Pages

Monday, February 27, 2012

Cinta itu nggak bisa dipaksakan…

picture taken from http://bit.ly/I9rawJ
Ada yang bilang cinta itu bisa mengalir sendirinya seiring waktu berjalan atau ada lagi yang bilang asal duit ada, cinta mah jalan sendiri nantinya.

Perbedaan itu indah. Diciptakan Tuhan untuk memberikan warna kehidupan dalam tiap individu.Untuk saling melengkapi dan memberi arti. Tapi bilamana dengan individu yang tepat, jodoh.Tuhan akan menghadirkan orang yang tepat diwaktu yang tepat. Bila tidak, jadikanlah bagian hidupmu penuh warna sebagaimana warna sahabat.

Semua salah!!!
Statement itu gue keluarkan karena emang benar.Gue udah merasakannya, sendiri. Kalau kita mau jujur terhadap hati nurani kita sendiri. Sedikit aja ruang untuk menyadari, jujur, terbuka. Bahwa cinta itu tumbuh dengan sendirinya, nggak bisa dipaksakan. Dan butuh klik antara individu yang satu dengan yang lain.

Kenapa gue tetap mengatakan itu salah? Dengan yakin sekali lagi, gue bilang memang cinta nggak bisa dipaksakan. It was real!  Hubungan terakhir gue yang kandas karena memang tidak ada ‘klik’, chemistry,  or anything else itulah namanya. Gue nggak mencintai pasangan gue. Karena memang dari awal gue cuma bisa berteman sama dia. That’s it!


SEMUA TERJADI PASTI ADA ALASANNYA…
Gue menyesali keputusan gue yang nggak menghargai suatu hubungan, cinta. Dan memperlakukannya seperti mainan, coba-coba. Seharusnya gue yakin dengan hati kecil gue bahwa memang tidak ada rasa, jangan dipaksa. Gue sadar itu salah, tetapi gue mensyukuri bahwa itu pernah terjadi dan akhirnya sadar juga sebelum hubungan ini jauh merusak kedalam, mengakar.Yakin bahwa ini semua terjadi atas seizin Tuhan. Mungkin supaya gue bisa belajar dan lebih mengerti lagi bagaimana memaknai sebuah hubungan.

picture taken from http://bit.ly/I9rdZw

MENYESALKAH?

Padahal mantan gue ini bisa dikategorikan perfect-lah. Tajir, pekerjaannya menakjubkan, ganteng, seiman, sesuku pula, And he loves me. Apa yang kurang? Bagi perempuan kebanyakan yang memimpikan mendapatkan pria seperti itu pada bilang gue bego. Melepaskan ‘burung emas’. Tapi gue sangat mensyukuri keputusan gue. Karena gue nggak cinta. Dan gue nggak ingin terjebak dihubungan yang bukan semestinya.


2 bulan hubungan itu berjalan, gue merasa bosan. Dan waktu seminggu gue jalani, gue sempat minta putus.Karena memang gue merasa gue nggak ada feeling dengan dia. Lalu sebulan kemudian pun gue minta putus, hal itu nggak terjadi lagi karena mantan gue minta untuk tetap lanjutkan dan pikirkan.

Sebenarnya dari awal, saat dia meminta gue jadi pacarnya, gue mengungkapkan bahwa gue saat itu masih nyaman jadi teman. Nggak lebih. Dan gue merasakan bahwa baiknya hubungan kita sebatas teman. Ya bukannya jual mahal atau sok cakep. Sadar diri kok gue kalau gue nggak cantik, malah kalau dipikir-pikir kayaknya gue jauh banget ya dari kriteria dia, bila ditisik dari mantan-mantannya yang cantik-cantik aduhai! Khilaf kali ya dia naksir gue!?

