Pages

Friday, December 18, 2009

KARMA

Gue percaya banget sama yang namanya karma itu ada. Intinya, apapun yang kita perbuat akan berdampak pada hasil akhir dari perbuatan kita. :)
Tuesday, December 1, 2009

senangnyyaaaaa.....

Setelah sekian lama gue udah nggak menyentuh blog ini. Owh... kangen banget. Tapi apa daya baru sekarang-sekarang ini gue sempet. Mencari waktu senggang dikala schedule gue yang mulai nggak se-akrab dulu sebelum kerja. Short story-nya adalah, gue sempet dapet kerjaan di perusahaan yang tergolong baru. Perusahaan ini bergerak dibidang jasa entertainment. Hehm, cukup menyenangkan kerja di sana. Sebagaimana itu pengalaman baru juga untuk gue. And overall, gue kerja di sana hanya bertahan kurang lebih 9 bulan lamanya. Ya... gimana ya? Bukannya gimana. Gue berusaha kerasan dengan dipindahkan diri gue ke new site tapi ternyata oh ternyata, it's not me.... I'm not belong there :(
Sunday, June 28, 2009

Menulis adalah sebagian dari iman!


Grrrr.....akhirnya setelah sekian lama gue vakum dr dunia blogger nun gemerlap ini (ck...ck....dugem kali ajeb2) hari ini, detik ini, gue mengerjakan piece yang terbengkalai dalam kurun waktu yg relatif lama. Rindu????? sudah pasti! Apalagi dgn novel2ku yg msh blm jls jdnya dan jaaauuuhhhh dari finishing... OOOOWWWWHHHH.....TTTIIDDDAAAKKKK
Sunday, March 29, 2009

(lanjutan) Coretan hati.... Ah, lebay!

