gue kilat, dan berbalik lari sembari melambaikan tangannya, “Janji yah kaaak… Gita juga janji sama kakak.” Teriaknya hingga hilang menjauh. Gue tersenyum sambil melambai.
‘Kalo emang Tuhan punya rencana pasti kita ketemu lagi ya, Git.’ ujar gue dalam hati. Saat itu yang terlintas dalam otak gue adalah pulang. Tanpa pikir panjang, setelah berdoa sebentar untuk Gita, gue beranjak dari situ. Di perjalanan gue berpikir, flash back. Kayak apa yah bokap gue? Apa masih kecil gue pernah nanyain ke nyokap gue kemana bokap gue? Apa gue pernah ngerasa kesepian tanpa bokap? Seberapa kuatnya nyokap gue tanpa bokap? Banyak pertanyaan yang mencuat dalam pikiran gue. Nggak adanya bokap sejak gue 5 bulan dikandungan emak gue, membuat gue nggak merasa aneh dan kehilangan, mungkin. Karena gue merasa gue punya nyokap, dan gue bahagia untuk itu.

Sesampainya di rumah, gue penasaran. Gue tanya ke nyokap, “Mah… dulu masih kecil aku pernah tanya nggak papaku kemana?” Mama tersenyum, teduhnya senyuman beliau sampai gue berasa nyaman banget! “Ada apa kamu nanya hal ini? Tumben-tumbenan anak Mama nanya hal kayak gini. Pulang dari gereja bukannya laporan dulu tadi misa gimana, ini malah langsung nanya yang aneh-aneh.” Gue geregetan, “Aah… Mama, jawab aja. Aku pengen tahu. Apa aku kayak anak-anak lain yang nanyain papanya kemana.” Mama membelai rambut gue, “Nggak. Kamu penurut dan pengertian. Mama cuma bilang sebelum kamu akan bertanya, ‘Eca jangan tanya dulu yah masalah papa. Nanti pasti Mama jelasin masalah Papa kemana.’ Dan kamu manggut, mengerti.” Gue memeluk nyokap gue, “Mah, aku sayang Mama.”

Gue kilas balik kejadian hari ini. Buat gue nyokap segalanya. Perihal bokap gue, baik buruknya beliau sama nyokap gue, itu masa lalu. Sekarang adalah gue dan nyokap gue, kehidupan kita. Sejeleknya bokap gue, dia tetap bokap gue. Emang mungkin bokap gue udah bertindak nggak menyenangkan, menorehkan luka, terutama ke nyokap gue. Tapi gue nggak bisa nggak mengakui dia bokap gue. Karena itu kenyataan yang nggak bisa gue pungkiri, apalagi diganti. Gue yakin bokap gue punya sisi positifnya. Hidup itu kan seimbang, antara positif dan negatif. Proton dan neutron. 

Yang bisa gue lakukan adalah, mengambil sisi positif dari bokap gue. Atau bisa dibilang, nggak mengaplikasikan sifat negatifnya dalam diri gue. Well, I ever blamed him about all happened in our lives. Gue malah bangga banget dengan nyokap gue. Nyokap bisa bertindak seperti bokap, sahabat, guru,… pokoknya segalanya deh! She’s the best and the one! Masalah gue nggak pernah ngerasain kayak apa kasih sayang bokap? Yah, terpikir sih dibenak gue kayak apa. Tapi itu nggak membuat gue jadi menyalahkan keadaan. Karena gue yakin, Tuhan ingin gue belajar dan menjadi kuat seperti nyokap gue. 

Dan untuk Gita, semoga Papa Gita tenang di sisi-Nya. Kakak harap Gita bisa mengenang Papa Gita dan menjadi kekuatan Mama Gita ya, sayang. Tuhan pasti akan selalu menyertai langkah kamu. Asal kamu percaya dan berserah pada-Nya. Ia akan mengatur keindahan dalam hidup Gita. I miss you, Git.

Pussycat-Doll?