AKU CINTA KAMU KARENA…
Itu pun gue tanya ke dia alesan naksir gue sampai 3 kali, hingga dia ngamuk-ngamuk karena harus mengulang-ulang seperti itu. Karena gue nggak yakin dia naksir gue, dan meyakinkan diri gue juga bahwa its real. Saat itu gue nawarin dia TTM-an, friends with benefit, atau HTS-anlah. Tapi dia keukeuh untuk kita tetap pacaran. Bukan hubungan seperti itu yang dia mau.He said he interested with me because I have same determination and effort like him. Dia suka dengan kegigihan gue. Dia suka karena gue adalah perempuan yang mau bayar bill-nya sendiri saat status kami berteman. Karena bagi dia banyak cewek, even though berteman, tapi karena tau jalan sama lelaki apalagi tajir, pasti minta dibayarin.


PLIN PLAN
Setelah pertimbangan dan usulan dari teman-teman gue, jalanin aja dulu. Dicoba, nanti juga lo bisa cinta sama dia. Gue akuin gue tertarik sama dia. Suka. Tapi nggak cinta.


Dan akhir kata akhirnya kita jadian. Dengan asas nggak-ada-salahnya-dicoba. Awal hubungan gue berusaha untuk menyukai dia sebagai pasangan gue sembari beradaptasi dengan gaya hidupnya yang super high class, menurut gue. 
2 bulan hubungan gue sangat dimanja oleh pacar gue ini. Sangat! Dia nggak pernah marah, dia sangat memanjakan gue. Dijemput di kantor, tiap nge-date selalu ke restoran mewah, dikasih cokelat, selalu digandeng kemana pun, selalu dicium tangannya. Intinya, gue menyicip kehidupan enak dia deh, serta betapa disayangnya sebagai pacar. Gue yang buta masalah wine, champagne, sampai baru ngerti bahwa cewek itu bisa dinilai dari pilihan minumannya, ckckck….


Setiap gue ketemu temen cewek gue mereka bilang, ‘Gila! Beruntung banget lo dapat pacar kayak gitu. He shows how cares with you. Jarang-jarang lho dicintai lelaki duluan.’ Gue cuma bisa tersenyum artifisial. Mungkin seperti ini kali ya hubungan di depan publik, hubungan artifisial. Hubungan palsu. Karena gue nggak cinta.

Mungkin lo baca tulisan gue ini, ngebego-begoin gue. For sure, I tried harder. Gue berusaha menumbuhkan rasa cinta. Dengan cara care sama dia, selalu menjadi pendengar yang baik, dll. Tapi gagal. Karena gue menyadari bahwa di sini gue hanya menjadi pendengar, tapi tidak diberi kesempatan untuk didengar. Hubungan ini 1 arah. Dan gue hanyalah patung pajangan untuk dibawa kemana-mana, dikenalkan sebagai pacar, mendengarkan kisah-kisahnya, diajak makan, diajak nonton, that’s it.

Porosnya hanya dia. Hingga akhirnya kebebasan gue pun suka terenggut tanpa sengaja. Di saat gue ingin punya waktu girls time. Dia yang minta ikut, yang berakhir bukan reunian gue dengan teman gue, tapi dia asyik masyuk bercerita tentang dirinya ke gue dan teman gue. Dan menurut teman-teman perempuan gue, gue seharusnya bersyukur malah kalau punya pacar yang mau mengenal teman-teman gue, dll. Gue bukannya nggak mau pacar gue mengenal dan dikenal teman-teman gue, tapi pastinya semua ada porsi dan batasan ya.

Hak suara

Gue nggak punya hak suara. Pendapat gue selalu dikebiri. Contoh kecil aja seperti menentukan tempat makan, he asked me. But then he rejected and give me another option yang mana kedua tempat itu yang emang dia selalu kesitu dan udah tau rasanya kayak apa. Why we never try something new? He always in comfort zone. We never know it has a good taste or not if we never try! Goodness! Dan itu nggak terjadi barang sekali, terulang. Dan sampai gue hapal kalau kemari kita pasti makan itu, kalau ke sana kita makan B.

picture taken from http://bit.ly/I2C43u
Hell-o! Sometimes you need your own time. Me-friends-time. It’s not all about him.

