Pages

Wednesday, November 23, 2011

another news about Jembatan Anak Bangsa

Selamat Pagi Indonesia, Jakarta!

Ya Tuhan, kasih-Mu tak berkesudahan. Gue mau curhat. Setelah menghadapi tiring meeting untuk melobi para komunitas. Dan sempat terhambatnya kerjasama dengan komunitas iPhonesia dikarenakan sedikit missed communication untuk masalah space dan konsep dari auction yang ada itu sendiri. Dan tadi pagi, tepatnya jam 08.00 pagi! Mereka sudah buat thread di milis iPhonesia! Dan juga di twitter Arrghhh…senangnya. Dan founders iPhonesia pun sudah survey ke sana, which is  gue sendiri aja belum ikutan survey. See? Betapa antusiasnya mereka membantu coba!? Sampai meluangkan waktu untuk survey langsung! :O 
Gue kagum abis! Spirit kepedulian dari iPhonesia tuh benar-benar mood booster buat gue untuk terus semangat mendukung gerakan ini, walau sempat sedikit mengendur karena adanya salah paham yang terjadi didalam Jembatan Anak Bangsa sendiri. But, we can and smust handle it! Kalau sekarang gue nyerah, nggak lucu banget! Sedangkan anak-anak Desa Cicaringin sendiri tidak menyerah untuk dapat mengenyam pendidikan. *Terharu sendiri sama kata-kata gue* 

Anyway, progress dari website Jembatan Anak Bangsa sendiri mulai lebih baik. Gue semakin senang. Semakin termotivasi. Gue harap sih concern-nya nggak hanya untuk jangka panjangnya aja, tapi untuk yang Fundrising Event di Rolling Stone, 4 Desember 2011. Karena asli gue deg-degan banget dengan persiapannya yang sumpah! (atau perasaan gue aja kali ya?) jauh dari siap. Ya gue berharap sih sekarang semoga semua berjalan lancar-lancar aja. Mohon dukungan juga dari teman-teman supaya membantu menyebarkan acara penggalangan dana ini biar sukses ya! *pray*
Monday, November 14, 2011

I'm blessed every second... every breath that i take...

Add caption

Dear God,
Thanx for Ur blessing everyday, every time. I’m blessed. Nggak terkira aku berterima kasih pada-Mu. Tak terhitung kasih dan perlindungan yang selalu Kau limpahkan dalam hidupku. Terima kasih selalu didekatkan dengan orang baik. Selalu dibimbing. Dijauhi dari mara bahaya. 

Terima kasih karena  Engkau menghadirkan Mama, sosok yang selalu menjadi panutan dan pengingatku. Terima kasih karena beliau aku terus menghargai tiap detik yang ada. Terima kasih karena beliau juga tiap aku akan bertindak semua terproses untuk memikirkan ulang apakah itu baik atau tidak, apakah itu akan melukainya di kemudian hari. 

Terima kasih Tuhan, kasih-Mu tak berkesudahaan untukku. Hidupku sempurna karena Engkau. Kesedihan di masa lalu mampu membuatku belajar untuk lebih berhati-hati ke depannya. Tapi jangan biarkan aku takut melangkah karena aku yakin Engkau selalu beserta dalam langkahku, Ya Tuhan. 

Ketika aku dalam keputus asaan, Engkau, melalui teman-temanku hadir untuk mendukungku. Kasih-Mu sempurna, Tuhan. Lindungilah orang-orang yang begitu baik padaku. Bukan karena hanya mereka baik padaku, tapi lindungilah hati mereka untuk selalu menebar kebaikan, tak hanya aku, tapi juga pada yang lain. 

Jamahlah ya Tuhan, hati orang-orang yang jauh dari-Mu. Rangkulah, dekatilah, seperti Engkau melakukan itu padaku. Sadarkan mereka bahwa itu semua berasal dari Engkau. Sadarkan kami untuk tidak saling membenci. Sentuhlah hati kami agar tidak dingin. Jadikanlah kami garam dan terang dunia. Amin                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
Friday, November 11, 2011

Jembatan Anak Bangsa

Soreee…… *berusaha semangat!*
Yeay! Harus semangat dong tentunya! Beberapa lama gue tidak mampir menulis ke sini tampak merindu yah? :D *Bersih-bersih, sapu-sapu”

Guys, cuma mau berbagi cerita. Belakangan ini gue lagi disibukkan kegiatan dalam suatu komunitas yang disebut dengan nama Jembatan Anak Bangsa. Apa sih Jembatan Anak Bangsa itu?
Thursday, August 18, 2011

Lovely Love!