Dosa para cewek-cewek juga yang terlalu picky. Inget, dengan lo ngasih patokan standar GANTENG setinggi itu, ngebuat lo secara langsung nggak langsung jadi orang yang PEMILIH. Mau bela diri lo? ‘Ya kan, hari gini pantes dong kita milih. Kita kan nggak mau dapet lelaki brengsek. Emangnya lo mau?’ Gue nggak mau. Siapa juga yang mau. Orang gila! Tapi tolong lo liat definisi GANTENG lo itu, terlalu tinggi. Terlalu ngimpi, malah. Tuhan udah mempersiapkan manusia itu berpasangan. Lo tinggal tunggu aja lawan jenis yang emang udah jadi takdir lo. Nyokap gue selalu berpesan, “Nak, kamu jangan matok tinggi-tinggi kalo suka sama orang. Karena pada dasarnya tiap manusia itu dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan. Siapa pun dia, kamu harus bisa menerima dengan ikhlas. Jangan menuntut lebih dari yang bukan padanya. Kamu nggak berhak atas manusia. Oleh karena itu juga kamu nggak berhak mengkotak-kotakkan orang. Sebab Tuhanlah yang berhak akan semua yang ada. Yang penting dia itu baik, rajin, dan mau nerima kamu apa adanya.” Itu adalah petuah nyokap gue yang selalu gue ingat.
Dosanya para lelaki adalah terlalu mengangan-angankan wanita CANTIK. Padahal semua wanita diciptakan nggak kayak gitu. Lagian, ngaca dululah, mas! Lo juga manusia biasa. Lihat dengan mata kepala lo. Banyak wanita kurus, tapi kulit hitam, muka berjerawat, pendek. Ada juga wanita cebol, putih, gendut, mulus. Atau wanita tinggi, jerawatan, geek, rambut gimbal. Dan masih banyak contoh-contoh yang nggak bisa gue sebutin semuanya karena terlalu banyak jenis cowok cewek di dunia ini. Tapi satu yang mereka punya; hati, otak, dan kepribadian. Eh, itu lebih dari satu, ya? 3 malahan.
Wanita yang terkenal lebih main perasaan dibanding logika inilah yang banyak goyahnya. Mereka jadi agak tertarik untuk mengubah diri menjadi definisi cantik itu dengan penuh perjuangan. Jalan sesulit apapun mereka korbankan. Makanya terkenal dah tuh istilah-istilah bulimia atau anorexia nervousa. Kenapa kalian –lelaki—nggak pernah berusaha untuk melihat bahwa mereka juga wanita. Lebih wanita dari pada wanita-wanita jalang yang memamerkan keseksian tubuh. Mereka hidup dan ada di dunia ini. Tuhan menciptakan mereka. Begitu pula sebaliknya, kaum kalian juga nggak sesempurna itu. Ada yang bopengan, tampang mas-mas tengil, pendek. Atau putih, tinggi, idung pesek. Dosa perempuan yang terlalu di’buta’kan media yang memaparkan definisi ‘GANTENG’ itu. Liat ya, liat. Liat ampe mata lo semua melotot. Lo hidup nggak sendiri. Manusia beragam. Dengan berbagai wujud dan sifat. Terima diri lo apa adanya dan mulai menerima orang lain sebagaimana lo menghargai diri lo sendiri.
Mereka kaum yang nggak sesuai definisi ‘CANTIK’ dan ‘GANTENG’ itu punya perasaan lho. Mereka bisa juga sakit hati. Emangnya lo pikir di dunia ini elo doang yang punya hati? Yang bisa sakit hati? Mereka merasa terpojok dan nggak dianggep. Dan mereka diolok-olok karena mereka tidak sesuai dengan definisi ‘CANTIK’ atau ‘GANTENG’ tersebut. “AA pendek... AA pendek....” Itu contohnya. Itu nyata dan terjadi nggak hanya dikalangan dewasa tapi sudah sejak dini, anak kecil. Ngaku aja, sering kan lo denger hinaan itu sejak lo masih pake baju putih merah? Apa jangan-jangan, lo adalah salah satu orang yang ikut ngatain? Paarraaahh!! Atau, “BB item... BB item....” Nah, emang salah kalo dia dilahirin kulit item? Emang salah kalo dia dilahirin pendek? Dan salah juga, kalo dia dilahirin sipit? Itu Tuhan yang ngasih lho. Kenapa lo nggak pernah salahin Tuhan karena ngasih si AA ama BB dengan wujud kayak gitu? Kenapa harus dia-dia itu yang lo ejekin? Inget, apa yang dikasih Tuhan tuh anugerah. Bagus lo dikasih panca indera lengkap. Bersyukur tuh! Bagus juga dikasih idup sama Tuhan.
