Pages

Monday, December 31, 2012

New Year Eve 2013


picture taken from http://bit.ly/VrRmIW

Entah kenapa ketika menyebutkan kalimat tersebut saya langsung merasa seperti Carrie dalam film Sex and The City part.1. Ya memang, kehidupan saya tidak se-extravagan si Carrie. Tapi saya merasakan kesendirian Carrie. Entahlah. Hanya sebuah rasa yang akan menguap seiring pergantian tahun.


Wednesday, December 26, 2012

Kulit hitam? Siapa takut!


Jari jemari ini berlari lincah diatas tuts keyboard
Saya menulis kembali. Setelah 2 bulan vakum karena kesibukan dan adaptasi terhadap kerjaan yang baru. Saya menyukainya.

Tidak. Kali ini tulisan saya tidak mengenai pekerjaan saya. Tulisan kali ini tercipta karena saya tersentil.

picture taken from http://bit.ly/10jcLr1 

Awal cerita…
Thursday, October 11, 2012

Bersih itu... CANTIK!


dove


Senang rasanya saya bisa menulis lagi. Phew… hari ini panas, kemarin panas, besok? We’ll never know!
Tuesday, September 11, 2012

Save our Nation!


Hey! I miss you, dear my blog *kiss, hugs, and poke*

I really want to share something to y’all. But by the time i’ve got extra busier than usual. Yes, one thing would to say, I LOOOVEEE MY JOB! Actually i have 2 jobs now. As project officer in media advertisement and editor freelancer. What a lovely life! Am i too tired to do it all? Perhaps, sometimes i feel it. But most of them are fascinating life! Get in touch with people which far miles away from me by virtual media is really temptation. 




Sunday, August 26, 2012

Friendship is a Priceless Gift





Entri ini ditulis untuk memenangkan free entry untuk Looxclass Beauty Blogging & Make Up Workshop Jogja (plus hadiah paket makeup sebesar sampai Rp. 250.000). Klik ini deh untuk detil acaranya :http://www.looxperiments.com/2012/07/yogyakarta-looxclass-beauty-blogging.html dan klik ini deh, kalau mau ikutan blog contest-nya :http://www.looxperiments.com/2012/08/blog-contest-beauty-of-friendship-rules.html


Awal cerita dimulai saat saya sempat bekerja disalah satu perusahaan bioskop bonafit yang terkenal. Dengan mengusung konsep one stop entertainmentnya. Singkat cerita saya bekerja di sana dan mendapatkan teman-teman yang mengasyikan. Hingga terkumpullah kami. Ya, Saya, Fitri, Ai, dan Sharon. Kami berempat suka fashion dan gossip! Namanya juga perempuan, masih lucu-lucunya saat itu.

Saturday, August 25, 2012

SKIN FOOD Tea Tree package


Hey, people! It’s been along time since the last posting that I wrote. Anyway, for now, I would like to share with you my beauty tips cosmetic. Why??? Because I’m a lady. And a lady needs that kind of a little magic stuff to make us more beautiful and confidence. Don’t you believe it? I do. You’ll find out the answer when you feel the magic works on to you!

Here some my little magic!
Tuesday, August 21, 2012

Independence day of Indonesia and Happy Ied Mubarak 1433H




Hai, hai! Waddup??? Walau agak telat, tetap saya ingin mengatakan dan mengucapkan: Dirgahayu Indonesiaku yang ke-67 tahun! Woohhoo! Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H, Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir batin ya. Maaf-maaf kalau ada kata dan perbuatan maupun postingan atau tweet yang menyinggung perasaan, baik disengaja atau pun tidak. 

Sunday, July 22, 2012

Color of my LIFE!



Hi, Guys!



How are ya? I’d like to say that I’m happy! I’m happy with my new office. Yep, I moved, again! (hope it’s the last! Well, for 1 untill 2 years ahead) My new office is PT. Pyramedia Cipta Berliantama. I do love my job. I work as media planner project officer. Again, something new for me. Thanks to God because He always be with me. Thanks for trusting me for this position. No one never said its gonna be easy. But must be the first time for everything, right? 



And, I can say I do enjoy with my job! I meet a lot of people. Like I said I really love meet new people, widening network, etc. This is what I want. Job which is related with media, meet new people, and writing. You know what? The best thing are I have second family here (Yep! All people so kind hearted, warmth, and welcome to me), we respect each other. People work here from Javanese. And now, I’m the only one who come from other race. But still, we respect each other. I love’em!


Anyway, my project this year is about related with tourism. Yeah, we have supporting Tourism and Economy Creative Ministry to let Indonesian aware with our beauty side of Indonesia. Especially we want let people know that Tourism and Economy Creative Ministry has official webstie about tourism. Just log on to Indonesia.travel


Here some of pictures for ya! Enjoy!
taken from http://on.fb.me/OczwSH
This is part of Alor, East Flores. If you like to see more of'em. Just click here 



taken from http://on.fb.me/P6Tq5q
The gleaming water is extraordinarily refreshing for swimming or snorkeling. Parasols were built although very few people know the island even exists. Rutong Island is only 30 minutes from the harbor of Riung.— at Lasiana Beach, Kupang - East Nusa Tenggara.



taken from http://on.fb.me/MTpR3K
 Raja Ampat, Irian Jaya
Believe me, it makes me more love to Indonesia. And makes me proud as Indonesian. We have 33 provinces with beaches, mountains, lakes, cultures, rocks, etc. And we even better from others for view. As Indonesian, I really want to travel around Indonesia. 