-->
Beberapa pekan lalu gue ketemu mantan gue. Mantan pertama gue, kebetulan dia muslim. Hampir setahun kita putus kontak. Dan sehabis lebaran kemarin gue sempet berusaha menjaga silaturahmi dengan dia dengan mengucapkan selamat. Dan mantan gue, kita sebut dia A aja yah biar gampang. Waktu kita pacaran itu kisaran 6 bulan.

Umurnya dia itu 26 tahun. Dan dia siap lahir batin untuk mencari isteri. Itu di mana jadi pertimbangan gue akan kelangsungan hubungan kita. Nggak gue doang sih, dia juga. Secara gue masih muda, masih umur 19 tahun saat itu. Nggak mungkin juga gue nikah muda. Gila sih itu! Hubungan kita kandas gitu aja karena komunikasi yang buruk pada akhirnya, akibat pembicaraan beda agama dan keluarga, dll. Setelah putus sempet gue yang sedih, ngambek juga sih. Hehehe… anak-anak banget deh. Ok, stop it!
Kita lanjut di mana akhirnya gue ketemuan sama dia. Gue lupa persisnya kapan, pas lagi di kantor sih intinya. Tiba-tiba dia ngontak gue via YM. Dia nanya kabar gue, dan ngabarin kalau sekarang dia udah pindah kerja. Di perusahaan IT di bilangan Kuningan. Tepatnya di Setiabudi One, itu tempat kali pertama kita bertemu. And you know what? He still remember all our memories!

Setelah ngalor ngidul ngomongin masalah kabar, kerjaan, aktivitas, dia bahas dong itu! Dia bahas apakah gue masih inget awal ketemuan kita? Gue waktu itu jawab sekenanya aja, agak males sebenernya mengingat walau sebenarnya masih jelas banget itu semua. Dan dia bilang, aku nggak pernah lupa awal kita ketemu. Kamu yang bawain aku makanan, masakin sendiri buat aku. Oh damn! Just too sweet. Gue terharu dengan kata-kata dia yang emang manis, menurut gue yah. Hahaha…. Pengakuan dia nggak akan pernah lupa membuat gue ngerasa at least waktu itu, emang gue berarti buat dia. Those relation real happened for him, and for me.
Dan dia cerita sejak dia putus dari gue belum nemuin pengganti sampai sekarang. Goodness! I’m sorry I already had another person to replace you and its end up too. Gue ngerasa dosa yah waktu dia bilang gitu sama gue. Gue ngerasa iblis banget dalam 6 bulan setelah kita putus gue udah nemuin pengganti dia. Dan sekarang setelah ngobrol sama dia, gue kasih tau gue udah pacaran lagi dan putus. Itu rasanya ngeneees banget! Tapi ya udahlah, udah lewat.

Sampai akhirnya dia minta ngajak ketemuan. Dia bilang pengen ngobrol sama gue. And we made it. Janjianlah kita ketemu di Plaza Semanggi. He still the same one that I ever knew. Nggak ada perubahan berarti kecuali melihat dia dalam setelan kantor. Karena dulu dia bekerja di tempat yang nggak mesti pakai baju kantoran, cuma jeans sama atasan seragam.

Aaargh, he is someone ever be my history, part of my life. Still my lovely Javanese man. Hahaha…norak deh gue. Tapi cara pandang gue waktu itu nggak seperti gadis remaja kegirangan ketemu pangeran berkuda putih. Malah saat gue akhirnya ngeliat dia setelah setahun lamanya kita nggak pernah ketemu, I knew it. Gue benar-benar menganggapnya teman, malah mungkin kategori teman dekat. Nggak lebih. Dan gue amat sangat senang dengan perasaan itu. Gue berbinar, tersenyum hangat. Karena gue seneng banget bisa bersahabat dengan mantan gue. Asli, perasaan itu sangat gue nikmati.