Itu semua yang terkadang melatarbelakangi seseorang menjadi psikopat, pembunuh, dsb. Karena gunjingan orang yang datang dari berbagai arah. Mungkin lo akan berpendapat, Itu salah orangnya kenapa nggak berusaha tahan diri atau cuek aja? Itu bukti kalo lo itu makhluk egois! Individualistis tanpa mikirin perasaan orang lain. Jawaban gue adalah, mereka berusaha. Sangat berusaha. Tapi apa lo semua bisa menutup mulut kotor lo untuk tetap tidak mencela kaum minoritas itu? Karena emang begitu kenyataan yang gue liat. Walaupun sekuat apa mereka membuktikan keeksistensian diri mereka dengan prestasi, de... es... be.... Tapi teteeeep... aja mereka semua lo anggap kecil dan hanya bagai kuman dipelupuk mata. Itu salah besar. Malah mereka lebih worth ketimbang lo semua. Bukan berarti gembel itu gembel, kan? Malah gembel bisa jadi pengusaha. Mereka berusaha setengah idup setengah mati tapi tuh mereka kayak lagi teriak kenceng-kenceng di gurun Sahara. Gue cukup banyak ketemu orang yang dianggap kaum terasing itu. Sungguh mereka itu adalah pribadi yang ngebuat gue takjub. Gue bisa ngeliat dengan mata telanjang gue (hehehe... emang selama ini mata gue pake baju, ya?) bahwa mereka memiliki keindahan tersendiri yang nggak bisa ditandingi dengan kecantikan atau ketampanan fisik semata. Di saat itu gue makin merasakan kebesaran Tuhan hadir. Sungguh nyata! Eh, kok kata-kata gue udah kayak buku rohani aja, dah!?
Dan gilanya adalah manusia kadang nggak pernah puas, ya? Mata sipit gitu pake dioperasi segala biar ada lipetan. Apa namanya lo bersyukur sama Tuhan? Buka mata lo, masih banyak di luar sana yang punya lipetan mata, tapi matanya buta. Mau lo ngegantiin posisi dia? Orang mah punya duit lebih buat bantu yang buta itu supaya kali-kali aja bisa ngeliat lagi. Kan bagus banget itu. Jadi lo bisa bersama-sama menikmati keindahan dunia. Eeh... malah sibuk sendiri buat supaya keliatan canntttiiikkk... mulu. Itu baru satu. Yang lainnya lagi nih. Kulit item. Orang bule bilang kalo kulit item tuh ekostis! Sexy... gitulah katanya. Tapi orang Indonesia yang notabene-nya berkulit sawo matang atau item, mbok ya eling toh. Malah dengan bodohnya pake ngeluarin duit jutaan buat sekali suntik cairan yang nggak jelas kimianya aman apa kagak buat badan jangka panjangnya, supaya kulit jadi putih kinclong! Nah... nggak syukur kan lo? Gaya-gayaan aja rajin ke tempat ibadah. Tapi sih kelakuan nggak sesuai. Malu lo! Gue selalu menekankan, apa yang terjadi dalam hidup lo tuh adil seadil-adilnya. Itu terjadi karena kehendak-Nya. Dan pasti ada maksud dibalik semua itu. Kenapa sih lo selalu ngerasa kecil ati, “Duh, gue nggak secantik si A deh.” or “Hehm... kayaknya gue kurang cakepan nih.”
Atau, mari sekarang kita mengandai-andai untuk cewek ya. Buat laki, tinggal ganti aja subjeknya sesuai jenis kelamin lo-lah. Awalan proyeksi pita film menggambarkan ketika lo lagi duduk bengong sendirian kayak orang bego di pinggir jalan, terus nggak sengaja lo ngliat ada cewek cantik bener tampangnya. Lo langsung ngiri. Pengen kayak dia. Terus dia ngelewatin lo sambil tersenyum, lo ngebales sambil mata tetep mantengin dia. Eh, lo liat kakinya cacat. Apa yang lo pikir? Lo langsung liat kaki lo dua-duanya masih lengkap, utuh tanpa cela sedikit pun! Abis itu lo bediri, jalan-jalan buat ngliat-ngliat sekitar. Nggak sengaja lo tabrakan ama laki ganteng. Waduh... cakep bener nih cowok. Abis itu lo mikir, coba gue punya pacar kayak dia.... Iya, kan? Nah, elo pasti basa-basi minta maaf sama dia, begitu pun sebaliknya. Terus dia bilang bukan elo yang salah, dia yang salah. Dia bilang elo orang baik, dia seneng ketemu lo. Karena elo orang yang rendah hati yang mau maapin ditabrak orang buta kayak dia. Apa yang lo pikir pas tau dia buta? Terus elo jalan lagi nih, sampai akhirnya elo tiba di