Tapi malah jadinya saat dia lebih sering membuat gue supaya nggak ketemu teman gue dengan menyibukkan acara dating kita.


Dan sedihnya, saat gue selalu nggak bisa menjadi diri sendiri setiap sama dia. Gue nggak boleh terlihat jelek. Which is I should double check and make sure what I wear is good looking and eye catchy! No mistake! Must be perfect! Even waktu gue ingin kita jalan dan gue memakai celana jeans, harus ijin. Bagi dia pencitraan itu sangat penting. And sometimes am tired to be perfect for him.


Terlebih saat gue bercerita tentang keinginan, mimpi, dan rencana hidup gue. Dia nggak pernah mau fokus mendengarkan. Hanya ber-‘Oh…’, ‘Masa?’, ‘Wah… keren!’, ‘terus…?’ ria, dengan tatapan mata yang kosong. Sedangkan saat dia bercerita, gue harus tetap fokus, meleng sedikit pasti dia langsung Beb… kamu dengerin aku cerita nggak sih?


Belum lagi saat ternyata visi dia yang berbeda jauh dengan visi gue. Yang mana kehidupannya yang selalu diisi dengan kesenangan, kemewahan, dll. Bagi gue, hidup enak itu nggak perlu belajar, tapi hidup susah itu perlu belajar dan perjuangan. Dan gue menyayangkan juga saat menuangkan niat untuk berkecimpung mengajar anak jalanan, komentarnya cuma “Buat apa kamu kayak gitu?” Pelan-pelan gue jelaskan hingga hasilnya dengan kekecewaan, karena bagi dia itu cuma buang waktu. Dia hanya memikirkan bagaimana memperkaya diri secara duniawi tanpa memikirkan dan peduli sesama. Gue bukan orang suci dan juga bukan orang yang sangat beriman. Gue masih belajar, masih proses. Dan gue ingin beriringan, bersama-sama dengan orang yang juga mau belajar dan berkembang dalam jalan-Nya.


Sekali lagi gue bilang, hubungan seperti ini nggak sehat. Dan yang bilang materi, pria ganteng, serta embel-embel dll bisa merubah rasa cinta.Well, are you livin’ in different planet?
Cinta itu bukan karena seberapa baiknya ia memperlakukan lo, memberikan lo buket bunga tiap saat, kasih lo berkadus-kardus kotak cokelat atau seberapa perhatiannya dia. Tapi karena lo mencintai dia. Lo menerima dia apa adanya, begitu pun sebaliknya. Dan memang lo bedua saling cocok. Mau memahami, mendengarkan, dan mengerti satu sama lain. Bukan hanya salah satunya aja. Itu akan melukai diri lo sendiri. 
picture taken from http://bit.ly/JlI37p


Jujurlah dari hati nurani paling dalam. Hati nurani itu nggak bisa menipu lo, bahwa bukan seperti itu orang yang lo inginkan. Memang materi itu penting, tapi materi bisa dicari. Bukan dari hasil dengan memacari pria tajir. Dan inget, yang menentukan baik buruknya menjalani hubungan itu pada akhirnya elo sendiri. Walau teman-teman lo berniat baik, tapi tetap lo menepi sejenak, dengarkan hati kecil lo berkata dan bawa dalam doa. Percaya deh, hati kecil nggak pernah bohong dan menipu lo kok. Karena Tuhan pastinya juga bantu memapah lo untuk mempertegas dan memperlihatkan baik buruknya tiap momen kejadian dalam hidup kita.

Kebahagiaan sejatinya nggak bisa dibeli pakai duit.Sekarang gue bahagia menjadi single. Being single is a choice, not faith. But faith is when you believe God has prepared there is someone out there as your beloved one and willing to share his/her life to be with you till the rest of their life as the way him/her selves.
Sunday, February 19, 2012

Secercah Harapan!