Oh iya, kita menuju restoran dan duduk berhadapan. Pesan makan, seperti biasalah kalo orang ke restoran. Dan selama itu, kita ngobrol banyak. Dia cerita dia deket sama perempuan, gadis Semarang. Dia juga nunjukin fotonya, nggak cantik. Kayak bisa baca pikiran orang, dia nyeletuk ‘Emang nggak cantik. Kamu tahu sendirikan, aku kalo cari pacar nggak berdasarkan fisik.’ Gue malu sendiri. Antara berasa kepergok mikir begitu, sama berasa kalau gue berarti termasuk yang jelek dong yah? Tapi seneng juga sih. Berarti dia menilai gue termasuk perempuan yang baik. Ahiy!
Mari lanjut, dia bilang bahwa perempuan itu pernah disakitin sama mantannya dan masih membekas. Dia belum bisa membuka diri ke mantan gue ini. Gue simpati dengan ceritanya. Secara gue tau rasanya gimana karena mantan gue yang terakhir itu cukup membuat gue sedih banget. Ok, jangan ditanya gimana endingnya gue berhasil bangkit. Kapan-kapan aja yah.
Setelah dia menceritakan kehidupan dia selama setahun kebelakang dan terakhir dia  deket sama siapa. Si A bertanya sama gue, beralih ke gue. Dia nanya gimana gue sama mantan gue terakhir ceritanya. Jleb! Diotak gue kayak ada bayangan hitam putih yang berseliweran. Butuh waktu untuk mencerna pertanyaan dia dan menjawabnya. Ya, gue curhat sama mantan gue ini. Setelah kelar cerita, dia nanya, rasanya sakit banget pasti ya? Gue bingung. Dan gue jawab, ya gitu deh. Dia timpali sekali lagi, 'pasti sakit banget yah. Secara perempuan yang aku deketin ini aja disakitin begitu sama mantannya, sampai susah buka hati. Kalau nggak sakit banget pasti kan nggak mungkin yah.'
Mungkin saat itu dia jadi berkaca, mendengar cerita gue. Dan ngebayangin kejadian itu ke perempuan yang dia lagi deketin ini. Jujur gue bilang sama dia, sakit itu ada. Trauma itu ada. Apalagi nggak mungkin banget dilupain. Dan gue cuma belajar untuk mengikhlaskan dan memaafkan dirinya dan diri gue sendiri. Lalu tiba-tiba aja dia yang minta maaf ke gue, maaf kalau hubungan kita harus berakhir. Dan maaf kalau dia udah nyakitin gue. Gue kontan bengong yah, bo! Secara kalau direview, dia itu mantan gue yang baik. Nggak ada cela deh. Paling cuma cuek dan sibuk. Udah, manusiawi. Sisanya dia baik. Malah gue mikir-mikir, kayaknya dulu gue sering banget bertindak kekanak-kanakan ke dia. Dan gue berterima kasih banget dia bisa nerima gue apa adanya, dengan segala buruk baiknya gue. Well, then I said thanx to him for all happened. Gue bersyukur atas kebaikan dia, kesabaran dia. Gue minta maaf kalau gue melakukan banyak kesalahan dan too childish. Hehehe…. I said it to him from bottom of my heart. Nggak tahu dapet keberanian darimana gue memuntahkan semua kata-kata itu. Gue juga akhirnya curhat masalah kerjaan gue, kehidupan gue yang kurang lebih selama setahun kebelakang ini cukup porak poranda dan struggle.
Setelah obrolan panjang malam itu, kita say good bye tapi tetep keep in touch. Tapi ada lagi yang membuat gue tersentuh dan terenyuh. Dia berkata, kamu itu orangnya baik. Kamu baik banget. Hmm… bukannya lebay atau apa. Gue terharu! Asli! Twice he did and said nice things. Gue sampe merasa tersanjung dan malu. Masa sih? Selama ini gue merasa gue jauh dari baik. Dan, pantes nggak sih gue dibilang gitu? Atau dia aja yang lebay? Ok, intinya gue sangat terharu dan merasa hangat. Gue ngerasain tulus ketika dia mengatakan itu semua. Gue tersenyum. Gue bahagia banget ngeliat mantan gue sekarang bahagia.
Sejak itu gue jadi berpikir. Flash back. Belajar. Bahwa perasaan yang nggak bisa gue jabarin dengan kata-kata apalagi rumus matematika ini kalau gue bahagia. Gue ngerasa damai, tenang. Dan nyaman! Lo nggak ngerti rasanya gimana sampai lo ngerasain sendiri. Kebahagiaan tersendiri yang nggak bisa gue jelasin deh. Gue jadi mikir banget, nggak seharusnya gue benci sama mantan gue terakhir, apalagi sampe dendam. Sakit pasti, itu udah berulang kali gue ucap. Tapi gue harus belajar dan liat sisi positifnya.
You know what, I got it. Banyak sisi positifnya lho! Gue jadi belajar nggak ngandelin, atau ngarepin orang. Gue jadi bisa melihat bahwa banyak peluang bagus menanti gue. Masa depan gue. Terlalu dini hanya diem kayak orang bego di kotak hitam yang lo buat sendiri, bersedih. Kenapa juga gue nggak berusaha untuk bersahabat dengan mantan gue yang terakhir? Kita ini hidup untuk menebar kasih kan? Bukan munafik, tapi lebih mudah nyari musuh ketimbang temen! Believe me. He ever be apart of my life, dan pastinya atas seijin Tuhan. Nggak ada yang namanya kebetulan. Dengan ini mungkin Tuhan ingin mengajarkan gue untuk menjadi sosok yang lebih kuat, dan mengenal kepribadian orang yang macem-macem jenisnya. Mungkin juga maksud Tuhan untuk mempertemukan gue dulu dengan wrong person before let me meet up the right one at the right time? Sebenernya balik lagi ke diri kita, ikhlas nggak kita untuk melepas semua masa lalu menjadi bagian kita dibelakang? Bukan untuk dilupain lho, tapi bersahabat dengan rasa sakit itu sendiri.