sebuah taman. Di salah satu bangku yang ada di taman itu, elo liat anak kecil duduk sendirian sambil ngeliatin anak-anak yang lain lagi pada sibuk maen bola. Elo tertarik kan pastinya buat nanya, Kenapa kamu nggak gabung ikut main sama mereka? Dia cuma bisa diem natapin lo. Karena apa? Dia budek. Nggak bisa denger. Bahasa alusnya, tuli. Intinya gue cuma mau bilang sayanginlah badan lo itu. Lo punya sepasang kaki yang bisa membawa lo pergi ke mana pun, ke tempat-tempat yang bagus. Punya mata untuk melihat yang indah-indah bukan kerjaannya ngeliatin bokep mulu, punya kuping untuk mendengar yang merdu-merdu, yang baik-baik, dan yang emang pantes lo denger. Punya kedua tangan untuk melakukan kebaikan, menolong orang, bukannya ngejerumusin diri buat nolongin orang! Malah, jadi tangan ‘nakal’.
Itu tadi baru beberapa orang cacat yang gue jabarin. Intinya nih, walau mereka cacat, tapi hati dan otak mereka nggak cacat. Mereka malah bangga dengan cacatnya mereka. Cacat bukan penghalang untuk berkarya. Dan cacat nggak ngebuat mereka jadi orang yang egois, minta dikasihani. Dan perbuatan mereka NGGAK cacat. Gue malu lho kalah sama mereka. Lo sendiri gimana? Apa emang udah nggak punya urat malu, ya? Apa urat malu lo udah dijadiiin tali kolor? HA~HA~HA. Orang-orang cacat kayak gitu malah lebih tahan banting dan jago dari lo. Buktinya... mereka bisa nyari duit walau badannya nggak selengkap lo. Nah elo? Bisanya ngelel sama orang tua. Nyusaaahhhiinnn... mulu kerjaannya. Sedikit cerita kalo emang lo tau atau sudah tau. Ada perkumpulan orang cacat. Cacat di sini itu kagak punya kaki atau tangan. Tapi mereka itu lebih unggul dari lo! Mereka bisa ngehasilin lukisan yang keren abis! Dan itu bisa dijadiin penghasilan buat mereka. Itu salah satu kelebihannya. Belom lagi mereka itu tahan ati dihina orang atau direndahin. Gue yakin 100% nggak semua orang bersikap amat welcome atau nerima mereka apa adanya. Mungkin adalah dari lo-lo pada yang kagak milih-milih. Tapi... as i say, nggak semua. Walau kata mereka digituin, tetep mereka lapang dada dan sabar. Beda banget ya sama lo pada, dihina dikit aja... penghuni kebon binatang atau nggak kelamin orang lo sebut-sebut. Sebenernya lo itu orang berpendidikan nggak sih? Atau sebenernya play group kagak tamat? Atau... kagak sama sekali? Waduh! Pantess...! bahasa Indonesia kagak lulus. Mesti belajar tuh dari awal.
Kita dikasih otak buat mikir, bukan buat nyusahin diri sendiri apalagi orang lain. Makanya gue nyengir kuda ngeliat orang normal, tapi perbuatannya cacat. Kayak lo lo itu. Yang hanya bisa ngeliat orang dari penampilan luar. Kagak mau ke’dalem’nya. Puas lo udah banting tulang jungkir balik buat diri lo keliatan ‘CANTIK’ dan ‘GANTENG’? Pada akhirnya lo capek sendiri. Bahwa kenyataannya elo udah jadi orang lain. Bukan diri lo sendiri lagi. Sedikit gue minta isi otak lo dari kapasitas yang segitu gedenya buat mikir sebentar. Sebentar... aja. Apakah lo pada pernah mikir kelakuan lo secara nggak langsung telah mematikan karakter orang tersebut? Atau, potensi orang tersebut? Pasti nggak! Gue jamin! Garansi berjuta persen!! Jangan melakukan semuanya serba spontanitas tanpa mikir. Kalo lo mikir, nggak mungkin dengan mudahnya lo ngomong kotor di mana aja, ke siapa aja, dan kapan aja. Kalo lo mikir, nggak mungkin lo melakukan tindakan-tindakan gila. Pengen gue cuci deh mulut lo pada pake air sabun biar bisa berhenti ngomong jorok atau ngehina orang. Itulah mengapa gue capek ketemu dengan orang-orang yang malah ngebuat dirinya tampak ‘standart’. Lebih milih gue nemuin orang cacat yang masih punya hati dan otak, serta kreasi. Dibanding orang lengkap sempurna kayak lo, tapi sayang... huh... ha... ha... perpaduan hati, otak, kelakuan, terdiagnosis CACAT!
Friday, March 6, 2009