I feel ashamed when foreigner knowing better about my country. Fresh my memory when I met my pal from Georgia and Netherland. They told me that they fallin’ in love with Indonesia. Untill they asked me, “Do you know how many population in Indonesia?” And I become frozen. In my heart, I cursed my self how stupid I am. And how embarrassed, me, as Indonesian. I don’t even know exactly how many people live in here! In my country! Dang! And just by the time, they mentioned how many it is, precise! Insane!


Anyway my boss gave it to me last Friday. He just went to Europe for family holiday. Thanks to my boss, Mr. Farid and his wife, Mrs. Mita. Love ya both!



Thursday, July 12, 2012

VOICE of HEAVEN!


I do really love this twins! They really have nice voice. Besides they are beautiful! Feel in heaven when i heard them (okay! Its just too much!) But for sure, you would agree with me after you hear their voice. They are Jayesslee!

WHY??


For couple this time i was hearing Maroon 5 – Payphone. Never stop! Then i just downloaded his video clip and song. After that, suddenly i was download wrong song. I mean, the title is payphone. But the singer is not lovely Adam Levine. Then i’m curious who sings this song? A girls? But, they have angel voices!

Sunday, July 8, 2012

Brave with your heart!


Akhirnya saya menulis lagi.... Beberapa lama saya biarkan blog ini menganggur seperti tak bertuan. Anyway, setelah sekian lama saya tidak menginjakkan kaki ke bioskop... Saatnya hari itu tiba! Ya, hari ini. Tepatnya Sabtu, 7 Juli 2012 pkl. 19.00, tiket pertama saya setelah beberapa bulan lamanya saya tidak singgah ke bioskop untuk nonton film terbaru. Hal ini disebabkan karena jadwal kerja yang tidak bersahabat membuat saya lebih memilih menghabiskan waktu untuk istirahat ketimbang keluyuran sekedar nonton film.

Sunday, June 17, 2012

Masuk Majalah (?)

JAX Magazine
Edisi 004 | JUNI - JULI 2012



Hai, semangat pagi! Mana semangat senin paginya???

Hari ini kenapa saya bersemangat? Karena mau posting tulisan terbaru saya. Hehehe….
Masih seperti hari-hari biasanya yang sibuk dan melelahkan. Masih belajar. Dan nggak henti-hentinya saya bersyukur atas karunia Tuhan. Seperti tulisan saya kali ini. Ini wujud syukur saya. Karena berkat Tuhan juga saya bisa mendapatkan kesempatan nongol dimajalah. Walau barang nama doang!

Tuesday, June 12, 2012

Ceritaku...


Hai, apa kabar? Sudah lama sekali saya tidak menulis. Kangen banget! Kerjaan terakhir saya sungguh amat menyita waktu. Karena memang saya pun masih belajar untuk pekerjaan saya sekarang. Seperti bayi yang belajar merangkak perlahan, mengenali sekeliling, bagaimana menentukan pilihan yang terbaik. Seperti itulah pekerjaan saya sekarang.

pict. taken from http://bit.ly/dydBsi

Pekerjaan saya ini tentunya jauh dari comfort zone, tapi saya menyukainya.
Monday, April 30, 2012

Hari ini saya menangis...

pict. taken from http://bit.ly/IOTLFW

Jumat, 27 April 2012

Saya sedih. Bukan karena jari saya terjepit pintu. Atau, minyak goreng yang panas mengenai kulit. Tidak. Saya sedih ketika orang yang sama sekali tidak mengenal saya bisa berkata sedemikian menyakitkan. Masih membekas dibenak saya bahwa beberapa pekan lalu saya mencoba mendaftarkan diri sebagai calon karyawan disalah satu perusahaan retail terbesar di Indonesia. Perusahaan retail yang mengusung berbagai brand ternama dari luar negeri. Terkenal dengan gerai kopi asing yang memiliki ribuan outlet tersebar di penjuru Indonesia. 



Pada pukul 16: 35: 52 saya berhasil tersambung kebagian personalia kantor tersebut. Setelah beberapa kali saya berusaha menghubungi tapi gagal karena line telpon yang begitu sibuk. 


Dengan semangat ’45 saya berusaha menghubungi kantor tersebut karena kemarin, Kamis, 26 April 2012 pada pkl 15.27, seorang ibu dari perusahaan itu menghubungi saya. Sepertinya terkait dengan lamaran saya tempo lalu. Sayangnya, saat itu saya sedang dibus. Kondisi yang bising tidak memungkinkan saya dapat mendengar jelas apa yang dibicarakan orang di seberang sana. Hal itu disadari oleh si penelpon yang saya sinyalir bagian personalia perusahaan tersebut. Ia mengatakan, “kapan saya bisa menghubungi Ibu Elnie kembali?” Saya mengatakan, “kurang lebih 10 menit.” Karena saya memperkirakan kisaran 10 menit saya sudah tiba di tempat tujuan dan jauh dari bising. Tapi detik berganti menit dan berganti jam, saya meratap memandangi ponsel saya yang diam seribu bahasa. 