NB: Last time I heard about him, he already in relationship with that girl. And preparing all his future with her!

August 18th, 2011
… It's all false love and affection
You don't want me
You just like the attention
Yes it's all false love and affection
You don't like me
You just want the attention

I'm not your toy
This isn't another girl meets boy 2X


Sepenggal lagu yang belakangan ini masuk repeat chart di iPod. FYI, kalau gue udah suka sama lagu, even itu lagu lama atau pun baru, gue nggak peduli dan cuek untuk mengulangnya dan mengulangnya. Orang lain boleh bosen deh, tapi gue nggak. LOL.... Malah teman gue pernah ada yang ngoceh-ngoceh karena kebiasaan gue ¬¬– yang menurut mereka menjemukan.
I Love this song, indeed … please… please… play again! *tangan gue bergoyang-goyang di udara* Entah apa yang menarik. Cuma berasa enak aja dikuping gue untuk terus dilantunkan dan menemani gue. Tapi ada kalimat yang memang menarik buat gue, I’m Not Your Toy… gue bukan mainan lo! Itu arti bahasa kasarnya. Haaa… kok seperti de-javu ya? Nggak sih, ingin memperlihatkan saja bahwa wanita itu juga memiliki prinsip dan ketegasan hati untuk menolak segala tindakan yang bisa saja dikategorikan seduce, rape, etc. Atau bisa saja, kita –kaum perempuan- bukan bagian dari permainan para pria. Gimana?
Friday, August 5, 2011

Proton VS Neutron

Gue selalu menyempatkan diri ke goa Maria apabila gue ke gereja. Begitu pun pagi ini, pagi di mana gue mengikuti misa suci seperti biasanya di minggu pagi. Gue berdoa dengan kushuk, bersyukur untuk segala yang telah diberikan oleh Dia, dan berdoa juga untuk melalui minggu depan yang kita nggak akan pernah tau seperti apa jelasnya. Oh ya, lupa ngasih tau kalau gue ini nasrani, Katolik lebih tepatnya. Gue sebenarnya bukan tipe rohaniwati sejati. Bukan juga yang selalu mengikuti misa. Tapi gue selalu berusaha berdoa di goa Maria yang mana menjadi tempat gue mencurahkan semuanya, berkomunikasi sama Tuhan dan Bunda Maria tanpa ada aturan ribet yang melekat. Antara gue dan Tuhan. That’s it! 

Dan pagi ini yang seharusnya menjadi pagi-pagi seperti sebelumnya, sedikit berbeda. Setelah gue ‘berkomunikasi’ dengan Tuhan, pandangan gue menangkap sosok kecil yang berdoa dengan serius. Gue mengamati dengan seksama, punggungnya naik turun tak beraturan, ah… dia menangis? Sosok kecil itu gue perkirakan umur 8 tahun-an, sepertinya. Sedikit bergeser ke arah anak itu untuk dapat membenarkan kesimpulan kasar gue semata.

Ternyata bener, bocah ini menangis. Gue cuma menatap patung Bunda Maria sambil berdoa dalam hati, ‘apapun hal yang membuat sedih anak ini semoga Engkau mendengarkan dan membantunya ya, Bunda dan Tuhan’, pinta gue saat itu. Anak itu membentuk tanda salib dikening, dada, bahu kiri lalu kanan, dan bibirnya melafalkan ‘Amin’.

