Pages

Thursday, March 15, 2012

Buta nggak hati gue (?)

Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya gue ke kantor. Ya, kantor gue terletak di bilangan Karet yang lagi super duper macetnya itu lho! Dan gue yang naik bus AC kayak hari-hari lainnyalah. Tumbennya hari itu, gue berangkat pagian. Jam 6 kurang sudah siap siaga berjibaku dengan para penumpang bus lainnya. Hingga nongol si bus patas AC yang ternyata fansnya nggak kalah banyak dengan Adele ‘Chasing Pavement’.

Untungnya karena masih pagi, bus dalam keadaan sepi. Otomatis gue dapat tempat duduk. Karena sistem pagi hari jam kerja tuh, '5 menit itu menentukan nasibmu'. Ya, nasib lo bakal dapet tempat duduk atau berdiri sambil pegangan bak bergelayut layak onyet. Belum lagi jempet-jempetannya. Thanx God banget deh!

Seringnya kalau gue dapet duduk di bus patas AC, sembari menunggu perjalanan panjang sampai ke tempat tujuan, gue… tidur. Iye, tidur. Lumayan 1 jam buat tidur kan tuh. Makanya senang banget gue berangkat pagi-pagi. Selain efek ontime-nya, tapi lebih ke quality sleeping beauty-nya itu lho! MOMENTUM! Dan lucunya, pada saat bus yang gue naiki ini hampir sampai tempat tujuan, Benhil, alarm biologic gue pasti ON. Langsung melek seketika. Dan itu terjadi, selalu. Ya, pernah siiih bablas sampai Thamrin. -_- agak konyol memang. 

Nah, pas sampai Benhil gue siap-siap berdiri dong mau turun. Sikut-sikutan deh sama penumpang yang berdiri kagak kedapatan tempat duduk. Pas gue berdiri itu, selang 2 bangku di depan gue ada ibu-ibu ngoceh kenceng banget. “Timoti…hati-hati ya. Shalom, Timoti!”

Wah, nasrani tuh ibu. Mata gue yang kepo langsung mencari-cari sosok yang dipanggil timoti-timoti tersebut. Tau sendiri manusia itu kepo-isme. Kalau nggak kepo bukan manusia namanya. 

Mungkin anak si  ibu apa? Tapi sepertinya bukan. Ah, sudahlah.
 
Dan mata gue pun mengunci sosok agak tambun, kemeja biru lengan panjang digulung sesiku, dengan celana hitam panjang. Gayanya seperti orang kantoran kebanyakan. Hooo… bapak-bapak toh, kata gue membatin.

Oh iya, lupa bilang. Bus patas AC itu kalau pagi-pagi pasti nurunin penumpang tuh di jalur cepat. Jadi nggak mungkin jalur lambat. Walhasil harus nyebrang. Pas akhirnya kaki gue menjejakkan tanah pagar pembatas, bersiap untuk menyeberang ke bahu jalan jalur lambat. Nah… saat itu nggak hanya gue sendiri, kebetulan banyak penumpang bus yang turun di situ juga. Gue berencana nyebrang bareng.  
picture taken from http://bit.ly/JCXtDE

Dan saat gue mau nyebrang, mata gue tertumbuk pada sosok bapak-bapak agak tambun yang bisa gue tarik kesimpulan si Timoti itu. Yang menarik perhatian bukan badannya yang agak tambun, tapi dia mengeluarkan tongkat dan memanjangkannya. O… ow… ternyata beliau tuna netra. Saat itu gue sempet bengong. Gue liat orang-orang yang berdiri di sampingnya malah cuek nyebrang sendiri, malah ada yang menghindar dan menyingkir ke sisi kanan gue buat nyeberang bareng sama orang-orang lain. Akhirnya pada nyeberang tuh rame-rame. 

Tinggal gue masih tergugu, bengong. Gue mikir, ini orang kok yah pada tega bener nggak ada yang bantu? Emang dia bisa nyeberang sendiri apa? Tau sendiri di jalan protokol Sudirman gitu, pengguna jalannya suka nyetir seenak jidat. Ya salah kita juga sih turun di tengah jalan. Tapi nggak salah kita juga 100%. Salah abang busnye kenapa kita diturunin ditengah jalan?! 

Oke, balik lagi ke si bapak. Tiba-tiba aja gue melihat si bapak mengambil gerakan untuk bergegas nyebrang. Tanpa habis pikir gue langsung gandeng tangannya. Awalnya sih akward moment ya. Gue genggam tangan orang asing, di jalanan pula. Udah kayak ditipi-tipi. “Bapak mau kemana? Sini saya bantu. Kita nyeberang bareng-bareng ya, pak.” Ujar gue. Saat itu, entah dapat keberanian dari mana gue bertindak seperti itu. Emrejing!!!

“Oh, makasih ya, de’. Nggak usah repot-repot. Yang penting saya diseberangkan ke seberang saja. Nanti saya bisa sendiri kok,” jawabnya dengan nada penuh semangat seraya memberikan senyuman.

Dan dengan gaya bak wanita perkasa *benerin poni* gue seberangin tuh bapak sampai di tempat yang aman. “Bapak kantornya dimana? Mari saya antar, pak.”

Dan modal nekat dengkul mengkilat, gue menanyakan di mana kantor atau alamat yang dituju tuh bapak. Karena gue nggak tega banget! Asli! Ngeliat bapak-bapak tuna netra sendirian, mana orang tega-tega bener kagak peduli.