CINTAKU KEPENTOK HOMO....

He... He... He.... Judul di atas tidak bermaksud menimbulkan kontroversi lho. Tapi memang kenyataan cinta gue kepentok homo!

photo taken from google.com


Arrrgghhh... kisah berawal waktu SMA gue naksir berat ngeliat muka guru les Inggris gue yang native Portugal. Kita panggil dia si T. Wuiiihhh... ngeliat dia udah kayak ngeliat dewa Yunani. Matanya bagusss... banget! Biru keabu-abuan. Tiap gue ngeliatin matanya, rasa-rasanya hati gue damai dan tentram banget. Belom lagi hidungnya yang mancungnya tuh pas banget sama wajah latinnya. Tinggi badannya proporsional layaknya orang bule pada umumnya. Makanya gue rajin banget dateng les. Malah dateng setengah jam lebih awal dari jamnya. Temen gue suka kaget karena rajinnya gue dateng di mana kelas masih sepi. Gue cuma bisa senyum aja. Pada nggak tau sih dibalik kerajinan gue. He... he... he....

Hari-hari les gue begitu menyenangkan. Walau sebenarnya guru gue itu galaknya setengah mati. Tapi teteepp... itu nggak buat senengnya gue ngeliat muka dia jadi ciut. Kadang malah gue pikir, maksud dia baik untuk mendisiplinkan kita-kita biar nggak telat masuk kelas, biar nggak ngobrol sendiri-sendiri, dll. Beberapa bulan telah gue lewatin. Dan senengnya, walau naik level tapi gurunya nggak ganti, tetep dia!

Hingga suatu hari gue terpaksa mesti berhenti dari tempat les yang merupakan gudangnya native teachers yang mantep-mantep. Hiks.... Sedih sih pasti. Itu tandanya gue udah nggak bisa mantengin wajah cakepnya tiap Senin-Rabu-Jumat. Pindah rumah, alasan yang nggak bisa buat gue menolak. Mau nggak mau, ya haruslah. Sebagai tanda perpisahan dan wujud rasa terima kasih gue sama dia, gue kasih dia wayang golek. Gue lupa wayang Arjuna apa Rama. Antara dua itulah yang pasti. Gue bela-belain tuh ngibrit ke Sarinah. Tadinya gue mau beliin dia batik. Gue tanya nyokap yang bagus batik apa ya? Katanya hasil cantingan batik Solo atau Jogja, halus banget. Halus sih halus... harganya yang kasar! Duit gue kagak cukup dah buat beli baju batik yang angka nolnya sampe enam digit. Wayang aja udah cukup mahal, buat gue. Apalagi dengan kantong gue yang lagi merepet, kantong anak SMA.

photo taken from google.com

Setelah gue beli, gue minta sopir buat langsung melajukan mobil ke tempat les gue yang terletak di Kuningan. Sampai di sana dengan seragam olahraga SMA yang bener-bener gedombrongan karena abis UAS praktek, gue langsung menuju lift yang membawa gue ke lantai di mana ruang les gue berada. Saat itu gue mengutuk diri gue yang udah kecil liliput, makin culun dan anak-anak banget, mana dekil lagi. Perpisahaan yaaaannnggg sempurna dengan menampilkan gue si dekil kecil tak berkembang.