Pelan, gue merapat ke anak itu, berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengajaknya ngobrol. Gue tersenyum, “Hai… kok nangis? Bunda Maria juga sedih lho kalo ada anaknya yang bersedih.” Seupaya gue untuk menghibur anak itu, yang ternyata emang nggak mudah untuk memulainya. Ia hanya menatap gue. Deg! Tatapan matanya sedih dengan air mata yang terus turun, anak sekecil ini punya beban apaan sampe sedalam itu?, pikir gue. Anak ini lucu yah mukanya. Tembem, putih. Jadi pengen punya adik deh. Gue lalu inisiatif menggenggam tangannya dan mengusap pelan, serta mengulurkan tangan kanan gue. “Hai, namaku Elnie. Nama kamu siapa?” Sebisa mungkin gue berusaha menggambarkan keceriaan di wajah karena ingin anak itu merasakannya. Ragu dia menyambut uluran tangan gue, “Namaku Gita.” jawabnya masih dengan sesegukan. Gue mengusap pelan air matanya, “Gita kok nangis sih? Kan Gita udah berdoa sama Tuhan dan Bunda Maria, seharusnya Gita percaya dong Tuhan akan menyelesaikan masalah Gita,” kata gue. Tatapannya kosong memandang ke bawah. Dia menangis pelan, gue hanya bisa mengusap-usap pelan punggungnya. Jujur, sebenarnya gue bingung, gimana pula nenangin anak ini dan anak orang juga. Takut gue dikira bikin nangis anak orang. Untung sepi. 

Gita menatap gue, “Gita cuma pengen papa pulang, kak…” katanya tiba-tiba. Saat itu gue kaget, seneng.., ya intinya perasaan gue campur aduk. Akhirnya nih anak ngoceh juga. “Lho… emang papa-nya Gita ke mana?” gue beraniin diri untuk bertanya lebih lanjut. “Kata Mama, papa Gita pergi jalan-jalan sama Tuhan.” Deg! Oh em ji… maksudnya? Maksudnya, bokapnya udah nggak ada, gitu? Meninggal?? “Maksudnya gimana, Git?” tanya gue. Matanya mulai berbayang, “Gita cuma pengen papa pulang. Papa pergi dari bulan lalu tapi nggak pernah balik. Nggak ada kabar. Mama juga sedih karena papa nggak pulang-pulang, kak. Pas Gita tanya sama Mama di mana Papa, Mama bilangnya Papa lagi jalan-jalan sama Tuhan.” Air matanya bergulir.

Terenyuh hati gue, gue peluk tuh anak. Kasian banget sih! Masih kecil udah keilangan bapaknya. “Gita, jagain Mama yah. Papa mungkin dapet tugas penting dari Tuhan, jadi jalan-jalannya lama deh.” Cuma itu yang kepikiran dan bisa gue omongin ke tuh anak. Speechless. Dia melepas pelukan gue, “Tapi Gita kangen banget sama Papa, kak. Biasanya Papa selalu anter jemput Gita, ajarin PR kalo Gita nggak bisa. Marahin Gita kalo salah.” Gue menelan ludah, I never feel it. I have no chance to feel father’s love. Gue bingung banget saat itu. Gimana gue mau menghibur orang dengan masalah kayak gitu, kenyataannya aja gue nggak pernah tau kayak apa kasih sayang bokap. Walau sempat terlintas keinginan, coba gue ngerasain kasih sayang seorang ayah. 

“Kak, kalo Papa kakak kayak gimana? Kalo Papa Gita tuh tinggi, cakep, sayaaang banget sama Gita.” Wajahnya tampak sedikit bersemangat, dengan manik berbinar ketika mendeskripsikan ayahnya. Gue yang dikasih pertanyaan itu malah bengong. Jawab apaan yah? “Kalo Papa kakak…” gue memutar otak, “Papa kakak tuh ganteng! Tinggi, idungnya mancung. Serasi deh sama Mama-nya kakak.” Jawab gue sambil menerawang, mengingat-ingat wajah bapak gue sendiri difoto. Gita antusias, “Beneran kak?” Gue mengangguk pelan. Walau gue nggak tau aslinya, at least sekarang gue udah bisa bikin nih anak mengalihkan kesedihannya, “Pokoknya yah, Papanya kakak tuh ganteeeng banget!” I wish I could say it when I see him in real life, in front of his face.

Dari jauh sayup-sayup seorang ibu-ibu memanggil nama Gita. “Kak, itu Mama Gita. Gita  mau pulang dulu yah. Makasih ya, kak. Besok-besok kita ketemu lagi, ok?” diulurkan kelingkingnya yang mungil kehadapan gue. Gue tersenyum kecil. Ah, anak ini… bikin gue kangen deh sama masa kecil. Gue pun menyambut kelingkingnya sambil tertawa kecil. “Kita ketemu lagi yah. Tapi Gita harus janji sama kakak untuk jagain Mama dan selalu yakin Papa aman sama Tuhan.” Gita mengangguk mantap.