Angkie Yudistia, Pita Biru, Cosmopolitan Fun Fearless Female, Thisable Enterprise
picture taken from http://bit.ly/JER8tt


Kehidupan itu sebuah pilihan… Hari ini, Selasa 20 Desember 2011 pkl. 16.19 WIB. Hati gue terketuk, terhenyak barang beberapa detik. Tadi siang, sekitar jam duaan, di kantor gue sedang ada launching buku Perempuan Tuna Tungu Menembus Batas oleh AngkieYudistia. Gue yang iseng mampir ke lobby di mana acara tersebut dilangsungkan, dan sudah berakhir.
Sengaja gue datang pas acara sudah selesai, males liat keramaian. Gue yang iseng-iseng nongol itu beranjak ke arah meja resepsionis menanyakan gratisan :D seperti biasa kalau di kantor ada event pasti kecipratan gratisan. Entah itu dalam bentuk makanan, cinderamata, atau souvenir. Nah, ternyata bener! Mereka, anak-anak GRO dan resepsionis, dapat gratisan buku. Gue pun nggak mau ketinggalan dong. Gue langsung heboh nanyain ada kesisaan yang nganggur nggak buat gue. Ternyata nihil.
Walau ada 1 tapi itu milik GM Marketing. Nggak mungkin gue ambil. L Tapi setelah anak-anak pada bilang bahwa si GM nggak mau bukunya, gue jadi berharap. Dan kebetulan penulisnya belum pulang. Gue mikir, minta ijin aja kali ya bukunya untuk gue? Langsung aja gue bbm si GM,
Gue: Pak…buku yang untuk bpk dr acara launching tadi boleh untuk sy nggak?
GM: Ambil saja
-->

Gue terlonjak senang. Salah satu anak GRO, Fenny, langsung antusias bantuin gue untuk manggilin si penulisnya. Dia juga bantu bukain bung kus plastiknya :D

Fenny melambai-lambaikan tangannya ke arah kanan gue. Pandangan gue pun berjalan menuju ke arah lambaiannya. Mata gue menangkap sosok gadis cantik dengan tinggi semampai bak model. Parasnya yang ayu layaknya gadis Indonesia asli benar-benar menghipnotis orang-orang yang menatapnya, menurut gue ya. Dan sebingkai senyum merekah tak pernah lepas dari wajahnya. Hmm… mukanya seperti Agni Pratistha yah? Mirip, sekilas. 

Setelah pandangan kami bertemu, ia tersenyum ke arah gue. Refleks gue ikutan senyum. Kemudian Fenny mengacung-ngacungkan buku tersebut sambil ditunjuk. Penulis itu mengarahkan telunjuknya secara bergantian ke arah gue dan Fenny. Fenny kontan menunjuk ke arah gue. Lalu penulis itu pun, Mbak Angkie, menunjuk ke arah gue. Gue bingung. Dia menunjuk gue lagi sembari menatap lurus manik mata gue. Gue tersadar, “Elnie, mbak. Untuk Elnie.”

Gue senyum kegirangan karena Mbak Angkie akan menanda tangani buku tersebut. Lalu dia tampak kebingungan, terdiam sesaat. Gue yang melihat gelagatnya ikutan bingung. Tersadar mungkin dia nggak tau jelas pengejaan nama gue, “ Echo Lima November India Echo… Elnie, mbak.” Gue tersenyum riang. Tapi tampang si mbak masih terlihat bingung walau gue udah mengeja nama gue dengan jelas. Gue jadi kebingungan sendiri.


Angkie Yudistia, Pita Biru, Cosmopolitan Fun Fearless Female, Thisable Enterprise


Oh! Bolpen! Akhirnya gue dan Fenny sibuk mencari-cari bolpen. Abis dikasih bolpen sama Fenny, mbak Angkie masih terdiam. Menatap ke arah gue, wajahnya menyiratkan kebingungan. Gue yang liat dia diem begitu jadi ikutan bingung. Udah gitu dari tadi dia nggak mau bersuara lagi. Ngomong kek apa yang bikin dia bingung. Pusing kan gue. Mbak Angkie masih memandang ke arah gue. Gue cuma bisa menampilkan muka pongo. Apalagi yang dia mau sih? Nama udah gue ejain, bolpen udah disediain. Akhirnya gue ejain lagi nama gue, “E L N I E, mbak. Echo Lima November India Echo!” Agak gereget ye gue ngejelasin hal yang sebenarnya bisa dikategorikan sepele.  