Hingga hari berganti tidak ada telpon dari perusahaan itu lagi. Maka saya inisiatif menelpon balik. Setelah berhasil terhubung dan dengan nekat memencet asal nomor esktensi 700. Saya tersambung, suara seorang wanita. Sebelumnya saya meminta maaf atas kelancangan dengan sembarang menekan ekstensi. Ringkas saya ceritakan dengan nada sedikit frustasi karena line telpon begitu sibuk, bahwa saya ingin disambungkan kebagian HRD untuk mengklarifikasi telpon yang saya terima kemarin, yang sayangnya saya tidak menahu berapa ekstensi untuk HRD. Akhirnya dengan sabar ibu itu menjelaskan bahwa ekstensi yang saya tekan bukanlah bagian personalia dan beliau tidak dapat menyambungkan saya kebagian yang dimaksud. Tapi jalan keluarnya, beliau menyarankan menelpon ulang kenomor yang sama dan menekan nomor ekstensi bagian personalia, 549. Sungguh baik, saya sangat berterima kasih dan menyampaikan rasa sungkan karena telah menyela aktivitas beliau. Saya senang. Ternyata kantor ini berisikan orang baik. 



Lagi, saya mencoba menelpon kantor tersebut dan line sungguh sibuk. Hingga kesekian kalinya saya bisa masuk dan segera saya tekan 3 digit angka tersebut. Nada tunggu mendengung ditelinga saya. Kemudian, lagi, suara wanita menyambut saya. Dan secara cepat saya mengulang ringkas cerita tujuan saya menelpon. Si wanita menyuruh saya untuk menunggu sebentar. Telpon diteruskan ke­line lain. Suara lelaki kali ini yang menyambut saya. Dengan antusias saya menceritakan kembali tujuan maksud saya menelpon, lagi.
Lalu beliau menanyakan apa saya sebelumnya sudah melalui psikotest? Mantap saya menjawab, belum. Ia menanyakan kembali bagaimana kalau saya membawakan lagi resume beserta CV saat psikotest. 

Sedikit bingung saya bertanya, “kapan itu tepatnya ya, pak?“ Sebuah harapan terbit dihati saya. Karena memang saya bermimpi bergabung menjadi bagian keluarga perusahaan itu. Berikutnya, beliau menanyakan nama serta telpon saya. Tangkas saya langsung menjawab. 

Sekali lagi beliau mengatakan, “Oke. Kalau begitu kamu bisa bawakan CV lagi?”   
Saya menganggukan kepala antusias. Tersadar bapak itu tidak mungkin melihat anggukan saya. “Tentu, pak. Pasti. Kapan saya bisa bawakan ke bapak?” 


Belum terjawab pertanyaan saya, beliau menanyakan saya lulusan apa. Dengan mantap saya jawab, “Lulusan SMA, pak.”


“Apa? SMA?” Dari suaranya ada nada keheranan. Seolah-olah beliau baru mendengar kata SMA. 


Saya menyahut mantap, “Ya, SMA, pak. Jadi, kapan kiranya saya bisa menyerahkan kembali berkas CV saya?”


Bapak itu sekali lagi bertanya, “SMA?” Kali ini dengan nada mencemooh. Seakan begitu hinanya saya yang hanya lulusan SMA. “SMA ya?” yakinnya sekali lagi.


“Iya, pak.” sahut saya.


Lalu dengan tegas dan nada angkuh bapak itu berkata, “Kalau begitu kamu tunggu saja ditelepon lagi ya.”



Klik. 

Telepon mati.



Saya terpekur bengong. Asa yang saya gantung tinggi-tinggi, menguap seketika. Meninggalkan luka di sana. Saya menelan ludah, pahit, getir. Apa dosa saya hanya karena lulusan SMA? Saya pernah mengenyam pendidikan sampai bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi bonafit walau tidak genap sampai semester 2. Bukan dosa saya bahwa saya harus menelan pil pahit akan nasib buruk yang menimpa keluarga saya. Siapa pun, semua anak di dunia tak terkecuali, saya yakin seyakinnya, bila mereka memiliki keinginan dan mimpi yang sama seperti saya. Ingin meraih pendidikan setinggi-tingginya.



Berhak kah saya mempersalahkan cobaan yang menimpa keluarga saya kepada Tuhan? Apakah seorang SMA tidak boleh berangan bekerja dimanagement perusahaan?



Saat itu, mimpi saya bergabung menjadi bagian keluarga perusahaan itu pupus sudah. Dulu dengan giatnya saya selalu mencoba pantang menyerah. Ini ketiga dan terakhir kalinya saya mencoba. Karena perusahaan tersebut mempekerjakan orang yang hanya bisa mengkotak-kotakan manusia dari segi status sosial dan pendidikan.