28 Febuari 2009
By the way, 2 days ago tepatnya hari kamis, gue menemukan seekor anak kucing yang masih mungil dan lucu di dekat pintu rumah. Gemes banget gue ngeliatnya. Actually, ada 3 ekor sih. Cuma kenapa gue lebih tertarik sama kucing yang satu ini? 
 Dia sakit. Nggak tau sakit apa. Gue cuma kasihan ngeliatnya. Mana emaknya ninggal-ninggal gitu. Kayak anak buangan yang nggak dipeduliin orang tuanya gitu. Sedih bener nasibnya. Oh iya, awalan cerita dimulai dari seekor kucing betina dengan 3 ekor anaknya udah ada di area rumah gue kisaran beberapa hari yang lalulah. Tuh kucing tadinya ada di pojokkan halaman rumah gue, deket rumah gadang yang emang sengaja dibangun nyokap gue. Terus, besok paginya udah tiba-tiba di deket pintu rumah. Nah lho? Bingung, kan.... Gue sama nyokap sih cuek aja. Pikiran cuma kucing doang gitu lho. Nanti juga pergi ngelayap ke mana-mana. 

Tapi setelah itu, ketinggalanlah seekor anak kucing yang selama 2 hari ini menjadi pusat perhatian gue sama nyokap. Gimana nggak jadi perhatian kalo badannya tuh ringkih banget. Terus, pake acara bersin-bersin gitu lagi. Sebenernya bunyi bersinnya tuh lucu banget. Tapi masa gue seneng ngeliat kucing menderita untuk bersin terus? Nggak mungkin dong. Dan yang buat nyokap dan gue makin sedih saat kita ngeliat dia jalan. Ya Tuhan... Gue nggak bisa ngomong deh. Sumpah! Kasian banget! Udah kayak orang patah tulang lagi jalan. Kayaknya persendian tulang-tulangnya ada masalah. Soalnya jalannya patah-patah terus ngerangkak-rangkak gitu. Mana matanya sebelah nutup sebelah ngebuka. 
Kata nyokap gue, kayaknya sejak lahir emang udah sakit tuh anak kucing. Soalnya emak gue suka nengokin sarang tuh kucing, dari ketiga anak kucing, dia doang yang kagak berkembang. Yang laennya udah mulai gedean terus giat nyusu, nah yang ini... sama sekali kayaknya belum menyentuh ASK (Air Susu Kucing, hehehe). 

Inisiatif aja gue langsung ngambil susu HiLo yang baru gue beli tadi siang di Carrefour. Gue buat 1 gelas, sekalian entar sisanya gue minum, maksudnya. Tapi buat si kucing udah gue resapin ke tissue. Kan biar gue gampang suapinnya. Soalnya kalo tuang ke mangkok, kayaknya dia nggak sanggup minum sendiri deh. Ngangkat badan aja susah gitu, gimana buat minum susu di dalam mangkok? Berhubung nggak punya pipet, ya mau nggak mau pake cara netesin susu dengan tissue. Gue tuang susu ke tissue pake sendok teh, pelan-pelan. Tangan gue pelan-pelan megangin tengkuk dia buat dimiringin dikit. Abis itu gue deketin tuh tissue ke mulut si kucing kecil dan gue peras pelan-pelan biar netes ke mulutnya. Beberapa kali kayaknya dia nelen tuh tetesan susu yang gue kasih. 
Sambil ngasih minum, mulut gue komat-kamit supaya Tuhan ngasih dia kesempatan hidup. Sedih ajalah, masa dilahirin cuma buat mati? Nggak lucu juga kan. Setelah gue ngasih susu, sambil ditontonin emak gue, gue minum susu digelas yang masih sisa banyak itu. Mata gue nggak beralih dari kucing malang itu. Sampai akhirnya gue sama nyokap masuk ke dalam rumah, soalnya udah malem. Gue sempet nanya ke nyokap, “Apa kita bawa ke dokter hewan aja, ya?” Mama cuma ketawa ngakak ngedengar saran gue yang katanya nggak wajar. Akhirnya gue diem aja.


Besok pagi gue bangun pagi-pagi langsung buka pintu rumah buat memastikan kondisi si kucing kecil. Dia tetep begitu aja, nggak ada perubahan berarti. Sedih sih pasti. Gue ngerasa tuh kucing nelangsa. Gue sampai sering bertanya ke nyokap, “Mah, apa dia bisa tahan?” Nyokap gue cuma bisa menggendikkan bahu. Abis beliau juga bingung mau jawab apa. Malah beliau berkata, “Lu kira gue Tuhan? Mana gue tau. Yang penting kita udah usahalah.” Mungkin saking bosennya gue bertanya bekali-kali dengan pertanyaan yang sama kali, hehehe.... Gue cuma bisa ngangguk-angguk aja. Abis itu nggak lupa gue ngasih dia susu lagi. Gue perhatiin, kok kayaknya dia makin nggak berdaya, ya? Apa perasaan gue aja? Duh... jangan mati dong. Gue pengen ngeliat lo maen sama sodara-sodara lo yang lain. Setelah melakukan ritual memberi minum susu, gue melakukan aktivitas seperti biasa. Dan nyokap gue yang jadi suster si kucing, dipantau perkembangannya. 