Gue tanya bagian student advisor ke mana gerangan guru gue tercinta. Ternyata lagi ngajar di ruang yang sama dia ngajar kelas gue. Gue liat dari jendela, kelasnya lagi asyik kayak piknik kecil-kecilan gitu. Soalnya, ada yang bawa rantang plastik gede isi spaghetti. Baru tau gue ada acara beginian. Gue cuma bisa mematung dalam jarak beberapa meter dari pintu kelas dan mengamatinya dari kaca jendela deket pintu. Emang sih, pintunya agak kebuka. Tapi gue kagak nekat buat langsung masuk dan manggil dia. Hingga akhirnya dia berasa ada yang liatin kali ya? Dia nengok tepat ke arah gue. Dia kaget akan kedatengan gue. Dia senyum ke gue. Gue gelagapan yang ketauan lagi mandangin dia. Malu gue! Gue cuma bisa senyam-senyum salting. Dia keluar dari kelas sambil bawa piring. Gue jalan ke arah dia. Gue sama dia basa-basi saling menanyakan kabar, terus masalah kepindahan gue, bla... bla... bla.... Sampai akhirnya gue ngasih tuh wayang buat dia. Dia surprised banget. Awalnya dia nolak ampe speechless. Ada juga gue kali yang speechless ngomong sama dia diluar konteks lesson. Dia sampe terima kasih bekali-kali pas ngebuka hadiah gue. Dia tersanjung banget. Dan tiba-tiba dia cium pipi kiri and kanan gue! GILA! Hoooaaaa.... senengnya. Jangan tanya jantung gue berdetak dengan kecepatan berapa. Gue sampe bengong, diem, dan kayaknya jiwa gue pisah dari raga beberapa detik saat itu. Sadar juga gara-gara dia ngoceh buat minta nomer hp gue, yang lagi-lagi buat gue kaget sekagetnya. Ngimpi apa gue semalem dapet kesenengan bertubi-tubi? Gue catet nomernya dan dia minta gue missed call dia. Terus dia bilang supaya kita tetep keep contact-an. Gue cuma bisa manggut-manggut dengan senyum yang terus mengembang nggak pernah surut. Gue pamitan sama dia dan langsung pergi karena sopir cuma nunggu sebentar. Abis nyokap gue mau make mobil entar buat pergi.

Langkah gue terasa enteng banget. Melayang. Dan muka gue terus sumringah. Gue sampe takut sendiri. Takut orang ngirain gue orang gila. Tadinya gue sempet sedih karena gue nggak bakal bisa les dan ketemu dengan mbak-mbak yang udah akrab banget sama gue, serta guru-gurunya. Tapi setelah apa yang barusan terjadi sama gue. Gue yakin gue nggak bakal nyesel ninggalin tempat ini, yaa... sedikit sih.


PRESENT…

photo taken from google.com

Kembali ke masa sekarang. Sejalan waktu hingga akhirnya gue menyesap dunia kuliah. Gue tetep keep contact-an sama dia. Emang nggak sering-sering sih. Just drop to say hello. Oh iya, kebetulan ada ex-teacher yang masih keep contact-an sama gue. And fortunately, he’s really fluently speaks bahasa Indonesia. Tapi kasarnya. Yang bahasa baku dia kagak ngerti. Dia ini tempat gue berdiskusi gila-gilaan. Sebut aja dia si L. Iseng-iseng ngobrol sama si L, gue tanya apa dia kenal sama si T. And you know what he said? Owh... a gay who’s always shows his porn video

WHAT!? 

Gue sampe mangap. HEH!? Apa lo bilang barusan? Geelaa... rasanya dunia gue berhenti berputar. Shoot! Masa sih??? Emang gue pernah denger gosip itu dari sesama murid. Tapi gue nggak yakin akan hal itu dan gue malah menyangkalnya di depan temen-temen gue. Gue bilang sama mereka itu nggak mungkin. Karena gue diajar sama dia udah lamaan dan gue taulah sedikit tentang dia. Temen-temen gue kan banyak yang baru dan beberapa yang lama, karena di tempat les gue kadang nggak semuanya lanjut next level. Ok... gue sampe nanya bekali-kali ke si L (mungkin!) salah jawab atau just gossip. Tapi kata dia emang bener. Malah gue disuruh ngeliat tanda-tandanya. Kyaa..... si L bilang gue kepolosan. Dia ketawain gue yang sampe nggak bisa menyadari hal itu. “Lo naksir ya sama dia?” tembak si L langsung ke gue. Gue cuma bilang, “Kagak... kagak. Sapa yang naksir juga. Nggak nyangka aja dia homo. Kok bisa ya?” Eh... ketawanya makin kenceng aja! Sial kan!?


Dan berhubung karena relation gue dengan ex teachers sangat baik, berkenalanlah gue dengan salah satu ex teacher lain. Tapi dia belom pernah ngajar gue sih. Gue kasih nama dia si J. Hubungan gue baik dengan J. Dan saat itu gue sempet had feeling with him. Yeeeaa... karena dia emang laki idaman gue. Hehehe... abisnya emang personalitinya ok. Attitude-nya, serta how’s he treating me as a woman. Dia fun banget orangnya. Dan paling gue nggak tahan adalah saat ngeliat matanya. Ya Tuhan! Bagusnya tuh mata. Enough, gue menceritakan si J. Setelah ngalor ngidul cukup lama. Gue iseng tanya, “Do you know T?” And he said, yes. Terus sambil ngomong pelan dan nggak sekasar si L, dia bilang juga kalo si T homo! Kyaaa... gue mesti gimana dong!? Udah dua orang yang kompeten memaparkan fakta yang ngebuat gue kaget bin shock! Take a breath. Hoaaa... kenapa mesti dia sih?! Gue nggak mempermasalahkan homo-nya. Tapi yang gue permasalahin adalah kenapa mesti dia? Kenapa juga gue nggak sadar? Dan, kenapa juga gue bisa naksir dia???