Saya memang lulusan SMA. But I’m willing to do anything. Work as waitress, partimer, anything! Anything I could do to get money so I can feed me and mom.
Tidak ada yang mau hidup susah. Tidak ada yang mau hal buruk terjadi dalam hidupnya. Tapi kita hanya manusia, saya, termasuk Anda. Kita usaha dan berencana. Hal dari pada itu diluar kuasa kita.


Saya nggak pernah meminta pada Tuhan keadaan kami berubah 180 derajat. Hidup serba sulit. Dan saya tidak tahu menahu hidup kami akan berubah seperti ini. Seandainya saya tahu, saya dan mama pasti langsung mengantisipasi. Dari yang hidup kami serba berkecukupan, memiliki mobil, dan beberapa properti di daerah segitiga emas. Dan sekarang, semua itu hilang bagai sekali kedipan mata. Malam-malam saya terlelap, berharap esok hari terbangun dan berharap semua mimpi. Tapi saya sadar dan bangkit, bahwa ini kenyataan yang tidak bisa dipungkiri maupun dihindari. Saya mengambil kerja apapun, dari pelayan hingga usher. Saya akan melakukan apapun untuk menjadi tulang punggung keluarga. Untuk menghidupi dan membiayai pengobatan mama saya yang mengidap diabetes dan terserang stroke sebanyak 2 kali.



Mama hanya punya saya. Dan saya harus kuat, tegar. Menjadi batu karang untuk mama. Saya harus mengambil alih kemudi kepala keluarga. Berhenti kuliah pun adalah salah satu keputusan terberat dan terbaik yang pernah saya ambil. Bukan saya menginginkannya. Tapi saya harus. Karena saat itu biaya pengobatan dan pelunasan hutang mama saya lebih penting. Sebagai anak satu-satunya saya tidak bisa seegois itu memikirkan diri sendiri.



Selama 21 tahun saya hidup. Dengan pengalaman yang saya miliki. Saya masih bisa menerima cemooh, hinaan, atau cibiran orang lain. Saya kuat. Tak pernah saya hiraukan.



Tapi kali ini, seseorang yang tidak mengenal saya sama sekali. Orang yang menjabat sebagai bagian personalia dan pastinya lulusan universitas jurusan psikologi, teganya bisa berkata seperti itu. Seperti itukah masyarakat Indonesia, terutama Jakarta?  Seperti itu lulusan bangku kuliah? Indonesia yang selalu saya banggakan akan budi pekerti dan ramah tamah yang mulai terkikis akan egosentris individunya?



Indonesia di mana saya peduli untuk bergabung berbagai komunitas yang bertujuan memajukan kesetaraan hak, pendidikan, dan kelayakan. Kemana? Seolah itu semua tertelan oleh kediktatoran kapitalis yang menginginkan standart setinggi-tingginya.



Bapak yang baik, saya berharap kejadiaan ini tidak menimpa orang lain. Terima kasih karena anda saya belajar, bahwa saya masih memiliki hati nurani. Bahwa saya tidak akan memperlakukan orang lain seperti makhluk rendahan. Karena pada hakikatnya Tuhan menciptakan saya selayaknya menciptakan Anda. Tidak ada yang berbeda dimata-Nya. Dan anda tidak memiliki hak untuk memperlakukan sesama seperti itu.

Saya percaya Tuhan membuat semua ini terjadi dalam hidup saya karena Ia ingin membentuk pribadi ini menjadi lebih kuat dan tegar.

Dan saya bahagia karena saya juga manusia. Yang memiliki perasaan, bisa terluka dan menangis. Tapi setelah itu, saya akan bangkit berdiri menatap lembaran masa depan saya. Dan berbahagia dengan mama. Saya hanya ingin memberikan terbaik untuk mama, tanpa beliau harus pusing akan masalah ekonomi yang menghimpit. Saya tidak akan membiarkan orang lain merusak hari saya. :’(


Friday, April 27, 2012

Lie To Me

picture taken from http://bit.ly/I9YboE

Korea. Mendengar nama Negara penghasil ginseng tersebut tentunya sudah tidak asing ditelinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Terlebih Korea Selatan, betul begitu? Bukan saja kemajuan pesat Negara itu saja, tetapi yang utama boyband dan K-Drama.
Tuesday, April 24, 2012

SHAVE FOR HOPE!


Masih hangat dalam benak saya. Semalam—21 April 2012 sekitar jam 11-an, saya nekad mendaftarkan diri ke

Menulis itu SUSAH!

picture taken from http://bit.ly/Jz5mGO
 Saya mulai menulis lagi. Kali ini saya sudah membulatkan tekad untuk menyelesaikan cerita yang sudah dimulai. Bertahun-tahun saya biarkan hingga kehilangan momen untuk melanjutkan. Rasa malas begitu menggelayut manja acap kali saya beradu pandang dengan laptop. Sembari menyesap teh dari cangkir keramik dengan kepulan asap yang menari diatasnya,
Friday, April 13, 2012

Fashion IS everywhere!