Tiba-tiba aja nyokap gue panik heboh sendiri di halaman. Berhubung gue lagi di dalam rumah, ngelanjutin novel gue. Kontan gue berlari keluar, “Kenapa, Mah?” Si Mama minta bantuan gue buat bukain payung usang yang sebenernya masih bisa dipake, cuma emang ujung-ujungnya ada yang kelepas dari kerangkanya aja. Nyokap gue nyuruh gue buat taruh tuh payung di sisi si kucing. Soalnya emang tiba-tiba aja langit yang tadinya mendemonstrasikan panas sinarnya, berubah jadi suram dan mulai menitikkan tetesan air. Gue juga ngerasa ketakutan tuh kucing malah makin parah lagi kalo kena hujan. Untung Mama nggak kehabisan akal, jadi dipayungin deh dia. Ya udah, gue sama nyokap masuk rumah. 
Ujan cukup deras. Sempet was-was juga. Moga-moga tuh payung kagak kebawa angin. Sorenya pas hujan udah berhenti, gue sama nyokap keluar halaman buat mastiin keadaan tuh kucing. Pas kita longok ke bawah payung, KOK KUCINGNYA NGGAK ADA? Mampus lho! Ilang lagi!? Duh... macem-macem deh pikiran kita, kalut. Gue cari pelan-pelan. Gue telusurin pinggir-pinggir rumah gue. Ketemu! Dia lagi tergolek lemah di deket pintu garasi. Gue perhatiin, napasnya udah satu-satu. Perutnya kembang kempis secara perlahan. Duuhh... makin nggak tega gue. Gue bilangkan ke nyokap kalo dia ada di mana. Kata nyokap biarin aja, jangan diganggu. Kasian dia. Tapi nyokap sempet ngelongok juga.

Besok paginya... berita duka. Si Kucing udah lewat. Perutnya sama sekali nggak bergerak. Nggak ada tanda-tanda kehidupan. Sedihnya.... Gue sebagai manusia berasa nggak berarti dah. Nyelamatin nyawa kucing aja nggak becus. Terus nyokap gue suruh si Bibi buat ngegaliin lobang. Rencananya emang mau kita kubur kalo sampai si kucing mati. Eh, bener kejadian. Gue cuma bisa ngeliatin proses penguburan si kucing. Nyokap gue lagi sibuk sama tanaman kembangnya. Setelah ditimbun di dalam tanah hingga rapi, gue beranjak untuk samperin nyokap gue yang sedari tadi sibuk metikin bunga berwarna merah. “Buat apaan, Mah?” tanya gue yang bingung merhatiin tingkah beliau. Soalnya Mama metikin tuh kembang sampai seraup telapak tangan. “Buat kuburan si kucinglah,” jawabnya singkat. Gue cuma bisa ber-oh. Terus nyokap ngeloyor pergi ke kuburan si pitik. Gue ngekor dari belakang. Kita taburin bareng-bareng kembang hasil petikan nyokap ke pusaranya. Gue cuma bisa doa, semoga dia tenang di alam sana. Amin.

Esok harinya. Pagi-pagi seperti pagi lainnya, gue bangun langsung menuju halaman rumah. Ekor mata gue menangkap sosok Mama yang bergerak jalan mengarah ke gue. Setelah agak dekat, gue tanya, “Abis ngapain, Mah?” Terus nyokap bilang kalo dia abis ke makam si kucing buat tabur bunga sama doa. Gue cuma bisa cengengesan. Abisnya, awal-awal kan si Mama cuek bebek ama si kucing kecil itu, tapi sekarang malah dia yang sibuk sendiri. Dari kasus ini gue bisa ngambil kesimpulan bahwa kita seharusnya bisa menghargai tiap detik yang berlalu dengan kejadian-kejadian menakjubkan dalam hidup kita. Karena kita nggak akan pernah tau kapan ajal menjemput seperti si kucing itu. Nikmatilah hidup ini sebaik mungkin dengan orang di sekeliling kita dengan penuh kasih.... Dan hargai tiap detik kebersamaan itu. Karena belum tentu detik berikutnya lo bisa ngeliat mereka kan?