Pages

Monday, February 27, 2012

Cinta itu nggak bisa dipaksakan…

picture taken from http://bit.ly/I9rawJ
Ada yang bilang cinta itu bisa mengalir sendirinya seiring waktu berjalan atau ada lagi yang bilang asal duit ada, cinta mah jalan sendiri nantinya.

Perbedaan itu indah. Diciptakan Tuhan untuk memberikan warna kehidupan dalam tiap individu.Untuk saling melengkapi dan memberi arti. Tapi bilamana dengan individu yang tepat, jodoh.Tuhan akan menghadirkan orang yang tepat diwaktu yang tepat. Bila tidak, jadikanlah bagian hidupmu penuh warna sebagaimana warna sahabat.
Sunday, February 19, 2012

Secercah Harapan!

Angkie Yudistia, Pita Biru, Cosmopolitan Fun Fearless Female, Thisable Enterprise
picture taken from http://bit.ly/JER8tt


Kehidupan itu sebuah pilihan… Hari ini, Selasa 20 Desember 2011 pkl. 16.19 WIB. Hati gue terketuk, terhenyak barang beberapa detik. Tadi siang, sekitar jam duaan, di kantor gue sedang ada launching buku Perempuan Tuna Tungu Menembus Batas oleh AngkieYudistia. Gue yang iseng mampir ke lobby di mana acara tersebut dilangsungkan, dan sudah berakhir.
Sengaja gue datang pas acara sudah selesai, males liat keramaian. Gue yang iseng-iseng nongol itu beranjak ke arah meja resepsionis menanyakan gratisan :D seperti biasa kalau di kantor ada event pasti kecipratan gratisan. Entah itu dalam bentuk makanan, cinderamata, atau souvenir. Nah, ternyata bener! Mereka, anak-anak GRO dan resepsionis, dapat gratisan buku. Gue pun nggak mau ketinggalan dong. Gue langsung heboh nanyain ada kesisaan yang nganggur nggak buat gue. Ternyata nihil.
Walau ada 1 tapi itu milik GM Marketing. Nggak mungkin gue ambil. L Tapi setelah anak-anak pada bilang bahwa si GM nggak mau bukunya, gue jadi berharap. Dan kebetulan penulisnya belum pulang. Gue mikir, minta ijin aja kali ya bukunya untuk gue? Langsung aja gue bbm si GM,
Gue: Pak…buku yang untuk bpk dr acara launching tadi boleh untuk sy nggak?
GM: Ambil saja
-->

Gue terlonjak senang. Salah satu anak GRO, Fenny, langsung antusias bantuin gue untuk manggilin si penulisnya. Dia juga bantu bukain bung kus plastiknya :D

Fenny melambai-lambaikan tangannya ke arah kanan gue. Pandangan gue pun berjalan menuju ke arah lambaiannya. Mata gue menangkap sosok gadis cantik dengan tinggi semampai bak model. Parasnya yang ayu layaknya gadis Indonesia asli benar-benar menghipnotis orang-orang yang menatapnya, menurut gue ya. Dan sebingkai senyum merekah tak pernah lepas dari wajahnya. Hmm… mukanya seperti Agni Pratistha yah? Mirip, sekilas. 

Setelah pandangan kami bertemu, ia tersenyum ke arah gue. Refleks gue ikutan senyum. Kemudian Fenny mengacung-ngacungkan buku tersebut sambil ditunjuk. Penulis itu mengarahkan telunjuknya secara bergantian ke arah gue dan Fenny. Fenny kontan menunjuk ke arah gue. Lalu penulis itu pun, Mbak Angkie, menunjuk ke arah gue. Gue bingung. Dia menunjuk gue lagi sembari menatap lurus manik mata gue. Gue tersadar, “Elnie, mbak. Untuk Elnie.”

Gue senyum kegirangan karena Mbak Angkie akan menanda tangani buku tersebut. Lalu dia tampak kebingungan, terdiam sesaat. Gue yang melihat gelagatnya ikutan bingung. Tersadar mungkin dia nggak tau jelas pengejaan nama gue, “ Echo Lima November India Echo… Elnie, mbak.” Gue tersenyum riang. Tapi tampang si mbak masih terlihat bingung walau gue udah mengeja nama gue dengan jelas. Gue jadi kebingungan sendiri.