“Nggak usah repot-repot, de’. Kamu kerja?” Dan begonya gue mengangguk-angguk dengan semangat. Padahal jelas-jelas si bapak nggak bisa liat gue, “Iya, pak.”

Gue dan si bapak berjalan beriringan

“Kantornya dimana?” tanyanya, pelan.

Gue yang lagi nimbang-nimbang nganterin si bapak apa tinggalin aja di situ menjawab sekenanya, “Kantor saya di karet, pak. Tinggal nyeberang naik angkot.” Nggak penting juga kan gue bilang kerja di perusahaan apa.

“Ya udah. Saya di sini aja nggak apa-apa. Kamu berangkat ke kantor saja.”

Nggak, tekad gue udah bulat seperti bola ping pong. Gue pun memutuskan akan mengantar si bapak hingga ke tempat tujuan. Bodo’ amat deh telat-telat, kan bisa alesan apa gitu sama HRD *big grin*.

 “Udah pak, nggak apa-apa. Saya antarkan. Letak kantor bapak di mana?”

Lalu dia menunjukkan jalan, bahwa gue harus menyebrangi dia sekali lagi yang mana itu depan ANZ tower situ. Setelah gue sebrangin, dia pun menolak lagi niat gue untuk nganterin dia dengan selamat ke tempat yang dia tuju. Si bapak bilang nanti akan ada orang yang menjemput dia. Berkali-kali gue meyakinkan beliau dan puji Tuhan, selang beberapa menit ada bapak-bapak berkumis menghampiri kami. Dan si bapak pun tampak mengenali suara si bapak kumis tersebut. Karena setelah bapak kumis itu menyapanya, lagi-lagi senyum menghiasi wajah si bapak. Kedua bapak itu pun akhirnya berjalan menjauh, berlawanan arah dengan rute yang gue tuju. 

Tapi gue nggak beranjak, gue terdiam. Gue mengamati punggung bapak Timoti itu hingga tertelan dikerumunan orang lalu lalang. Gue tertegun, gue terharu. 

Gue sedih. Gue malu. Gue bersyukur. Terima kasih Tuhan. Dalam rencana-Nya, Tuhan mempertemukan gue dengan bapak ini. Terima kasih bahwa hati nurani gue belum mati. Positifnya, Tuhan baik. Masih mengingatkan gue untuk peduli. Bahwa gue bukan masyarakat kebanyakan yang terlalu cuek dengan sekeliling. Dan gue mengucap syukur dengan memiliki panca indera yang tak kurang satu pun dengan kelengkapannya. Bahwa gue masih diberi kesempatan untuk menolong orang. 

Dan gue disadarkan untuk malu karena orang yang disabilitas seperti itu pun masih memiliki semangat kerja yang tinggi. Dan nggak selayaknya gue bermalas-malasan, apalagi gue masih muda. Jadi, mari kita peka terhadap sekeliling untuk lebih peduli sesama. Melek. Jangan membutakan kejujuran yang muncul dari hati lo. Karena pada dasarnya manusia itu individu yang tidak bisa hidup sendirian.

Hidup itu indah, bro!


picture taken from http://bit.ly/btJep4
Dalam pembukaan ini gue ingin berterima kasih atas karunia Tuhan yang nggak henti-hentinya mengalir ke hidup gue. Dan terima kasih atas pembelajaran berharga dan proses pendewasaan yang hadir tiap saatnya. Tuhan, makasih banget!

Bahwa dari segala kejadian ataupun musibah ada pelajaran berarti yang terselip. Dan sangat berterima kasih karena itu semua sekarang aku telah menjadi pribadi yang lebih kuat, tegar, mandiri. Terima kasih karena Tuhan nggak pernah ninggalin disaat baik hingga terburuk sekali pun. Terima kasih, karena Engkau memberikan kekuatan yang luar biasa hingga aku bisa bertahan ya, Tuhan. Dan terima kasih selalu diterangi jalan dan langkah. Bahwa didalam kebenaran-Mu dan keyakinan aku terus melangkah, pasti. Terima kasih di saat aku kehilangan semuanya, Engkau tidak sedikit pun meninggalkanku, atau pun lupa. Tapi Engkau memperlihatkan kebenaran, ketulusan, dan arti dari kasih.


Terima kasih Engkau memberikan penglihatan untuk melihat kebaikan-kebaikan yang terjadi di sekelilingku. Tidak, kejadian tidak enak bukan untuk disesali. Tapi untuk pembelajaran ke depan agar tidak diulangi dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, serta bijak. Dan terima kasih bahwa Engkau selalu mengetuk dan menyadarkanku bahwa kita hidup tak sendirian. Bahwa hati nuraniku belum mati. Masih tertegun melihat miris kehidupan orang-orang yang jauh tidak beruntung dariku. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Engkau selalu memberi warna. Terima kasih juga selalu mengingatkanku ketika aku silap atau lupa. Engkau di sana, menuntun dan membimbingku. Biarkan aku bersandar pada-Mu, mengandalkan-Mu.

Dan Engkau membuatku selalu bersyukur walau keadaan itu tidak sesuai harapan. Engkau mengajarkanku menerima dan menikmati semua yang terjadi di dalam kehidupan ini dengan hikmat dan kesabaran. Karena kehidupan ini akan indah pada waktunya.