“Fashion is not only about clothes, it has to do with ideas. It has to do with what people think and how they feel and who they are. Look around! Fashion is everywhere!” said Coco Chanel. I quoted from her film.

Style is a what to say who you are without having to speak – Rachel Zoe


Tuesday, April 10, 2012

Bidadari Sepi

picture taken from http://bit.ly/I6DkYy


Kakinya melangkah...meninggalkan jejak tapak tak beraturan....
hanya tau melangkah... dan melangkah... tanpa jelas arah tujuan....
tatapan lurus ke depan...

Thursday, March 15, 2012

Buta nggak hati gue (?)

Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya gue ke kantor. Ya, kantor gue terletak di bilangan Karet yang lagi super duper macetnya itu lho! Dan gue yang naik bus AC kayak hari-hari lainnyalah. Tumbennya hari itu, gue berangkat pagian. Jam 6 kurang sudah siap siaga berjibaku dengan para penumpang bus lainnya. Hingga nongol si bus patas AC yang ternyata fansnya nggak kalah banyak dengan Adele ‘Chasing Pavement’.

Untungnya karena masih pagi, bus dalam keadaan sepi. Otomatis gue dapat tempat duduk. Karena sistem pagi hari jam kerja tuh, '5 menit itu menentukan nasibmu'. Ya, nasib lo bakal dapet tempat duduk atau berdiri sambil pegangan bak bergelayut layak onyet. Belum lagi jempet-jempetannya. Thanx God banget deh!

Seringnya kalau gue dapet duduk di bus patas AC, sembari menunggu perjalanan panjang sampai ke tempat tujuan, gue… tidur. Iye, tidur. Lumayan 1 jam buat tidur kan tuh. Makanya senang banget gue berangkat pagi-pagi. Selain efek ontime-nya, tapi lebih ke quality sleeping beauty-nya itu lho! MOMENTUM! Dan lucunya, pada saat bus yang gue naiki ini hampir sampai tempat tujuan, Benhil, alarm biologic gue pasti ON. Langsung melek seketika. Dan itu terjadi, selalu. Ya, pernah siiih bablas sampai Thamrin. -_- agak konyol memang. 

Nah, pas sampai Benhil gue siap-siap berdiri dong mau turun. Sikut-sikutan deh sama penumpang yang berdiri kagak kedapatan tempat duduk. Pas gue berdiri itu, selang 2 bangku di depan gue ada ibu-ibu ngoceh kenceng banget. “Timoti…hati-hati ya. Shalom, Timoti!”

Wah, nasrani tuh ibu. Mata gue yang kepo langsung mencari-cari sosok yang dipanggil timoti-timoti tersebut. Tau sendiri manusia itu kepo-isme. Kalau nggak kepo bukan manusia namanya. 

Mungkin anak si  ibu apa? Tapi sepertinya bukan. Ah, sudahlah.
 
Dan mata gue pun mengunci sosok agak tambun, kemeja biru lengan panjang digulung sesiku, dengan celana hitam panjang. Gayanya seperti orang kantoran kebanyakan. Hooo… bapak-bapak toh, kata gue membatin.

Oh iya, lupa bilang. Bus patas AC itu kalau pagi-pagi pasti nurunin penumpang tuh di jalur cepat. Jadi nggak mungkin jalur lambat. Walhasil harus nyebrang. Pas akhirnya kaki gue menjejakkan tanah pagar pembatas, bersiap untuk menyeberang ke bahu jalan jalur lambat. Nah… saat itu nggak hanya gue sendiri, kebetulan banyak penumpang bus yang turun di situ juga. Gue berencana nyebrang bareng.  
picture taken from http://bit.ly/JCXtDE

Dan saat gue mau nyebrang, mata gue tertumbuk pada sosok bapak-bapak agak tambun yang bisa gue tarik kesimpulan si Timoti itu. Yang menarik perhatian bukan badannya yang agak tambun, tapi dia mengeluarkan tongkat dan memanjangkannya. O… ow… ternyata beliau tuna netra. Saat itu gue sempet bengong. Gue liat orang-orang yang berdiri di sampingnya malah cuek nyebrang sendiri, malah ada yang menghindar dan menyingkir ke sisi kanan gue buat nyeberang bareng sama orang-orang lain. Akhirnya pada nyeberang tuh rame-rame. 

Tinggal gue masih tergugu, bengong. Gue mikir, ini orang kok yah pada tega bener nggak ada yang bantu? Emang dia bisa nyeberang sendiri apa? Tau sendiri di jalan protokol Sudirman gitu, pengguna jalannya suka nyetir seenak jidat. Ya salah kita juga sih turun di tengah jalan. Tapi nggak salah kita juga 100%. Salah abang busnye kenapa kita diturunin di tengah jalan?! 