Damn!

Sampai suatu hari si T ngajak gue buat lunch bareng sama dia. Gue happy kegirangan. Gue telpon temen gue buat nemenin gue makan bareng dia. Temen gue sempet nolak. Nggak mau, katanya dia kagak mau jadi orang ketiga. HEH? Emang gue lagi nge-date sama dia? Toh, ternyata dia ngajak koleganya juga. Dan lagian dengan fakta yang telah gue dapet. Gue sempet memperingatkan diri gue agar nggak terlalu larut dan merasa dia atas awan.

Sebenernya hari kita ketemuan yang nentuin gue, karena dia bilang biar gue yang arrange. Gue minta hari sabtu. Karena emang lowong nggak ada acara dan sekalian rencana gue mau makan sushi bareng temen gue di Plaza Indonesia. Jadi setelah gue ketemu dia, langsung cabut ngemil sushi deh. Tapi kata si T hari itu dia pulang agak sorean, jam 2-an gitu baru bisa ketemu. Dan ada koleganya, juga dia nggak bisa lama-lama ketemu gue karena lanjut jam 4 ke gereja. Dia sempet nggak mau. Karena nggak enaklah sama rekan kerjanya plus padetnya jadwal dia hari itu. Tapi akhirnya dia mau sih. Gue tampil semanis mungkin buat dia. Temen gue juga kagak mau kalah. Sampe gue bingung, yang demen sama dia, gue apa temen gue? Kenapa dia jadi dress gila-gilaan? Whatever!

photo taken from google.com

Duduklah kita berempat hadap-hadapan di meja suatu restoran bilangan Menteng. Suasana kaku banget. Gue ngerasa waktu setengah jam serasa satu jam! Mana gue dateng telat satu jam dengan janji diawal ketemu jam 2. AHA! Bagus banget bikin ilfeel-nya. Nice impression. Kita ngomong basa-basi dengan inggris yang formal banget! Nggak betah gue. Tiba waktunya kita saling pamit. Then, say good bye.

photo taken from google.com

Hari itu gue makan sushi gila-gilaan buat pelampiasan dan meratapi nasib kenapa bisa demen sama dia (?) Gue tanya temen gue bekali-kali, apakah menurut dia si T itu homo? Apakah homo bisa sembuh? Dan temen gue bilang emang ada indikasi ke arah sana sih, dan homo itu susah sembuh. Karena bisa dianggap gaya hidup dan itu udah kayak bagian jiwanya. Gue makin nggak terima. Kenapa gue kagak bisa ngeliat tanda-tandanya sih? Pada akhirnya gue berusaha mengubur perasaan terhadap si T dan nggak niat menghubunginya lagi.

Nggak berapa lama minggu kemaren dia SMS gue nanyain kabar, as usual. Gue cuma bisa mengutuk, Kenapa sih lo masih sms gue walaupun just say hello? Ya gue bales deh. Dan dia malah cerita kalo dia lagi nyari kerjaan baru. Dia udah nggak betah kerja di tempat les itu. Gaji kecil tapi kerjanya seabrek. Akhirnya gue malah bantuin dia nyari tapi nihil. Hingga minggu ini tiba-tiba dia sms nanyain kabar lagi. Dia juga ngasih tau dia bakal holiday ke Venezuela, Portugal, dan Malaysia in April to May. Lucky you! Now... i just try to realize his condition not as straight but... gay. And may be we could be friend. Yeah... friend. Hiiyaaa... hard to accept it!

Keponakanku tercinta... 1 maret 2009


Hari ini gue bertambah keponakan lho! Actually gue nggak pernah suka dipanggil tante diusia semuda ini. Kesannya tuh gue tuuuaaa… banget! Padahal masih remaja gitu. Nama keponakan gue Rapzhi Fadre Alhimni. Tuh fotonya. Menurut lo, lucu nggak dia? Kalo kata gue lucu. Abisnya, anaknya tuh gampang ketawa, nggak pernah nangis kayak anak kecil lainnya. Cerita dimulai di hari minggu yang panasnya nggak ketulungan. Nah… si bocah dateng jam 10 teng. Dengan oma dan opanya yang mana tante dan om gue. Terus udah gitu, awal-awalan gue sama tuh anak masih malu-malu kunyuk dah, as usual. Sampai akhirnya gue—yang emang nggak betah ngeliat anak kecil—godain. Gue becandainlah. Eh, dia langsung ketawa-ketawa sampe geli sendiri gitu, girang banget. Akhirnya gue ngulurin kedua tangan gue nawarin ngegendong dia. Tada… dia mau! Langsung kegirangan gitu. Duh… mungilnya. Baru 5 bulan tapi lincah. Cerewet lagi! Hingga nggak kerasa waktu telah bergulir mengharuskan dia untuk pulang. Usut punya usut, ternyata bapak emak nih anak nggak tau anaknya di’culik’ ke rumah gue. Waduh! Ya sudah, akhirnya dengan berat hati gue berpisah sama si mungil. Dan pada menit-menit terakhir gue sempet-sempetin untuk colong-colong foto dia yang emang kagak bisa diem sama sekali! Alhasil, ada 73 foto dengan berbagai pose yang macem-macem banget. Kalo dipisahin sih… cuma beberapa lembar doang yang bisa dikategorikan layak untuk disebut foto. He… he… he…. Tapi gue seneng sih. Ternyata kesenangan gue bermain dengan anak kecil nggak pernah ilang. Malah kangen banget gue sama anak kecil. Sejak pindah ke rumah yang di Bintaro, sepiiinyyaaa…. Kagak ada anak kecil yang lucu-lucu gitu. Ya terpaksa deh, gue cuma ngerem di rumah.