Angkie Yudistia, Pita Biru, Cosmopolitan Fun Fearless Female, Thisable Enterprise


Oh! Bolpen! Akhirnya gue dan Fenny sibuk mencari-cari bolpen. Abis dikasih bolpen sama Fenny, mbak Angkie masih terdiam. Menatap ke arah gue, wajahnya menyiratkan kebingungan. Gue yang liat dia diem begitu jadi ikutan bingung. Udah gitu dari tadi dia nggak mau bersuara lagi. Ngomong kek apa yang bikin dia bingung. Pusing kan gue. Mbak Angkie masih memandang ke arah gue. Gue cuma bisa menampilkan muka pongo. Apalagi yang dia mau sih? Nama udah gue ejain, bolpen udah disediain. Akhirnya gue ejain lagi nama gue, “E L N I E, mbak. Echo Lima November India Echo!” Agak gereget ye gue ngejelasin hal yang sebenarnya bisa dikategorikan sepele.  

Ternyata dia masih bengong memandangi gue, sorot matanya seperti menunggu. Nah lho? Apa lagi sih yang salah?!

Pak Sandi, salah satu security kantor, menghampiri kami. Raut wajahnya sedikit sewot. Aneh! Dan tiba-tiba aja dia ngoceh sembari cari-cari, “Kertas… mana kertas?” Fenny dan gue akhirnya ikut-ikutan nyari yang diminta Pak Sandi. “Nih… nih pak.” Fenny menyodorkan selembar kertas reused yang hanya sebesar telapak tangan. “Buat apa sih pak?” tanya gue yang kebingungan. Pak Sandi mengeluarkan bolpen, lalu menatap gue, “Nama lo gimana, Nie?” Dan akhirnya pun gue mengeja ulang dari nama gue.

Setelah Pak Sandi selesai menuliskan nama gue, ia menyerahkan kertas itu untuk dibaca mbak Angkie. Secercah senyum merekah diwajah ayu mbak Angkie dan ia mulai membubuhkan tanda tangan dibuku karangannya yang akan segera beralih menjadi milik gue. Kemudian ia tersenyum dan menyerahkan buku tersebut. Gue langsung senyum kegirangan dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Ia pun pamit pergi.
Fenny nyeletuk, “Oh… pantees!” ia menggaruk-garuk pelan kepalanya yang gue rasa nggak gatel.
“Kenapa sih, Fen?”
Dengan tampang kebelet napsu Fenny menjelaskan bahwa si penulis itu juga disabilitas dalam mendengar. Gue cuma bengong, pongo. Ya Tuhan, she is so beautiful. Gorgeous. Dan dia memiliki kekurangan. “Serius-lo?” lidah gue kelu. Terbata-bata gue nanya si Fenny.
“Lo liat dong tadi ditelinganya ada alat.” Jawab Fenny sambil ngelus-ngelus telinganya sendiri.
Gue pun menyadari. Oh iya ya, tadi emang gue sempat melihat alat bantu pendengaran ada dikupingnya, tapi gue nggak yakin. Masa iya?
Saat itu gue tersadar. Orang nggak ada yang sempurna. Mbak Angkie cantik secara fisik, tapi hatinya pun nggak kalah cantik dengan fisiknya. Dia punya kekurangan, ya, tidak bisa mendengar. Tetapi itu bukan menjadikan batu penghalang untuk berbagi dan mengejar mimpi. 

Buktinya ia bisa membuktikan pada orang-orang dia bisa mengecap kehidupan seperti orang banyak. Berkuliah disalah satu universitas bonafit di Jakarta dengan menyabet gelar S2 dalam bidang komunikasi. Serta dapat bekerja di perusahaan yang juga nggak kalah keren. Lalu menjadi the most fun fearless female Cosmopolitan. Belum lagi prestasinya yang merupakan salah 1 pemudi yang terus menggerakan kesetaraan bagi kaum disabilitas. Lihat, betapa besar kontribusi yang diberikan oleh seorang Angkie Yudistia.

Gue langsung malu. Malu karena gue sempet sewot karena beliau nggak ngerti apa yang gue maksud sedari tadi. Dan malu karena gue yang sempurna secara fisik ini. Apa kontribusi gue bagi diri gue? Negara gue? Orang-orang di sekeliling gue? Apa sumbangsih gue? Nurani gue terketuk untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, terutama bagi yang membutuhkan. Satu hal yang gue percaya, ada tekad dan kemauan maka kita bisa menggapai mimpi kita. Dan, terima kasih untuk Mbak Angkie yang membuat gue tersadar serta mengguyurkan minyak ke api kecil nurani gue.