Oke, balik lagi ke si bapak. Tiba-tiba aja gue melihat si bapak mengambil gerakan untuk bergegas nyebrang. Tanpa habis pikir gue langsung gandeng tangannya. Awalnya sih akward moment ya. Gue genggam tangan orang asing, di jalanan pula. Udah kayak ditipi-tipi. “Bapak mau kemana? Sini saya bantu. Kita nyeberang bareng-bareng ya, pak,” ujar gue. Saat itu, entah dapat keberanian dari mana gue bertindak seperti itu. Emrejing!!!

“Oh, makasih ya, de’. Nggak usah repot-repot. Yang penting saya diseberangkan ke seberang saja. Nanti saya bisa sendiri kok,” jawabnya dengan nada penuh semangat seraya memberikan senyuman.

Dan dengan gaya bak wanita perkasa *benerin poni* gue seberangin tuh bapak sampai di tempat yang aman. “Bapak kantornya di mana? Mari saya antar, pak.”

Dan modal nekat dengkul mengkilat, gue menanyakan di mana kantor atau alamat yang dituju tuh bapak. Karena gue nggak tega banget! Asli! Ngeliat bapak-bapak tuna netra sendirian, mana orang tega-tega bener kagak peduli.

“Nggak usah repot-repot, de’. Kamu kerja?” Dan begonya gue mengangguk-angguk dengan semangat. Padahal jelas-jelas si bapak nggak bisa liat gue, “Iya, pak.”

Gue dan si bapak berjalan beriringan.

“Kantornya di mana?” tanyanya, pelan.

Gue yang lagi nimbang-nimbang nganterin si bapak apa tinggalin aja di situ menjawab sekenanya, “Kantor saya di karet, pak. Tinggal nyeberang naik angkot.” Nggak penting juga kan gue bilang kerja di perusahaan apa.

“Ya udah. Saya di sini aja nggak apa-apa. Kamu berangkat ke kantor saja.”

Nggak, tekad gue udah bulat seperti bola ping pong. Gue pun memutuskan akan mengantar si bapak hingga ke tempat tujuan. Bodo’ amat deh telat-telat, kan bisa alesan apa gitu sama HRD *big grin*.

 “Udah pak, nggak apa-apa. Saya antarkan. Letak kantor bapak di mana?”

Lalu dia menunjukkan jalan, bahwa gue harus menyebrangi dia sekali lagi yang mana itu depan ANZ tower situ. Setelah gue sebrangin, dia pun menolak lagi niat gue untuk nganterin dia dengan selamat ke tempat yang dia tuju. Si bapak bilang nanti akan ada orang yang menjemput dia. Berkali-kali gue meyakinkan beliau dan puji Tuhan, selang beberapa menit ada bapak-bapak berkumis menghampiri kami. Dan si bapak pun tampak mengenali suara si bapak kumis tersebut. Karena setelah bapak kumis itu menyapanya, lagi-lagi senyum menghiasi wajah si bapak. Kedua bapak itu pun akhirnya berjalan menjauh, berlawanan arah dengan rute yang gue tuju. 

Tapi gue nggak beranjak, gue terdiam. Gue mengamati punggung bapak Timoti itu hingga tertelan dikerumunan orang lalu lalang. Gue tertegun, gue terharu. 

Gue sedih. Gue malu. Gue bersyukur. Terima kasih Tuhan. Dalam rencana-Nya, Tuhan mempertemukan gue dengan bapak ini. Terima kasih bahwa hati nurani gue belum mati. Positifnya, Tuhan baik. Masih mengingatkan gue untuk peduli. Bahwa gue bukan masyarakat kebanyakan yang terlalu cuek dengan sekeliling. Dan gue mengucap syukur dengan memiliki panca indera yang tak kurang satu pun dengan kelengkapannya. Bahwa gue masih diberi kesempatan untuk menolong orang. 

Dan gue disadarkan untuk malu karena orang yang disabilitas seperti itu pun masih memiliki semangat kerja yang tinggi. Dan nggak selayaknya gue bermalas-malasan, apalagi gue masih muda. Jadi, mari kita peka terhadap sekeliling untuk lebih peduli sesama. Melek. Jangan membutakan kejujuran yang muncul dari hati lo. Karena pada dasarnya manusia itu individu yang tidak bisa hidup sendirian.

Hidup itu indah, bro!


picture taken from http://bit.ly/btJep4
Dalam pembukaan ini gue ingin berterima kasih atas karunia Tuhan yang nggak henti-hentinya mengalir ke hidup gue. Dan terima kasih atas pembelajaran berharga dan proses pendewasaan yang hadir tiap saatnya. Tuhan, makasih banget!

Bahwa dari segala kejadian ataupun musibah ada pelajaran berarti yang terselip. Dan sangat berterima kasih karena itu semua sekarang aku telah menjadi pribadi yang lebih kuat, tegar, mandiri. Terima kasih karena Tuhan nggak pernah ninggalin disaat baik hingga terburuk sekali pun. Terima kasih, karena Engkau memberikan kekuatan yang luar biasa hingga aku bisa bertahan ya, Tuhan. Dan terima kasih selalu diterangi jalan dan langkah. Bahwa didalam kebenaran-Mu dan keyakinan aku terus melangkah, pasti. Terima kasih di saat aku kehilangan semuanya, Engkau tidak sedikit pun meninggalkanku, atau pun lupa. Tapi Engkau memperlihatkan kebenaran, ketulusan, dan arti dari kasih.