Mari belanja....

3 Maret 2009


Hoaah… hari ini gue disuruh nyokap buat pergi belanja kebutuhan rumah tangga. Nah, karena gue ngarah deket aja. Pilihan gue jatuh pada Bintaro Plaza, HERO. Abis gue males ke Carrefour. Jauhan, ah. Terus nggak ada apa-apa lagi. Kalo ke Bintaro Plaza kan gue bisa mampir ke Gramedia buat ngelongok ada buku baru apa gitu yang bisa menambah koleksi buku gue yang makin menggila di rumah. Udah dari akhir Febuari kemaren sebenernya gue udah ngincer buat beli buku ‘Skenario Dunia Hijau dan cerita-cerita lain’ karya Sitta Karina. Karena di milis Sitta Karina gue udah dapet news letter kalo tuh buku udah terbit, lengkap dengan harganya. Sayang… apa mau dikata waktu itu kantong gue nggak mencukupi buat beli sebuah buku dengan harga Rp 28.500! Huh… sebel gue! Padahal gue udah ngidam banget untuk menambah koleksi buku karya Sitta Karina di rak lemari. Tapi ya, itu tadi… no money. Dan hari ini, my lucky day, akhirnya gue bisa beli tuh buku. Terima kasih Tuhan. Kerja keras dengan menguntit uang jajan sana sini nih. Baru kali ini nih gue merasa susah dalam membeli buku. Sedikit cerita, dulu gue pernah khilaf beli buku sampe 800rb! Dan tiap kali gue ke toko buku, pasti nggak satu dua biji buku doang. Minimal 3 buku. Gila banget emang! Gue tuh khilaf kalo udah berhubungan dengan buku. Masalah baju, sepatu, kind of girl stuff, nggak terlalu nafsu malah. Biasa aja. Apalagi kalo gue beli buku lewat internet, beh… udah kalap juga dah tuh. Kan lumayan, banyak diskon dianter pula. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Itu cerita singkat tentang perbuatan gila gue ya. Jangan ditiru. Dan sekarang gue lagi berusaha me-manage keuangan gue masalah belanja buku ini. Back to the story, gue beli tuh buku. Senangnya! Oh… selama kaki gue melangkah dari rak ke rak buat cari tuh buku, cobaan banget. Mata gue nggak dapat menahan buku-buku yang udah pengen gue comot buat dibeli. Gue itung-itung… ada 8 buku deh kayaknya. Untungnya, hati gue udah mantep. Padahal kalo gue mau bisa aja tinggal buka dompet, ambil debit card deh. Makanya sekarang gue prefer belanja buku dengan cash. Karena itu lebih mudah untuk menahan nafsu gue untuk gila belanja buku! Berhasil! Gue bisa mampir dari rak satu ke rak yang lain hingga detik akhir tiba di kasir pun—gue masih megang-megang buku, dibolak-balik baca sinopsis, perhatiin judul, sama cover. Tapi nggak ada satu pun yang berhasil membatalkan ‘puasa’ gue untuk nggak belanja buku lainnya. Sampe kasir gue serahin buku itu, ya, satu buku aja. Seneng banget deh gue. Ini kali pertama gue bisa melepaskan kecanduan gue ini. Berat banget! Hiks… hiks… abis biasanya gue terlalu mengandalkan kartu-kartu debit didompet gue sih. Perhatian, karena gue tau sifat jelek gue yang nggak bisa menahan untuk belanja buku makanya gue nggak berminat sama sekali untuk menggunakan kartu kredit. Karena ya itu tadi, gue tau kelemahan gue dan gue takut. Takut bisa ngebuat bengkak tagihan yang dateng ke rumah. Kalo debit kan mau gue gesek segila-gilanya yang abis tetep tabungan gue dan kalo udah abis, ya abis aja. Nggak ada ceritanya gue pake ngutang-ngutang ke bank deh. Nggak ada ceritanya juga di awal bulan atau akhir bulan tiba-tiba ada surat tagihan yang dateng ke rumah. So, setelah buku itu dalam genggaman tangan gue dengan tanda lunas, langsung gue ngeloyor ke HERO. Gue beli barang-barang yang udah ditulis didaftar belanjaan. Abis itu gue jalan ke kasir. Tadi di rumah nyokap ngasih duit ke gue 150rban. Tapi uang 150rb bulet, gue selipin di notes kecil yang selalu gue bawa ke mana-mana. Duit lainnya gue taruh didalam dompet. Gue tarik selembar 50rb dari tuh notes. Entah karena keteledoran gue atau emang nggak hati-hati(sama aja ya?) ternyata hilanglah selembar lainnya yang baru gue sadarin pas sampe di rumah. Lunas kan tuh belanjaan. Gue pulang nih ke rumah naek angkot. Ngarah murah, irit, ngurangin polusi juga. Dari pada gue mesti pake mobil cuma buat pergi ke situ doang. Pas gue di angkot, hingga akhirnya pada perhentian ke berapa, gue lupa dan nggak ngitungin, ada penumpang berkelamin cewek 2 orang dengan 1 anak kecil. Salah satu cewek itu duduk di samping gue karena emang tempat duduk deket pintu angkot agak penuh, dan lagi di luar hujan mulai turun rintik-rintik. Kan nggak mau dong kena resiko naek angkot tapi tetep keujanan? Nggak lucu aja. Nah… tinggal anak cewek ama anak kecil itu yang duduknya agak deket ke pintu. Gu perhatiin mukanya tuh cewek. Item, pucet, terus matanya kayak waspada gitu…, tapi ketakutan juga. Entahlah, perasaan gue kali ya, ngeliat sorot matanya yang begitu. Tuh cewek megangin anak kecil itu supaya kagak jatuh. Gue mikir, ‘Kakak yang baik. Protektif sama adiknya, takut kenapa-napa juga kali, ya? Angkot agak penuh gini.’ Saat gue merhatiin tangan kiri tuh cewek yang nggak pernah lepasin tangan tuh bocah, pandangan mata gue menangkap pergelangan tangan si cewek. Bekas luka baret-baret, kayak cacat. Banyak banget. Penuh saling tumpuk tumpang tindih. Sepintas gue mikir kalo pergelangan tangannya tuh cacat karena kecelakaan atau apa gitu. Nggak sengaja saat mata gue ngeliat ke tangan kanannya, sama. Ada bekas luka yang sama tapi nggak sebanyak di tangan kirinya. Otak gue langsung bekerja, menganalisis, dan mengakumulasi. Itungan kali ya, pake acara akumulasi. Konek! Jangan-jangan nih cewek ex drugs user??? Gue sih nggak mau duga yang kagak-kagak. Tapi seinget gue, temen gue yang mantan drugs user pernah bilang kalo orang lagi sakauw terus kagak ada duit, ya terpaksa nyilet-nyilet tangannya buat ngisep darahnya. Karena katanya dengan cara itu ngebantu buat agak meredam rasa sakauw-nya. Gue terhenyak, miris. Masalahnya gue sampe bingung dan nggak bisa menghitung berapa banyak bekas siletan di tangan tuh cewek saking banyak dan numpuk. Gue jadi bergidik sendiri. Gue cuma mikir, kalo emang susah kenapa juga dia mesti make barang-barang begituan? Sekarang ini hidup lagi sulit, ini lagi pake nambah sulit dengan make begituan. Ok, gue nggak mau ngurusin permasalahan orang. Kepo banget. Setelah itu gue cuma bisa bengong aja deh. Mikir buat nanti kayaknya ada topik baru untuk ditulis. Tring! AHA! Sampe di rumah agak gerimis kecil gitu. Gue cerita sama emak gue tadi ngapain aja hingga gue ketemu cewek di angkot dengan tangan bekas baret-baret. Abis naruh belanjaan, gue ngecek ulang duit. Ya Tuhan! OMG! Duitnya ilang goban! Mampus gue! Mampus… mampus… mampus!! Kalo nyokap tau pasti marah banget! Ok… tarik nafas. Tennaaannggg…. Gue tuang semua isi tas, gue udek-udek. Nihil! Apes deh. Terpaksa gue mesti ganti duit nyokap gue. Howwaa… sedih nih gue. Berhasil nahan hawa nafsu belanja, tapi keilangan duit. Huh… sialnya karena kecerobohan gue sendiri sih. Errr… ya…, ganti dah nih. Permasalahan itu sudah lewat. Now, it’s time to read Sitta’s new book! Girang gue. Gue robek plastik pembungkusnya dengan ganas dan memulai dengan menyampuli terlebih dulu tuh buku. Setelah itu, baru gue start berjibaku dengan tuh buku. Baru beberapa halaman gue baca sih. Kesan pertama, inspiring banget bukunya. Membuat gue bangkit untuk melanjutkan nulis jurnal my3rdhouse dan novel gue. Optimis!