“Gitaa….” Dari jauh terdengar ibu-ibu terus meneriakan namanya.

Dia berdiri, mencium pipi kanan gue kilat, dan berbalik lari sembari melambaikan tangannya, “Janji yah kaaak… Gita juga janji sama kakak.” Teriaknya hingga hilang menjauh. Gue tersenyum sambil melambai.
‘Kalo emang Tuhan punya rencana pasti kita ketemu lagi ya, Git.’ ujar gue dalam hati. Saat itu yang terlintas dalam otak gue adalah pulang. Tanpa pikir panjang, setelah berdoa sebentar untuk Gita, gue beranjak dari situ. Di perjalanan gue berpikir, flash back. Kayak apa yah bokap gue? Apa masih kecil gue pernah nanyain ke nyokap gue kemana bokap gue? Apa gue pernah ngerasa kesepian tanpa bokap? Seberapa kuatnya nyokap gue tanpa bokap? Banyak pertanyaan yang mencuat dalam pikiran gue. Nggak adanya bokap sejak gue 5 bulan dikandungan emak gue, membuat gue nggak merasa aneh dan kehilangan, mungkin. Karena gue merasa gue punya nyokap, dan gue bahagia untuk itu.

Sesampainya di rumah, gue penasaran. Gue tanya ke nyokap, “Mah… dulu masih kecil aku pernah tanya nggak papaku kemana?” Mama tersenyum, teduhnya senyuman beliau sampai gue berasa nyaman banget! “Ada apa kamu nanya hal ini? Tumben-tumbenan anak Mama nanya hal kayak gini. Pulang dari gereja bukannya laporan dulu tadi misa gimana, ini malah langsung nanya yang aneh-aneh.” Gue geregetan, “Aah… Mama, jawab aja. Aku pengen tahu. Apa aku kayak anak-anak lain yang nanyain papanya kemana.” Mama membelai rambut gue, “Nggak. Kamu penurut dan pengertian. Mama cuma bilang sebelum kamu akan bertanya, ‘Eca jangan tanya dulu yah masalah papa. Nanti pasti Mama jelasin masalah Papa kemana.’ Dan kamu manggut, mengerti.” Gue memeluk nyokap gue, “Mah, aku sayang Mama.”

Gue kilas balik kejadian hari ini. Buat gue nyokap segalanya. Perihal bokap gue, baik buruknya beliau sama nyokap gue, itu masa lalu. Sekarang adalah gue dan nyokap gue, kehidupan kita. Sejeleknya bokap gue, dia tetap bokap gue. Emang mungkin bokap gue udah bertindak nggak menyenangkan, menorehkan luka, terutama ke nyokap gue. Tapi gue nggak bisa nggak mengakui dia bokap gue. Karena itu kenyataan yang nggak bisa gue pungkiri, apalagi diganti. Gue yakin bokap gue punya sisi positifnya. Hidup itu kan seimbang, antara positif dan negatif. Proton dan neutron. 

Yang bisa gue lakukan adalah, mengambil sisi positif dari bokap gue. Atau bisa dibilang, nggak mengaplikasikan sifat negatifnya dalam diri gue. Well, I ever blamed him about all happened in our lives. Gue malah bangga banget dengan nyokap gue. Nyokap bisa bertindak seperti bokap, sahabat, guru,… pokoknya segalanya deh! She’s the best and the one! Masalah gue nggak pernah ngerasain kayak apa kasih sayang bokap? Yah, terpikir sih dibenak gue kayak apa. Tapi itu nggak membuat gue jadi menyalahkan keadaan. Karena gue yakin, Tuhan ingin gue belajar dan menjadi kuat seperti nyokap gue. 

Dan untuk Gita, semoga Papa Gita tenang di sisi-Nya. Kakak harap Gita bisa mengenang Papa Gita dan menjadi kekuatan Mama Gita ya, sayang. Tuhan pasti akan selalu menyertai langkah kamu. Asal kamu percaya dan berserah pada-Nya. Ia akan mengatur keindahan dalam hidup Gita. I miss you, Git.

Pussycat-Doll?