Terima kasih Engkau memberikan penglihatan untuk melihat kebaikan-kebaikan yang terjadi di sekelilingku. Tidak, kejadian tidak enak bukan untuk disesali. Tapi untuk pembelajaran ke depan agar tidak diulangi dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, serta bijak. Dan terima kasih bahwa Engkau selalu mengetuk dan menyadarkanku bahwa kita hidup tak sendirian. Bahwa hati nuraniku belum mati. Masih tertegun melihat miris kehidupan orang-orang yang jauh tidak beruntung dariku. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Engkau selalu memberi warna. Terima kasih juga selalu mengingatkanku ketika aku silap atau lupa. Engkau di sana, menuntun dan membimbingku. Biarkan aku bersandar pada-Mu, mengandalkan-Mu.

Dan Engkau membuatku selalu bersyukur walau keadaan itu tidak sesuai harapan. Engkau mengajarkanku menerima dan menikmati semua yang terjadi di dalam kehidupan ini dengan hikmat dan kesabaran. Karena kehidupan ini akan indah pada waktunya.
Monday, February 27, 2012

Cinta itu nggak bisa dipaksakan…

picture taken from http://bit.ly/I9rawJ
Ada yang bilang cinta itu bisa mengalir sendirinya seiring waktu berjalan atau ada lagi yang bilang asal duit ada, cinta mah jalan sendiri nantinya.

Perbedaan itu indah. Diciptakan Tuhan untuk memberikan warna kehidupan dalam tiap individu.Untuk saling melengkapi dan memberi arti. Tapi bilamana dengan individu yang tepat, jodoh.Tuhan akan menghadirkan orang yang tepat diwaktu yang tepat. Bila tidak, jadikanlah bagian hidupmu penuh warna sebagaimana warna sahabat.
Sunday, February 19, 2012

Secercah Harapan!

Angkie Yudistia, Pita Biru, Cosmopolitan Fun Fearless Female, Thisable Enterprise
picture taken from http://bit.ly/JER8tt


Kehidupan itu sebuah pilihan… Hari ini, Selasa 20 Desember 2011 pkl. 16.19 WIB. Hati gue terketuk, terhenyak barang beberapa detik. Tadi siang, sekitar jam duaan, di kantor gue sedang ada launching buku Perempuan Tuna Tungu Menembus Batas oleh AngkieYudistia. Gue yang iseng mampir ke lobby di mana acara tersebut dilangsungkan, dan sudah berakhir.
Sengaja gue datang pas acara sudah selesai, males liat keramaian. Gue yang iseng-iseng nongol itu beranjak ke arah meja resepsionis menanyakan gratisan :D seperti biasa kalau di kantor ada event pasti kecipratan gratisan. Entah itu dalam bentuk makanan, cinderamata, atau souvenir. Nah, ternyata bener! Mereka, anak-anak GRO dan resepsionis, dapat gratisan buku. Gue pun nggak mau ketinggalan dong. Gue langsung heboh nanyain ada kesisaan yang nganggur nggak buat gue. Ternyata nihil.
Walau ada 1 tapi itu milik GM Marketing. Nggak mungkin gue ambil. L Tapi setelah anak-anak pada bilang bahwa si GM nggak mau bukunya, gue jadi berharap. Dan kebetulan penulisnya belum pulang. Gue mikir, minta ijin aja kali ya bukunya untuk gue? Langsung aja gue bbm si GM,
Gue: Pak…buku yang untuk bpk dr acara launching tadi boleh untuk sy nggak?
GM: Ambil saja
-->

Gue terlonjak senang. Salah satu anak GRO, Fenny, langsung antusias bantuin gue untuk manggilin si penulisnya. Dia juga bantu bukain bung kus plastiknya :D

Fenny melambai-lambaikan tangannya ke arah kanan gue. Pandangan gue pun berjalan menuju ke arah lambaiannya. Mata gue menangkap sosok gadis cantik dengan tinggi semampai bak model. Parasnya yang ayu layaknya gadis Indonesia asli benar-benar menghipnotis orang-orang yang menatapnya, menurut gue ya. Dan sebingkai senyum merekah tak pernah lepas dari wajahnya. Hmm… mukanya seperti Agni Pratistha yah? Mirip, sekilas. 

Setelah pandangan kami bertemu, ia tersenyum ke arah gue. Refleks gue ikutan senyum. Kemudian Fenny mengacung-ngacungkan buku tersebut sambil ditunjuk. Penulis itu mengarahkan telunjuknya secara bergantian ke arah gue dan Fenny. Fenny kontan menunjuk ke arah gue. Lalu penulis itu pun, Mbak Angkie, menunjuk ke arah gue. Gue bingung. Dia menunjuk gue lagi sembari menatap lurus manik mata gue. Gue tersadar, “Elnie, mbak. Untuk Elnie.”