Ternyata dia masih bengong memandangi gue, sorot matanya seperti menunggu. Nah lho? Apa lagi sih yang salah?!

Pak Sandi, salah satu security kantor, menghampiri kami. Raut wajahnya sedikit sewot. Aneh! Dan tiba-tiba aja dia ngoceh sembari cari-cari, “Kertas… mana kertas?” Fenny dan gue akhirnya ikut-ikutan nyari yang diminta Pak Sandi. “Nih… nih pak.” Fenny menyodorkan selembar kertas reused yang hanya sebesar telapak tangan. “Buat apa sih pak?” tanya gue yang kebingungan. Pak Sandi mengeluarkan bolpen, lalu menatap gue, “Nama lo gimana, Nie?” Dan akhirnya pun gue mengeja ulang dari nama gue.

Setelah Pak Sandi selesai menuliskan nama gue, ia menyerahkan kertas itu untuk dibaca mbak Angkie. Secercah senyum merekah diwajah ayu mbak Angkie dan ia mulai membubuhkan tanda tangan dibuku karangannya yang akan segera beralih menjadi milik gue. Kemudian ia tersenyum dan menyerahkan buku tersebut. Gue langsung senyum kegirangan dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Ia pun pamit pergi.
Fenny nyeletuk, “Oh… pantees!” ia menggaruk-garuk pelan kepalanya yang gue rasa nggak gatel.
“Kenapa sih, Fen?”
Dengan tampang kebelet napsu Fenny menjelaskan bahwa si penulis itu juga disabilitas dalam mendengar. Gue cuma bengong, pongo. Ya Tuhan, she is so beautiful. Gorgeous. Dan dia memiliki kekurangan. “Serius-lo?” lidah gue kelu. Terbata-bata gue nanya si Fenny.
“Lo liat dong tadi ditelinganya ada alat.” Jawab Fenny sambil ngelus-ngelus telinganya sendiri.
Gue pun menyadari. Oh iya ya, tadi emang gue sempat melihat alat bantu pendengaran ada dikupingnya, tapi gue nggak yakin. Masa iya?
Saat itu gue tersadar. Orang nggak ada yang sempurna. Mbak Angkie cantik secara fisik, tapi hatinya pun nggak kalah cantik dengan fisiknya. Dia punya kekurangan, ya, tidak bisa mendengar. Tetapi itu bukan menjadikan dia batu penghalang untuk berbagi dan mengejar mimpi. 

Buktinya ia bisa membuktikan pada orang-orang dia bisa mengecap kehidupan seperti orang banyak. Berkuliah disalah satu universitas bonafit di Jakarta dengan menyabet gelar S2 dalam bidang komunikasi. Serta dapat bekerja di perusahaan yang juga nggak kalah keren. Lalu menjadi the most fun fearless female Cosmopolitan. Belum lagi prestasinya yang merupakan salah 1 pemudi yang terus menggerakan kesetaraan bagi kaum disabilitas. Lihat, betapa besar kontribusi yang diberikan oleh seorang Angkie Yudistia.

Gue langsung malu. Malu karena gue sempet sewot karena beliau nggak ngerti apa yang gue maksud sedari tadi. Dan malu karena gue yang sempurna secara fisik ini. Apa kontribusi gue bagi diri gue? Negara gue? Orang-orang disekeliling gue? Apa sumbangsih gue? Nurani gue terketuk untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, terutama bagi yang membutuhkan. Satu hal yang gue percaya, ada tekad dan kemauan maka kita bisa menggapai mimpi kita. Dan, terima kasih untuk Mbak Angkie yang membuat gue tersadar serta mengguyurkan minyak ke api kecil nurani gue.