28 Febuari 2009
By the way, 2 days ago tepatnya hari kamis, gue menemukan seekor anak kucing yang masih mungil dan lucu di dekat pintu rumah. Gemes banget gue ngeliatnya. Actually, ada 3 ekor sih. Cuma kenapa gue lebih tertarik sama kucing yang satu ini? 
 Dia sakit. Nggak tau sakit apa. Gue cuma kasihan ngeliatnya. Mana emaknya ninggal-ninggal gitu. Kayak anak buangan yang nggak dipeduliin orang tuanya gitu. Sedih bener nasibnya. Oh iya, awalan cerita dimulai dari seekor kucing betina dengan 3 ekor anaknya udah ada di area rumah gue kisaran beberapa hari yang lalulah. Tuh kucing tadinya ada di pojokkan halaman rumah gue, deket rumah gadang yang emang sengaja dibangun nyokap gue. Terus, besok paginya udah tiba-tiba di deket pintu rumah. Nah lho? Bingung, kan.... Gue sama nyokap sih cuek aja. Pikiran cuma kucing doang gitu lho. Nanti juga pergi ngelayap ke mana-mana. 

Tapi setelah itu, ketinggalanlah seekor anak kucing yang selama 2 hari ini menjadi pusat perhatian gue sama nyokap. Gimana nggak jadi perhatian kalo badannya tuh ringkih banget. Terus, pake acara bersin-bersin gitu lagi. Sebenernya bunyi bersinnya tuh lucu banget. Tapi masa gue seneng ngeliat kucing menderita untuk bersin terus? Nggak mungkin dong. Dan yang buat nyokap dan gue makin sedih saat kita ngeliat dia jalan. Ya Tuhan... Gue nggak bisa ngomong deh. Sumpah! Kasian banget! Udah kayak orang patah tulang lagi jalan. Kayaknya persendian tulang-tulangnya ada masalah. Soalnya jalannya patah-patah terus ngerangkak-rangkak gitu. Mana matanya sebelah nutup sebelah ngebuka. 
Kata nyokap gue, kayaknya sejak lahir emang udah sakit tuh anak kucing. Soalnya emak gue suka nengokin sarang tuh kucing, dari ketiga anak kucing, dia doang yang kagak berkembang. Yang laennya udah mulai gedean terus giat nyusu, nah yang ini... sama sekali kayaknya belum menyentuh ASK (Air Susu Kucing, hehehe). 

Inisiatif aja gue langsung ngambil susu HiLo yang baru gue beli tadi siang di Carrefour. Gue buat 1 gelas, sekalian entar sisanya gue minum, maksudnya. Tapi buat si kucing udah gue resapin ke tissue. Kan biar gue gampang suapinnya. Soalnya kalo tuang ke mangkok, kayaknya dia nggak sanggup minum sendiri deh. Ngangkat badan aja susah gitu, gimana buat minum susu di dalam mangkok? Berhubung nggak punya pipet, ya mau nggak mau pake cara netesin susu dengan tissue. Gue tuang susu ke tissue pake sendok teh, pelan-pelan. Tangan gue pelan-pelan megangin tengkuk dia buat dimiringin dikit. Abis itu gue deketin tuh tissue ke mulut si kucing kecil dan gue peras pelan-pelan biar netes ke mulutnya. Beberapa kali kayaknya dia nelen tuh tetesan susu yang gue kasih. 
Sambil ngasih minum, mulut gue komat-kamit supaya Tuhan ngasih dia kesempatan hidup. Sedih ajalah, masa dilahirin cuma buat mati? Nggak lucu juga kan. Setelah gue ngasih susu, sambil ditontonin emak gue, gue minum susu digelas yang masih sisa banyak itu. Mata gue nggak beralih dari kucing malang itu. Sampai akhirnya gue sama nyokap masuk ke dalam rumah, soalnya udah malem. Gue sempet nanya ke nyokap, “Apa kita bawa ke dokter hewan aja, ya?” Mama cuma ketawa ngakak ngedengar saran gue yang katanya nggak wajar. Akhirnya gue diem aja.


Besok pagi gue bangun pagi-pagi langsung buka pintu rumah buat memastikan kondisi si kucing kecil. Dia tetep begitu aja, nggak ada perubahan berarti. Sedih sih pasti. Gue ngerasa tuh kucing nelangsa. Gue sampai sering bertanya ke nyokap, “Mah, apa dia bisa tahan?” Nyokap gue cuma bisa menggendikkan bahu. Abis beliau juga bingung mau jawab apa. Malah beliau berkata, “Lu kira gue Tuhan? Mana gue tau. Yang penting kita udah usahalah.” Mungkin saking bosennya gue bertanya bekali-kali dengan pertanyaan yang sama kali, hehehe.... Gue cuma bisa ngangguk-angguk aja. Abis itu nggak lupa gue ngasih dia susu lagi. Gue perhatiin, kok kayaknya dia makin nggak berdaya, ya? Apa perasaan gue aja? Duh... jangan mati dong. Gue pengen ngeliat lo maen sama sodara-sodara lo yang lain. Setelah melakukan ritual memberi minum susu, gue melakukan aktivitas seperti biasa. Dan nyokap gue yang jadi suster si kucing, dipantau perkembangannya. 