Gue senyum kegirangan karena Mbak Angkie akan menanda tangani buku tersebut. Lalu dia tampak kebingungan, terdiam sesaat. Gue yang melihat gelagatnya ikutan bingung. Tersadar mungkin dia nggak tau jelas pengejaan nama gue, “ Echo Lima November India Echo… Elnie, mbak.” Gue tersenyum riang. Tapi tampang si mbak masih terlihat bingung walau gue udah mengeja nama gue dengan jelas. Gue jadi kebingungan sendiri.


Angkie Yudistia, Pita Biru, Cosmopolitan Fun Fearless Female, Thisable Enterprise


Oh! Bolpen! Akhirnya gue dan Fenny sibuk mencari-cari bolpen. Abis dikasih bolpen sama Fenny, mbak Angkie masih terdiam. Menatap ke arah gue, wajahnya menyiratkan kebingungan. Gue yang liat dia diem begitu jadi ikutan bingung. Udah gitu dari tadi dia nggak mau bersuara lagi. Ngomong kek apa yang bikin dia bingung. Pusing kan gue. Mbak Angkie masih memandang ke arah gue. Gue cuma bisa menampilkan muka pongo. Apalagi yang dia mau sih? Nama udah gue ejain, bolpen udah disediain. Akhirnya gue ejain lagi nama gue, “E L N I E, mbak. Echo Lima November India Echo!” Agak gereget ye gue ngejelasin hal yang sebenarnya bisa dikategorikan sepele.  

Ternyata dia masih bengong memandangi gue, sorot matanya seperti menunggu. Nah lho? Apa lagi sih yang salah?!

Pak Sandi, salah satu security kantor, menghampiri kami. Raut wajahnya sedikit sewot. Aneh! Dan tiba-tiba aja dia ngoceh sembari cari-cari, “Kertas… mana kertas?” Fenny dan gue akhirnya ikut-ikutan nyari yang diminta Pak Sandi. “Nih… nih pak.” Fenny menyodorkan selembar kertas reused yang hanya sebesar telapak tangan. “Buat apa sih pak?” tanya gue yang kebingungan. Pak Sandi mengeluarkan bolpen, lalu menatap gue, “Nama lo gimana, Nie?” Dan akhirnya pun gue mengeja ulang dari nama gue.

Setelah Pak Sandi selesai menuliskan nama gue, ia menyerahkan kertas itu untuk dibaca mbak Angkie. Secercah senyum merekah diwajah ayu mbak Angkie dan ia mulai membubuhkan tanda tangan dibuku karangannya yang akan segera beralih menjadi milik gue. Kemudian ia tersenyum dan menyerahkan buku tersebut. Gue langsung senyum kegirangan dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Ia pun pamit pergi.
Fenny nyeletuk, “Oh… pantees!” ia menggaruk-garuk pelan kepalanya yang gue rasa nggak gatel.
“Kenapa sih, Fen?”
Dengan tampang kebelet napsu Fenny menjelaskan bahwa si penulis itu juga disabilitas dalam mendengar. Gue cuma bengong, pongo. Ya Tuhan, she is so beautiful. Gorgeous. Dan dia memiliki kekurangan. “Serius-lo?” lidah gue kelu. Terbata-bata gue nanya si Fenny.
“Lo liat dong tadi ditelinganya ada alat.” Jawab Fenny sambil ngelus-ngelus telinganya sendiri.
Gue pun menyadari. Oh iya ya, tadi emang gue sempat melihat alat bantu pendengaran ada dikupingnya, tapi gue nggak yakin. Masa iya?
Saat itu gue tersadar. Orang nggak ada yang sempurna. Mbak Angkie cantik secara fisik, tapi hatinya pun nggak kalah cantik dengan fisiknya. Dia punya kekurangan, ya, tidak bisa mendengar. Tetapi itu bukan menjadikan batu penghalang untuk berbagi dan mengejar mimpi. 

Buktinya ia bisa membuktikan pada orang-orang dia bisa mengecap kehidupan seperti orang banyak. Berkuliah disalah satu universitas bonafit di Jakarta dengan menyabet gelar S2 dalam bidang komunikasi. Serta dapat bekerja di perusahaan yang juga nggak kalah keren. Lalu menjadi the most fun fearless female Cosmopolitan. Belum lagi prestasinya yang merupakan salah 1 pemudi yang terus menggerakan kesetaraan bagi kaum disabilitas. Lihat, betapa besar kontribusi yang diberikan oleh seorang Angkie Yudistia.

Gue langsung malu. Malu karena gue sempet sewot karena beliau nggak ngerti apa yang gue maksud sedari tadi. Dan malu karena gue yang sempurna secara fisik ini. Apa kontribusi gue bagi diri gue? Negara gue? Orang-orang di sekeliling gue? Apa sumbangsih gue? Nurani gue terketuk untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, terutama bagi yang membutuhkan. Satu hal yang gue percaya, ada tekad dan kemauan maka kita bisa menggapai mimpi kita. Dan, terima kasih untuk Mbak Angkie yang membuat gue tersadar serta mengguyurkan minyak ke api kecil nurani gue.