Tiba-tiba aja nyokap gue panik heboh sendiri di halaman. Berhubung gue lagi di dalam rumah, ngelanjutin novel gue. Kontan gue berlari keluar, “Kenapa, Mah?” Si Mama minta bantuan gue buat bukain payung usang yang sebenernya masih bisa dipake, cuma emang ujung-ujungnya ada yang kelepas dari kerangkanya aja. Nyokap gue nyuruh gue buat taruh tuh payung di sisi si kucing. Soalnya emang tiba-tiba aja langit yang tadinya mendemonstrasikan panas sinarnya, berubah jadi suram dan mulai menitikkan tetesan air. Gue juga ngerasa ketakutan tuh kucing malah makin parah lagi kalo kena hujan. Untung Mama nggak kehabisan akal, jadi dipayungin deh dia. Ya udah, gue sama nyokap masuk rumah. 
Ujan cukup deras. Sempet was-was juga. Moga-moga tuh payung kagak kebawa angin. Sorenya pas hujan udah berhenti, gue sama nyokap keluar halaman buat mastiin keadaan tuh kucing. Pas kita longok ke bawah payung, KOK KUCINGNYA NGGAK ADA? Mampus lho! Ilang lagi!? Duh... macem-macem deh pikiran kita, kalut. Gue cari pelan-pelan. Gue telusurin pinggir-pinggir rumah gue. Ketemu! Dia lagi tergolek lemah di deket pintu garasi. Gue perhatiin, napasnya udah satu-satu. Perutnya kembang kempis secara perlahan. Duuhh... makin nggak tega gue. Gue bilangkan ke nyokap kalo dia ada di mana. Kata nyokap biarin aja, jangan diganggu. Kasian dia. Tapi nyokap sempet ngelongok juga.

Besok paginya... berita duka. Si Kucing udah lewat. Perutnya sama sekali nggak bergerak. Nggak ada tanda-tanda kehidupan. Sedihnya.... Gue sebagai manusia berasa nggak berarti dah. Nyelamatin nyawa kucing aja nggak becus. Terus nyokap gue suruh si Bibi buat ngegaliin lobang. Rencananya emang mau kita kubur kalo sampai si kucing mati. Eh, bener kejadian. Gue cuma bisa ngeliatin proses penguburan si kucing. Nyokap gue lagi sibuk sama tanaman kembangnya. Setelah ditimbun di dalam tanah hingga rapi, gue beranjak untuk samperin nyokap gue yang sedari tadi sibuk metikin bunga berwarna merah. “Buat apaan, Mah?” tanya gue yang bingung merhatiin tingkah beliau. Soalnya Mama metikin tuh kembang sampai seraup telapak tangan. “Buat kuburan si kucinglah,” jawabnya singkat. Gue cuma bisa ber-oh. Terus nyokap ngeloyor pergi ke kuburan si pitik. Gue ngekor dari belakang. Kita taburin bareng-bareng kembang hasil petikan nyokap ke pusaranya. Gue cuma bisa doa, semoga dia tenang di alam sana. Amin.

Esok harinya. Pagi-pagi seperti pagi lainnya, gue bangun langsung menuju halaman rumah. Ekor mata gue menangkap sosok Mama yang bergerak jalan mengarah ke gue. Setelah agak dekat, gue tanya, “Abis ngapain, Mah?” Terus nyokap bilang kalo dia abis ke makam si kucing buat tabur bunga sama doa. Gue cuma bisa cengengesan. Abisnya, awal-awal kan si Mama cuek bebek ama si kucing kecil itu, tapi sekarang malah dia yang sibuk sendiri. Dari kasus ini gue bisa ngambil kesimpulan bahwa kita seharusnya bisa menghargai tiap detik yang berlalu dengan kejadian-kejadian menakjubkan dalam hidup kita. Karena kita nggak akan pernah tau kapan ajal menjemput seperti si kucing itu. Nikmatilah hidup ini sebaik mungkin dengan orang di sekeliling kita dengan penuh kasih.... Dan hargai tiap detik kebersamaan itu. Karena belum tentu detik berikutnya lo bisa ngeliat mereka kan?